
Gordon mengajak Daren pergi makan siang di luar, karena sudah lama sekali kakak beradik ini menghabiskan waktu bersama, sebab Gordon selalu sibuk dengan perjalanan bisnis, yang membuatnya jarang pulang.
Restoran yang dikunjungi mereka, rupanya bersebelahan dengan kampus Alexander. Di mana saat hendak memasuki restoran, mata Gordon sempat menangkap sosok wajah yang baru saja ia temui di kantor.
"Sedang apa dia di kampus itu?" batin Gordon, terus mengamati Jane yang baru saja keluar dari kampus bersama seorang bocah laki-laki.
"Itu kah anak yang ia lahirkan dulu?" batin Gordon kembali, mengamati bocah kecil yang sedang digandeng Jane.
Pandangan Gordon terhenti, saat Jane dan putranya memasuki sebuah taksi. Dan ia pun segera masuk ke dalam restoran, di mana Daren sudah terlebih dulu duduk dan memesan meja di lantai atas.
"Lama sekali Kak?" tanya Daren menatap kehadiran sang kakak.
"Iya maaf, ada panggilan mendesak barusan. Sudah pesan kah?" Gordon mendudukkan bokongnya di kursi, dan membuka satu kancing jasnya.
"Sudah Kak!" jawab Daren, tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Dan siang itu kedua pria tampan itu menikmati makan siang dengan lahapnya, seraya saling bercerita tentang aktifitas masing-masing selama mereka berjauhan.
"Menurut Kakak, bagaimana dengan Jane? Apa kakak tidak keberatan jika aku mendekatinya?"
Pertanyaan Daren yang mengagetkan itu, membuat Gordon tiba-tiba tersedak saat menyesap kopi miliknya.
"Uhuk....!"
Wajah Gordon seketika memerah, karena tersedak, pertanyaan Daren entah mengapa tiba-tiba membuatnya kaget dan seperti merasakan sesuatu yang tidak rela. Sebuah perasaan aneh menurut Gordon. Sebab selama hidupnya, ia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kepada seseorang wanita. Seluruh waktu dan masa mudanya ia habiskan untuk meneruskan perusahaan warisan dari kedua orang tuanya, pasca insiden kecelakaan yang menimpa ayah dan ibunya, sejak ia duduk di bangku kuliah, S1.
Daren berusaha membantu sang kakak, dengan menepuk punggung Gordon. "Maaf Kak!" ucapnya.
Flashback on...
"Uh..., uh..., uh..., tolong!" lenguh seorang wanita dengan perut membesar, berjalan di tengah malam. Mencoba menghentikan sebuah mobil yang melintas. Di mana sudah hampir satu jam wanita itu mencegat taksi atau pun kendaraan yang lewat. Hanya sebuah mobil mewah warna hitam yang kebetulan melintas, dan karena kasihan akhirnya pria pemilik mobil warna hitam tersebut turun, dan menghampiri wanita yang sudah bersimbah darah dari jalan lahirnya.
"Tu- Tuan, tolong antar Saya ke rumah sakit. Anak ini harus lahir, tidak boleh terjadi sesuatu kepadanya," pinta Jane saat itu dengan suara tertatih menahan sakit yang teramat. Serta peluh yang bercucuran sebesar biji jagung, dari keningnya.
"Baik!" Tidak banyak bicara Gordon malam itu, segera membopong tubuh wanita yang sama sekali belum ia kenal. Membawanya masuk ke dalam mobil. Dan mengantarnya ke rumah sakit.
Bayangan akan kedua orang tuanya yang bersimbah darah saat insiden kecelakaan, terekam kembali dalam ingatannya. Hal itu lah yang membuat Gordon bersedia menolong wanita yang sama sekali belum ia kenal sebelumnya.
Sesampainya di rumah sakit besar yang ada di kota tersebut, Jane segera dibawa ke ruang IGD. Bahkan dokter mengatakan bahwa wanita yang tengah hamil besar tersebut, sudah banyak kehilangan darah dan membutuhkan donor darah saat itu juga. Sementara golongan darah yang sama dengan Jane, kebetulan sedang kosong. Setelah mengetahui jenis golongan darah yang dimiliki Jane adalah sama dengan dirinya, maka Gordon pun serta merta saat itu juga menawarkan dirinya kepada sang dokter, untuk menjadi pendonor bagi Jane dan bayinya.
Flashback off...
"Maaf kan Daren, Kak," ucap sang adik, seusai menepuk punggung Gordon. Dan kembali ke kursinya.
"Bukan salah kamu, Kakak yang tergesa-gesa menyesap kopi panas itu," kilah Gordon berusaha menutupi kejanggalan sikapnya saat itu.
Tak lama kemudian kakak beradik itu pergi meninggalkan restoran, seusai makan siang. Dan kembali ke perusahaan bersama-sama.
****
BERSAMBUNG....