
Irlandia....
"Ini berkas yang Tuan minta," ucap Fiola menyodorkan sebuah map warna biru kepada atasannya.
"Letakkan saja!" balas Daren masih tak bergeming dari menandatangi berkas-berkas.
"Baik, Tuan!" Fiola pun keluar meninggalkan ruangan Daren dengan kesal.
"Aku doakan semoga berkas yang kamu tanda tangani itu salah. Songong banget menoleh pun tidak," gerutu Fiola geram.
Masih dengan perasaan kesal, Fiola kembali ke mejanya. Dengan mulut komat kamit mengucap cacian kepada Daren.
"Gorrr, kenapa bukan kamu yang di sini, kenapa harus adik mu yang super menyebalkan sombongnya selangit itu. Huuuuuuuuhhh....!" maki Fiola kesal mengeratkan kedua rahangnya.
"Ekspresi apa pula itu, pasti dia sedang menyumpahi ku," gumam Daren menatap layar laptopnya yang rupanya diam-diam terhubung dengan kamera CCTV dengan meja Fiola.
"Dasar sekertaris sok kecakepan, kalau bukan bawaan kak Gor pasti sudah aku kirim mulut bawelnya itu ke Afrika biar dimakan beruang Afrika," gumam Daren tak kalah kesal.
Meski Daren dan Fiola acap kali menghadiri acara perusahaan berdua, namun sampai sejauh tiga bulan terakhir ini sama sekali belum terlihat tanda-tanda kedekatan. Sama-sama menunjukkan kekesalan akan keras kepala dari sifat masing-masing.
Bahkan demi kenyamanan nya dalam bekerja, diam-diam Fiola sering menghubungi Gordon untuk bertanya tabiat serta kesukaan Daren agar tidak berselisih paham selalu.
"Daren itu orangnya baik, humble, dan welcome ke siapa saja Fi. Jadi kamu harus bersabar ya menghadapi sifat dia yang sekarang," begitulah pesan yang Gordon sampaikan kepada Fiola saat terakhir kali mereka berkomunikasi.
Siang yang indah namun sedikit terik di kota Dublin, Daren sedang keluar dari ruangannya untuk keluar makan siang. Seperti biasa meski dirinya dan Fiola jarang sekali akur, namun ia sering kali mengajak sang sekertaris tersebut untuk keluar makan siang atau pun meeting di luar bersama klien.
"Buruan!" ujar Daren membenahi kancing jasnya seraya berjalan melewati meja Fiola.
"Baik, Tuan!" sahut Fiola bergegas mengekor di belakang mengejar langkah Daren yang layaknya pembalap.
Karena saking tergesa-gesa demi menghindari pertengkaran dengan sang atasan, siang itu Fiola berjalan setengah berlari mengejar ketertinggalan langkahnya namun tiba-tiba ia terjatuh, kakinya tergelincir yang membuat terkilir.
"Auwwww!" pekik Fiola mengaduh kesakitan memegangi lututnya yang terluka.
"Ayo Fi, sebentar lagi jalanan mulai macet. Ngapain kamu duduk bersantai di situ?" teriak Daren.
"Hah? Aku yang jatuh dibilang duduk. Apa tuan songong itu matanya tidak melihat dan kupingnya tidak mendengar pekikan ku kah?" batin Fiola menggerutu sangat kesal.
Fiola mengusap luka dilututnya dengan tisu yang ia ambil dari dalam tas. Sedikit darah keluar dan terasa perih. Namun Fiola tetap berusaha melanjutkan langkahnya karena mengingat waktu yang ia lirik dari arloji ditangannya telah merujuk jam istirahat kantor yang sering terjadi kemacetan di jam tersebut.
"Kaki kamu kenapa? kok jalan kamu aneh begitu?" tanya Daren tanpa memperhatikan lutut Fiola yang terluka.
"Apa Tuan CEO yang terhormat tidak melihat apa, kalau gara gara mengejar anda saya terjatuh. Lihat nih kaki saya terluka gara gara anda!" jawab Fiola menggerutu kesal.
"Oh jadi barusan kamu terjatuh?" Daren kembali bertanya tanpa merasa bersalah atau peduli.
Dan pertanyaannya pun tidak dijawab oleh Fiola.
Fiola membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang, karena malas harus duduk satu tempat dengan pria menyebalkan di dekatnya itu.
"Siapa suruh kamu duduk di belakang? cepat pindah di depan, atau aku paksa kamu!" ancam Daren.
***
Di negara yang berbeda, di waktu yang sama. Siang itu Jane sengaja membuat bekal makan siang untuk sang suami. Dan ia sengaja meluangkan waktu untuk pergi ke perusahaan ingin makan siang bersama suami tercinta.
"Mudah-mudahan dia menyukai masakan ku," gumam Jane sembari menata hasil olahannya ke dalam kotak makan.
Seusai menata makanannya, Jane segera bergegas bersiap dan mengganti pakaian. Dengan mengenakan pakaian cassual setelan jeans serta kaos lengan panjang serta rambut yang diikat ke belakang, semakin menambah aura kecantikan Jane siang itu. Penampilannya pun mampu menarik perhatian para karyawan Gordon.
"Selamat siang, Nyonya!" sapa resepsionis yang berjaga dengan membungkukkan badan.
"Selamat siang juga!" balas Jane melayangkan sebuah senyuman.
"Nyonya Jane semakin terlihat muda saja ya setelah menikah dengan Tuan Gordon," celetuk resepsionis satunya sepeninggalan Jane.
Selamat siang Nyonya!" sapa kembali dari sebuah suara yaitu sekertaris Gordon.
"Apa Tuan ada di ruangan?" tanya Jane menunjuk ruang sang suami.
"Kebetulan Tuan Gor sedang tidak ada tugas di luar kantor Nyonya, beliau ada di dalam. Silahkan masuk, Nyonya!" sekertaris Gordon membuka kan pintu ruangan Gordon untuk Jane.
"Terima kasih!" ucap Jane berlalu memasuki ruangan.
Melihat suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya, Gordon yang sibuk dengan layar laptopnya pun beralih menatap sosok wanita yang baru saja memasuki ruangannya.
"Surprise....!" ujar Jane melebarkan senyum berjalan menuju meja sang suami.
"Hei, sayang. Kejutan yang menyenangkan sekali."
Gordon beranjak bangun menyambut Jane dengan sebuah pelukan dan kecupan di bibir sang istri. Begitu pun dengan Jane, dengan manjanya bergelayut menyambut pelukan Gordon. Saking senangnya dengan kejutan yang diberikan oleh sang istri, Gordon menggendong tubuh Jane dan membawanya berputar-putar. Suara riuh tawa pun pecah terdengar membahana di ruangan utama GD COMPANY.
"Aku senang sekali kamu datang mengunjungi ku, terima kasih sayang. I Love You."
Setelah puas menggendong tubuh Jane, wanita itu pun duduk di kursi kebesaran milik sang suami. Meletakkan kotak bekal yang dibawanya di atas meja. Gordon duduk di sudut meja sembari tak hentinya menatap wajah sang istri siang itu yang memang terlihat begitu sangat menggoda.
"Sayang masak apa hari ini?" ucap Gordon seraya membuka kotak bekal di depannya.
Masakan sederhana yaitu steak daging beserta kentang kukus dan sayuran, sengaja Jane menghindari minyak karena ia sangat mengontrol pola makan sang suami. Agar selalu tampil prima.
"Hemmmm...., harum sekali. Pasti sangat lezat," tukas Gordon mencium kotak bekal tersebut.
Melihat antusias rasa lapar yang ditunjukkan oleh sang suami, siang itu Jane pun bersemangat untuk menyuapi Gordon dengan segenap kasih sayang. Dan keduanya menikmati makan siang berdua yang sederhana namun keromantisan tetap tercipta di dalamnya.
***
BERSAMBUNG....
ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKAATUH, MOHON MAAF ATAS KETERLAMBATAN UPDATE NYA KAKA. IN SYAA ALLAH SELAGI TIDAK SIBUK DI RL, AKAN SAYA USAHAKAN SELALU UPDATE.
TERIMA KASIH BANYAK KARENA MASIH SETIA MENUNGGU UPDATE CERITA INI🙏🥰