
"Mengapa kamu bisa kembali rapuh seperti ini, Jane? Bukan kah kamu pernah berjanji untuk kuat dan melupakan kejadian itu."
Jane yang sedari tadi terus menerus menangis, akhirnya angkat bicara.
"Bukan tentang peristiwa memalukan itu yang membuat saya kembali trauma, Nyonya," timpal Jane lirih.
"Lantas hal apa yang membuatmu kembali trauma?" imbuh Nyonya Rean.
"Aku hanya tidak ingin putraku bertemu dengan tuan brengsek itu," jawab Jane masih terisak.
Mendengar jawaban Jane, sesaat kedua wanita itu terdiam. Nyonya Rean mengerti ketakutan yang dialami Jane saat itu, tidak mudah menjadi seorang ibu tunggal. Apalagi hal tersebut dipaksa oleh keadaan yang mau tidak mau harus dijalani dengan terpaksa dan penuh kesakitan.
Hewan saja tidak akan membuang anak yang nyata sudah dititipkan Tuhan dalam rahim wanitanya. Apalagi seorang manusia yang jelas-jelas jauh lebih sempurna baik akal atau pun tingkah laku. Malah lebih miris tega berusaha membunuh calon janin dari benihnya sendiri bahkan membuang jauh dari negara yang sama sekali belum pernah dikunjungi oleh ibu dari anaknya. Pantas saja jika Tuhan menghukum Aldrich dengan kegagalan dalam pernikahannya bersama Cyril dengan tidak menganugerahi keturunan.
"Iya aku mengerti, Jane. Mungkin sudah seharusnya inilah moment yang tepat buatmu untuk memberi tahu tampan tentang siapa ayah dia sebenarnya," tandas Nyonya Rean.
Jane kembali terdiam, merenungkan ucapan sahabat terbaiknya tersebut. Hatinya kembali mengolah dan mencerna perkataan sahabatnya itu.
"Apa Alex akan mengerti dan paham dengan situasi yang aku alami saat itu?" tanya Jane cemas.
"Anak kamu bukanlah anak sembarangan seperti anak pada umumnya, Jane. Dia adalah anugerah yang sengaja Tuhan berikan kepadamu, untuk menjadi penyemangat, pelengkap kebahagiaan serta kekuatan di saat kamu rapuh. Aku yakin, jika kamu menceritakan semuanya, dia akan semakin menjaga perasaanmu. Dan tidak akan membiarkan pria itu mengganggu hidup kalian."
Kata kata nyonya Rean semakin menguatkan hati Jane saat itu. Dengan sesadarnya ibu satu anak itu bangkit dan menghapus sisa air mata di wajahnya.
"Baiklah, Nyonya. Aku akan memberi tahu Alex tentang siapa ayah dia sebenarnya. Aku tidak berhak merebut mimpi putraku hanya karena masa laluku. Sudah saatnya Alex dikenal di mata dunia. Aku tidak boleh merenggut mimpi besarnya. Keluarga Barayeve harus tahu, mereka telah melakukan kesalahan besar dengan membuang penerus keluarga mereka," ucap Jane dengan kilatan amarah yang terpancar dari dirinya.
"Baguslah, ini baru Jane putriku yang ku kenal."
***
Sepeninggal dari perusahaan, Gordon sengaja membawa sang putra pergi berjalan-jalan di alun alun kota. Meski bocah delapan tahun itu memiliki kelebihan di atas rata rata anak. Dia tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang, perhatian, serta butuh menikmati masa tumbuh kanak kanak dengan baik. Dan hal itu terbukti berusaha sebaik mungkin untuk Gordon penuhi.
Seorang penjual balon yang sedang menjajakan dagangannya di alun-alun, adalah tempat pertama yang dituju oleh Gordon.
"Pak berikan kami, balon!" ucap Gordon.
"Berapa, Tuan?" tanya sang penjual balon.
"Semuanya, Pak!"
"Semua?" tanya nya tidak percaya.
"Iya benar, Pak. Berikan balon itu semua!"
Balon yang berjumlah hampir lima puluh buah itu, kini diberikan oleh si penjual kepada ayah dan anak di depannya, seusai ayah itu membayar semua harga balon dengan jumlah yang lebih.
"Tapi, Tuan, uangnya kebanyakan. Ini lebihnya!" ucap si penjual balon menyodorkan sisa uang lebihan.
"Sisanya untuk Bapak, saja. Terima kasih," Gordon lalu meninggalkan si penjual balon dan berjalan bersama sang putra mengelilingi taman alun alun. Dimana setiap anak kecil yang melintas dan berkunjung, diberi satu balon oleh si genius.
Kini kesedihan yang beberapa saat lalu tampak di wajah tampan sang putra, sudah tidak lagi terlihat. Terganti dengan canda tawa bahagia saat berhasil berbagi dengan anak anak di alun alun tersebut. Sisa balon yang ada di genggaman pun, di lepas ke udara oleh Alexander. Sore yang indah bertabur balon terbang, menghiasi indahnya pusat bermain di kota tersebut. Kesedihan si genius akhirnya sirna.
Sembari menyaksikan moment membahagiakan dari sang putra sore itu. Gordon sengaja mengambil beberapa foto serta video Alexander yang tengah bermain dengan bahagia, dan dikirimkan kepada sang istri tercinta.
Juga termasuk moment saat Gordon memanggil beberapa penjual makanan kecil serta es dan memborong habis dagangan mereka. Berbagi kepada semua pengunjung yang ada di alun alun kota sore itu. Tak hanya itu, para orang tua yang sudah tidak asing dengan wajah si genius pun meminta bocah tersebut untuk berswafoto bersama mereka.
Jane yang sedang menunggu kepulangan kedua pria kesayangannya, sengaja pulang ke apartemen dan menyiapkan makan malam untuk mereka berempat. Melalui ijin khusus dari sang pemilik GD COMPANY, Nyonya Rean pun bebas tugas dan pulang kerja lebih awal, bersama Jane.
"Terima kasih, Daddy. Hari ini aku senang sekali," ucap si genius memeluk tubuh ayah sambungnya yang tengah duduk di bangku taman.
"Iya, sayang. Daddy akan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu. Daddy sangat menyayangimu," balas Gordon menyambut pelukan sang putra.
Hanya seorang pria yang tulus saja yang mampu menerima kehadiran putra dari wanita yang dicintainya. Menerima dengan ikhlas dan berusaha semampu mungkin untuk membahagiakan mereka tanpa mengungkit masa lalu dari pasangan. Itulah makna cinta yang sebenarnya dalam sebuah hubungan. Kepahita. yang dialami Jane delapan tahun silam, sedang dicicil oleh Gordon dengan kebahagiaan.
"Apa Mommy masih sakit, Dad?" bocah genius kembali murung mengingat sang ibu.
"Mommy sedang menunggu kita di rumah, bersama Oma Rean sayang."
"Really?" si genius kembali ceria mendengar kabar baik tersebut.
Dan sesegera mungkin Alexander menarik tangan Gordon dan memintanya untuk segera pulang ke apartemen.
***
BERSAMBUNG...