
Di dalam kamar vila, Daren merawat Jane dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Ia menjaga Jane beserta Alexander layaknya penjagaan seorang ayah terhadap keluarganya. Sementara rencana untuk kembali pulang di sore hari, sepertinya harus tertunda. Sebab Daren meminta ijin kepada sang kakak, untuk tidak ikut kembali pulang. Dan memilih merawat Jane di perkebunan teh selama satu dua hari, sampai kaki Jane sedikit membaik. Dan akhirnya malam itu Gordon kembali seorang diri dengan perasaan kecewa dan cemburu yang sangat besar.
***
"Ceraikan aku, sekarang juga! Aku sudah tidak sanggup melanjutkan pernikahan ini. Ucapan Mama kamu setiap hari selalu menyudutkan ku. Sementara aku sendiri menurut dokter dalam keadaan subur dan sehat semuanya."
Gertak Ciryl menyodorkan sebuah map berisi gugatan perceraian yang sudah ia persiapkan beberapa hari yang lalu kepada Aldrich Barayeve. Pria yang baru saja memimpin rapat penting di perusahaan itu pun terdiam, membaca tiap kalimat dalam isi surat yang kini dibacanya.
"Maaf kan Aku Cy, Aku tidak bisa mengabulkan permintaan kamu ini. Semua bukan salah kamu, sudah saat nya Aku mengatakan dan menjelaskan semuanya kepada Mama."
Mendengar jawaban yang sungguh di luar dugaannya, mulut Cyril ternganga. Sebab sudah sejak lama ia ingin mengorek dan mengetahui apa rahasia besar dari masa lalu suaminya yang selama hidup dengannya, hampir setiap malam selalu mengigau nama seseorang namun ia tidak sempat mendengar dengan lebih jelas, sebab Aldrich seketika terjaga dari tidurnya dan selalu saja memilih tidur di kursi kerja seusai bermimpi.
"Tenang, Cy. Sepertinya keingintahuan kamu akan segera terjawab, tentang masa lalu Aldrich. Setelah itu kamu bisa hidup bebas bersama Adden," batin Cyril tersenyum kemenangan.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, hiksss....!" Cyril mulai berakting beradegan sedih dengan berpura-pura menangis.
Aldrich beranjak dari kursi kerjanya dan memeluk Cyril, mendekap erat tubuh sang istri dengan menepuk pundaknya secara lembut. Berusaha menenangkan hati wanita yang sudah mendampingi hidupnya selama delapan tahun ini.
"Maafkan Aku, Sayang!" bisik Aldrich lembut di telinga Cyril. Sekali lagi wanita dalam dekapan Aldrich itu tersenyum kegirangan.
"Yess....! Akhirnya Kamu berhasil membuat pria ini simpati dan tidak rela melepaskan mu, Cy."
Hingga sore tiba, Cyril masih tetap berada di ruang kerja sang suami. Sengaja menghabiskan waktunya untuk mengambil hati Aldrich, agar melakukan pembelaan terhadap dirinya di hadapan sang ibu mertua, yang rupanya sudah mulai mencium perselingkuhan nya bersama Adden.
Setelah berjibaku dengan tumpukan map yang baru saja selesai Aldrich tanda tangani, kini pria itu menuntun tangan Cyril lembut meninggalkan ruang kerjanya, berjalan melewati para staf dan karyawan. Sampai di rumah, jam sudah menunjuk pada pukul delapan malam, waktu setempat.
"Dari mana saja istrimu, jam segini baru pulang. Selalu saja pergi dengan tujuan tidak jelas, menghabiskan uangmu saja," dengus nyonya Madison menyindir, bagai seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
"Seharian dia ada bersamaku, Ma. Mama tidak perlu khawatir dan curiga kepadanya," sahut Aldrich membela sang istri.
"Cukup, Ma! Mama duduklah! Aldrich ingin mengatakan sesuatu kepada Mama."
Suara kencang Aldrich, membuat nyonya Madison terpaksa kembali duduk dengan perasaan kesal.
Cyril yang masih menempel di pundak sang suami, segera melepas lengan Aldrich dan duduk berjauhan dari nyonya Madison. Sementara pria yang hendak berbicara itu juga ikut duduk di antara kedua wanita tersebut.
Sejenak suasana mendadak hening, hanya ada suara dentingan jarum jam dari jam dinding besar yang berdiri di sudut ruang keluarga. Sedangkan kemarahan masih terlihat jelas dari wajah Nyonya Madison terhadap sang menantu.
Aldrich terlihat bingung hendak memulai percakapannya dari mana, sebab pria ini berharap, setelah Cyril mengetahui semua rahasia besarnya masih bersedia hidup bersama nya, mengarungi biduk rumah tangga meski tanpa kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Pria ini pun mengambil napas panjang dan mengaturnya. Wajah tegang terlihat jelas dari raut muka Aldrich saat itu.
"Sebelumnya Aldrich minta maaf kepada Mama dan kamu, Cy." suara berat Aldrich memulai percakapan.
Nyonya Madison beserta Cyril, saling menatap satu sama lain. Sama-sama sudah tidak sabar menunggu suara Aldrich kembali. untuk menjelaskan sesuatu.
"Sebenarnya....!" Aldrich masih menggantung ucapannya santai. Namun kedua wanita di sampingnya sudah tidak sabar menunggu kelanjutan cerita Aldrich Barayeve.
"Sebenarnya, Aku sudah punya anak, Cy. Dan Mama pun juga baru beberapa waktu yang lalu mengetahuinya," cerita Aldrich.
"Anak....!" suara kaget Cyril melengking seketika saat itu.
"Anak apa, dengan siapa?"
***
BERSAMBUNG....