Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Sadarnya Jane



Hampir satu jam menunggu, hasil pemeriksaan CT SCAN Alexander dan Jane akhirnya keluar. Dokter memanggil Gordon selaku perwakilan keluarga. Dan menjelaskan secara rinci hasil pemeriksaan tersebut.


"Untuk pemeriksaan ananda Alexander, kebetulan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya cukup dirawat di sini hingga luka di dahinya pulih," ujar dokter Alice.


"Lalu hasil Jane, Dok?" tampak Gordon sudah tidak sabar menunggu.


Dokter Alice tersenyum melihat ekspresi wajah Gordon yang terlihat sangat khawatir, "Apa Anda suami pasien?" timpal dokter Alice.


"Bukan Dok, Sa- saya hanya keluarga dekat mereka berdua saja," sahut Gordon gugup.


Dokter Alice kembali tersenyum kepada Gordon, "Sepertinya Anda sangat mencintai pasien. Sampai-sampai di situasi berbahaya seperti ini Anda menerobos membahayakan diri sendiri." ujarnya.


"Iya benar itu Dok, tapi Dok, bagaimana hasil pemeriksaan otak Jane? Dia baik-baik saja kan? Tidak akan terjadi amnesia atau apa pun?" cecar Gordon khawatir.


"Tenang saja Tuan. Beruntung sekali pasien tidak mengalami hal yang serius di otaknya. Hanya saja pasien harus menjalani rawat inap di sini sampai kondisi dan luka di kepalanya sembuh."


Gordon mengangguk mengiyakan perkataan sang dokter. Sembari berbincang beberapa hal tentang kondisi Jane dan Alexander, kedua pasien tersebut telah dipindahkan ke ruang perawatan. Tak lama kemudian Gordon pun ikut menyusul mereka.


Karena tidak ada indikasi penyakit yang mengharuskan Jane dirawat di ruangan khusus, maka pihak rumah sakit meletakkan anak dan ibu tersebut dalam satu ruangan sesuai permintaan Gordon.


Kini pemilik GD COMPANY itu sendiri yang berjaga merawat Jane beserta Alexander. Ada perasaan bersalah yang menggelayut di hati Gordon karena akhir-akhir ini seolah mempermainkan perasaan Jane. Namun peristiwa yang Jane alami malam itu sepertinya membuat pemilik GD COMPANY tersebut berjanji tidak akan menjauhi Jane lagi. Apa pun yang akan terjadi nantinya, ia siap untuk menghadapinya bersama Jane.


"Tampan, apa kau pusing?" tanya Gordon mengusap pucuk kepala bocah genius tersebut. Duduk di brankar di samping Alexander.


"Tidak Uncle. Mommy kenapa masih belum mau membuka mata Uncle? apa Mommy marah sama Alex?"


Tampak kesedihan yang tersirat di wajah bocah genius itu, melirik pada brankar sang mommy di samping brankarnya. Ada perasaan takut kehilangan dalam diri Alexander, sebab hanya Jane lah yang ia punya di dunia ini.


"Kata dokter, kemungkinan besok Mommy Alex akan siuman. Jadi kita doakan saja ya sayang? Uncle tahu tampan sangat menyayangi mommy dan takut kehilangan nya. Uncle juga begitu sayang. Kalian adalah orang yang sangat Uncle sayangi," balas Gordon.


Pria yang duduk di samping Alexander itu memeluk bocah tersebut sembari menitikan buliran air bening dari manik coklatnya. Keduanya hanyut dalam kesedihan, berharap Jane segera membuka mata. Malam itu Gordon menemani Alexander hingga bocah genius itu tertidur lelap.


***


Di ruang perawatan yang berisi tiga orang, terlihat Jane yang baru saja mengerjapkan kedua bola matanya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dengan kepala yang masih terasa sakit dan sedikit berat karena terasa berkunang-kunang. Sementara jarum jam menunjuk ke arah pukul tujuh pagi.


Pandangan Jane terhenti di brankar tepat di samping brankarnya, saat melihat anak kecil beserta seorang pria tertidur di sana. Jane berusaha mengingat apa yang terjadi dengannya semalam. Meski kepalanya terasa sakit untuk mengingatnya. Samar-samar kejadian ia bersama Gordon di toilet kembali terekam hingga saat ia mengambil paksa Alexander dari tangan Daren juga ketika mengendarai mobil dengan kecepatan kencang saat badai salju turun. Semua kembali Jane ingat.


"Sayang, Alex!" ucap Jane seketika saat berhasil mengingat sang putra.


Jane pun berusaha mengahmpiri brankar di sampingnya, namun suara teriakan Jane pagi itu rupanya membangunkan Gordon dari tidurnya. Pria yang baru saja terjaga itu mengucek matanya dan bibirnya berurai senyum melihat wanita yang dicintainya sudah bangun dan sadar.


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga!" ucap Gordon gembira, seraya meloncat ke brankar yang ada di sampingnya.


Gordon berusaha mendarat kan ciuman ke kening Jane, namun wanita cantik itu sepertinya masih memendam kekesalan serta amarah kepada pria di hadapannya. Membuang muka dan membelakangi Gordon. Sadar akan kesalahan yang telah ia perbuat, maka Gordon berlutut di lantai, memohon maaf kepada Jane.


"Sayang, aku tahu perkataan ku telah menyakiti hatimu. Tapi aku mohon percayalah, tidak mudah buatku melakukan semua itu. Semua sangat sulit dan membuatku tidak bisa memilih antara kalian berdua. Aku sangat menyayangi kalian. Apa aku harus menjadi kakak yang egois untuk adik ku sendiri?" ucap Gordon memelas.


"Aku harap mengertilah posisiku, maafkan aku!" tambahnya.


Air mata kembali membasahi wajah cantik Jane, "Lantas dengan perasaanku aku harus diam saja menjadi bahan candaan serta piala bergilir bagi kalian, begitu?" teriak Jane terisak.


"Ini hati bukan mainan Tuan, jika Tuan tidak bisa menjalani hubungan ini biarkan aku sendiri dan jangan pernah ganggu lagi kehidupan ku." ujar Jane.


"Tuan tenang saja, aku bukanlah tipe wanita yang tidak tahu balas budi. Aku tetap akan mengijinkan putraku bertemu kalian, sebab bagaimana pun juga Alex sangat menyayangi kalian. Aku tidak ingin menjadi ibu yang egois, hanya karena kekecewaan yang aku alami, mengorbankan kebahagiaan putraku sendiri," imbuh Jane masih tak bergeming menoleh ke arah Gordon yang berlutut di lantai.


Entah ini jalan yang terbaik yang diambil oleh Jane atau bukan, yang jelas untuk saat itu hati Jane masih kecewa terhadap sikap Gordon. Mungkin dengan begini akan membuat pria pemilik GD COMPANY itu berpikir bahwasannya perasaan tidak bisa dipaksakan. Walau hal itu membuat hati Jane sakit, tapi itulah hukuman yang harus Gordon terima agar bisa lebih berpikir dewasa.


Gordon terpaksa menerima sikap acuh wanita yang dicintainya dengan lapang dada. Sepenuhnya ia juga sadar bahwasannya apa yang ia lakukan kemarin terhadap Jane di toilet sungguh sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang CEO yang bermartabat seperti dirinya, sungguh sebuah sikap yang sangat pecundang sekali. Dan penolakan yang dilakukan Jane adalah hukuman yang pantas untuk dirinya.


***


BERSAMBUNG...