Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Ungkapan Sedih Daren



Dua orang yang masih ada di dalam ruang kamar perawatan, tampak sedang berbincang tentang kepergian Gordon karena tidak menunggu Alexander bangun.


"Uncle Gor sedang terburu-buru ada meeting pagi ini sayang!" ujar Jane beralasan.


Sementara kabar kecelakaan Jane semalam sudah ditangani oleh pihak kepolisian. Bahkan mobil yang ditumpangi Jane juga sudah berhasil diamankan dan dibawa ke bengkel atas perintah Gordon. Tak hanya itu saja, kabar kecelakaan itu juga sudah diendus oleh pihak media. Beberapa orang reporter tampak berdiri antri untuk masuk ke ruangan Jane dan Alexander dirawat. Guna meminta penjelasan kronologi kecelakaan pasca badai salju yang terjadi semalam.


Daren yang baru saja sampai beberapa meter dari kamar perawatan ibu dan anak tersebut kebingungan, sebab untuk apa para wartawan berdiri di sana.


"Untuk apa mereka semua berkumpul di sana?" gumam Daren mempercepat langkah menuju kamar tersebut. Menghalau para wartawan dan menerobos masuk.


"Tuan, Tuan, Tuan! Mohon jelaskan kejadian yang menimpa si genius semalam!" teriak beberapa wartawan.


Daren segera mengunci pintu kamar perawatan tersebut setelah berhasil masuk. Ibu dan anak yang sedang tertidur itu tiba-tiba bangun karena kaget akan suara kerasnya pintu yang ditutup Daren. Bahkan Daren juga menutup semua tirai yang ada di kamar tersebut. Jane dan Alexander yang baru saja terjaga kebingungan. Suara riuh para wartawan mulai terdengar dari dalam.


"Sejak kapan kamu di sini? Dan kenapa kamu tutup semua? Lalu orang-orang di luar itu siapa?" tanya Jane.


Daren menghampiri brankar Jane, namun sebelumnya ia menghampiri si bocah genius seraya menghadiahi bocah tampan itu sebuah kecupan hangat di pucuk kepala nya. Oleh-oleh yang ia bawa beserta bunga juga sudah ditata di atas meja.


"Selamat pagi, maaf aku baru tahu kabar kecelakaan kalian barusan. Semalaman aku berusaha menghubungi kalian bertiga namun tidak ada yang aktif," ujar Daren mulai bersuara.


"Pagi!" sahut Jane datar.


"Mana Uncle Gor?" tanya Alexander.


"Maaf tampan, Uncle Gor harus segera ke perusahaan. Ada meeting pagi ini," jawab Daren berbohong.


"Siapa mereka?" desak Jane.


"Entah dari mana datangnya paparazi itu. Pagi-pagi sudah ada di depan kamar kalian. Untung saja aku berhasil menerobos masuk," timpal Daren.


Untuk sejenak ruang perawatan itu terlihat hening, hanya suara ribut di luar pintu yang terdengar. Begitu pun dengan si bocah genius yang masih terbaring sambil bersandar di balik bantalnya. Juga terlihat diam membisu, sebab yang ia tunggu adalah kehadiran Gordon.


"Maafkan sikap Kakak ku semalam. Aku tahu kalian sama-sama saling mencintai, namun karena Kak Gor sangat menyayangiku. Ia tidak ingin menyakitiku dan sengaja menjauhi kamu. Tapi asal kamu tahu juga, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu Jane," celetuk Daren tiba-tiba.


"Aku akan merelakan perasaanku demi kebahagiaan kalian. Aku sadar meski kita sering menghabiskan waktu bersama, namun tetap saja aku tidak bisa memiliki hati mu. Hati kamu sudah dimiliki oleh Kakak ku. Aku tidak akan lagi menjadi penghalang untuk cinta kalian, semoga kalian berbahagia."


Begitulah ungkapan Daren pagi itu mewakili isi hatinya. Meski rasa cinta yang ia milik kepada Jane sangatlah besar, namun ia tidak ingin menjadi pria egois yang menutup mata bahwasannya wanita yang dia cintai ternyata menyimpan satu nama dalam hati sudah sejak lama yaitu nama sang kakak tercinta.


Ternyata diam-diam selama ini Daren berusaha mencari tahu tentang kedekatan Jane bersama sang kakak. Dan dari sana lah ia tahu bahwa sang kakak pernah menjadi dewa penyelamat bagi Jane tepat delapan tahun silam. Kejadian yang tidak disengaja itulah akhirnya Tuhan pertemukan keduanya kembali dalam situasi yang sudah berbeda.


Tampak Jane mulai terisak mendengar kelanjutan ungkapan Daren. Wanita yang tengah dibalut kepalanya itu makin kencang tangisnya saat Daren mengucap ikhlas dan akan pergi untuk beberapa waktu melupakan kenangan Jane. Meski selama ini Daren berusaha sekuat tenaga mengambil hati ibu satu anak tersebut namun tidak bisa dipungkiri seluruh hati Jane hanya untuk sang kakak. Dan kali ini ia yang akan pergi agar sang kakak tidak merasa bersalah. Sebab Daren tahu persis watak sang kakak yang akan merelakan kebahagiaan demi kebahagiaan dirinya.


"Terima kasih! Hiksss...., aku juga menyayangimu sebagai sahabat. Aku doakan semoga bertemu dengan wanita yang tepat," ucap Jane mendoakan diselingi Isak tangis yang tak henti berurai.


Sedangkan bocah kecil yang terbaring di atas brankar, hanya menjadi pendengar yang baik di ruangan tersebut. Setelah sang Mommy berhenti menangis, Alexander meminta Daren untuk membuka pintu agar para wartawan dipersilahkan masuk.


"Tolong Uncle bawa mereka masuk, tapi mohon tertiblah demi kenyamanan pasien lainnya Uncle," seru Alexander.


"Tampan yakin akan memberi mereka ijin masuk dan melakukan wawancara?" tanya Daren meyakinkan Alexander. Dan bocah genius itu pun mengangguk.


Jane mengusap sisa air mata yang menempel di wajahnya, kemudian Daren membuka pintu serta meminta agar para paparazi itu untuk melakukan wawancara dengan tertib. Pagi itu Daren mencoba mendampingi putra Jane melakukan wawancara dengan wartawan walau dalam hati sebenarnya saat itu hancur berkeping-keping. Namun ia harus ikhlas dan merelakan semuanya demi kebahagiaan sang kakak dan wanita yang dicintainya.


***


BERSAMBUNG...