Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Batin Aldrich Mulai Tergugah



"Sayang, kata resepsionis mereka juga kurang tahu soal penyewaan apartemen. Hanya saja mereka memberiku kartu nama, ini!" Gordon menyodorkan sebuah kartu nama berwarna silver kepada sang istri.


"Adden!" gumam Jane membaca nama yang tertera pada kartu nama.


Sebelum pasangan suami istri itu menghubungi kartu nama pemberian resepsionis. Mereka bergegas masuk ke dalam kamar. Setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam, tubuh Jane mulai terasa lelah. Begitu pun dengan Gordon dan si genius.


"Aaaahhh....! si genius merebahkan tubuh di atas kasur.


"Akhirnya sampai juga ya Dad. Mommy, Alex istirahat dulu ya," bocah genius itu kembali terjaga dan meninggalkan ruangan kamar sang ayah dan ibu. Pergi ke kamar yang bersebelahan dengan kamar nya.


"Kenapa harus ke kamar itu sayang, di sini saja ya! Kan kita bisa tidur bertiga barengan," timpal Jane sebelum sang putra benar benar meninggalkan kamar.


"Tidak apa-apa Mom, biar Alex tidur di kamar sebelah. Mommy tidak perlu khawatir, aku sudah besar bisa jaga diri," tandas si genius.


Begitulah sifat Alexander yang hampir memiliki kemiripan dengan Gordon. Sekali memiliki kemauan, sangat sulit dicegah. Karenanya Jane pun akhirnya mengiyakan walau sebenarnya ia sangat khawatir jika orang suruhan Aldrich akan menculik Alexander.


"Tidak usah khawatir begitu sayang, aku sudah mempersiapkan semuanya. Orang orangku tengah berjaga dari kejauhan. Tidak ada satu tangan pun yang akan sampai padanya."


Pernyataan Gordon akhirnya membuat hati Jane tenang dan bisa bernapas dengan lega. Setidaknya sang suami benar benar akan melindungi dirinya beserta sang putra dari ketakutannya.


***


Pagi yang indah dihiasi kemilau cahaya keemasan beserta desiran hembusan bayu yang mulai menyusup ke balik selimut. Menyambut datangnya hari yang menegangkan bagi Jane. Di depan khalayak ramai ia akan mendampingi sang putra menatap dunia dengan lantang. Tuhan akhirnya memberitahu seisi dunia bahwa wanita beserta sang putra yang terbuang bagai seonggok sampah kini telah kembali.


"Kamu harus siap Jane. Jika dia tahu kembalinya dirimu dalam versi lain, harusnya kamu busungkan dada bukan menundukkan kepala!" batin Jane menguatkan hati.


Pagi itu keluarga kecil Jane tengah bersiap rapi menuju kampus. Seremonial penyambutan akan segera dilangsungkan pukul sepuluh pagi waktu setempat. Tampak bersinar wajah si genius kala itu. Dengan setelan jas warna navy Alexander terlihat sangat tampan. Dan seusai bersiap mereka segera berangkat menuju kampus dengan mobil jemputan khusus.


"Tampan, apa kamu sudah siap sayang?" tanya Gordon yang duduk bersebelahan dengan sang putra


"Iya Daddy aku siap. Di depan semua di kota kelahiran Mommy, akan aku tunjukkan siapa Alexander putra Jane yang sekarang," jawab Alexander antusias.


"Bagus, itu baru namanya anak Daddy. Penerus Daddy tidak boleh menjadi lelaki yang lemah, harus kuat, berani dan tegas!" begitulah obrolan ayah dan anak pagi itu di dalam mobil.


Gerbang utama kampus tempat Alexander akan menimba ilmu selama dua pekan terlihat begitu indah dengan hiasan bunga, balon, serta bunga papan ucapan selamat datang. Jajaran mahasiswa yang bertugas sebagai penanggung jawab acara juga tampak sangat sibuk. Dan benar saja, beberapa awak media pun mulai berdatangan menghampiri saat mobil yang ditumpangi Alexander bersama kedua orang tuanya berhenti di halaman kampus.


"Al, semua jadwal kamu hari ini benar-benar sudah kamu pending kah?" tanya Nyonya Madison saat mobil yang dikendarai sopir pribadinya hampir sampai di kampus.


"Mama tenang saja tidak usah khawatir soal meeting, Al hari ini milik Mama seutuhnya. Jadi Mama bersenang-senanglah di acara ini," tandas Aldrich Barayeve.


"Selamat datang Alexander di kampus kami!" ujar salah satu dosen perwakilan, seraya mengulurkan tangan kepada Alexander dan orang tuanya. Ditengah-tengah kerumunan wartawan.


"Terima kasih Prof!" sahut Alexander menerima uluran tangan dosen di hadapannya dengan seulas senyum menghias wajah tampannya. Disusul Jane beserta Gordon juga ikut bersalaman.


"Permisi Tuan Alexander, maaf menganggu waktu Anda sejenak. Ijinkan kami mewawancarai anda sebentar!" pinta salah satu wartawan.


"Tentu saja!" sahut si genius dengan tenang.


"Maksud anda? apa karena saya masih kecil, begitu kah?" balas Alexander masih dengan posisi yang sama, tenang dan berwibawa.


"Iya benar!" sahut wartawan.


" Namun justru itu membuat kami takjub. Rupanya yang menjadi perwakilan kali ini adalah mahasiswa super spesial. Di usia yang terbilang masih sangat muda, anda banyak menyabet segudang prestasi. Dan kepintaran serta kegeniusan anda, banyak menyelamatkan beberapa perusahaan yang awalnya terancam colaps," imbuh wartawan dengan pujiannya.


"Anda terlalu berlebihan memujiku, yang ada pada diri saya adalah anugerah Tuhan dan seyogyanya harus bisa membantu serta menolong yang sedang membutuhkan pertolongan," balas Alexander.


Wartawan juga mengambil beberapa potret keluarga harmonis Alexander. Sehingga tepuk tangan riuh pun membahana memenuhi halaman kampus.


"Sepertinya acara sudah dimulai, Ma. Maaf kalau kita sedikit terlambat!" ujar Aldrich.


"Iya benar, sepertinya wartawan sedang mewawancara mahasiswa tersebut," timpal nyonya Madison menoleh pada kerumunan.


"Apa setiap tahunnya seramai ini kah Ma?" Aldrich pun turut menoleh ke arah kerumunan, namun wajah para wartawan lah yang terlihat. Menutupi wajah wajah yang harusnya dilihat oleh Aldrich.


"Tidak juga Al, yang Mama dengar sih mahasiswa kali ini sangat spesial. Karena sangat genius, bahkan sudah sangat sering menjadi perwakilan kampus dalam tiap ajang perlombaan serta seminar," jawab nyonya Madison.


"Pantas saja seramai ini," imbuh Aldrich.


Mobil yang ditumpangi keluarga Madison pun berhenti di parkiran khusus. Sementara wawancara wartawan terhadap si genius baru saja usai. Aldrich beserta sang ibunda yang baru saja menuruni mobil, berjalan menuju kursi yang sudah dipersiapkan khusus sebagai tamu istimewa kedua setelah Alexander oleh pihak kampus. Selaku pendiri kampus serta donatur di sana pasangan ibu dan anak kali itu pun banyak menuai sambutan hangat dari para dosen, dekan, rektor, serta mahasiswa.


"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Gordon kepada sang istri saat wanita di sampingnya terlihat sedikit gugup, berjalan melewati barisan petinggi kampus tersebut.


"Al, bukankah dia mahasiswa yang sering wawancara di televisi itu. Apa benar dia mahasiswa yang menjadi perwakilan kampusnya?" ujar nyonya Madison terperanjat saat melihat wajah yang selama ini ia lihat di layar televisi.


"Mana, Ma?"


Mendengar ucapan sang ibunda, Aldrich Barayeve mengalihkan pandangan melihat bocah genius tersebut. Tak hanya sampai di situ, pria itu pun akhirnya membenarkan dalam hati pernyataan sang ibu kala itu yang pernah mengatakan wajah anak genius itu mirip sekali dengan gambaran masa kecil dirinya.


"Benar sekali kata mama, anak itu benar-benar mirip denganku saat kecil dulu," batin Aldrich mulai tergugah batinnya saat melihat langsung wajah bocah yang kemarin kemarin nya tidak ia percayai jika mirip dengannya. Bahkan mengira sang ibu telah berlebihan dalam berhalusinasi, karena efek mengharap kehadiran seorang cucu.


Seketika Aldrich mengedarkan pandangan mencari sosok yang harus ia yakini bahwa bocah genius itu tidak sendiri dan sedang bersama kedua orang tuanya seharusnya. Mengingat usia dia yang masih membutuhkan pendamping. Namun Aldrich hanya melihat sosok pria yang duduk di samping bocah delapan tahun tersebut.


"Benar kan Al, apa yang Mama bilang. Anak itu mirip sekali dengan dirimu masa kecil," tandas Nyonya Madison.


Aldrich tidak bisa menjawab sang ibu, sebab kali ini ia lah yang mulai terusik juga bertanya-tanya dalam hati tentang siapa bocah genius yang menjadi tamu istimewa dan kehadirannya sangat ditunggu-tunggu itu.


"Siapa anak itu? kenapa wajahnya mirip sekali denganku. Apa itu dia?"


***


BERSAMBUNG....