Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Kemarahan Daren



Setelah penolakan yang dilakukan oleh Jane terhadap Gordon, pria bermanik coklat itu kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Saat dirinya hendak memulai dengan sebenarnya, Jane justru menolak. Hal itu sangat melukai hati Gordon.


"Ceklek," bunyi suara pintu apartemen dibuka Gordon.


Daren yang sejak semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan sang kakak, sontak saat suara pintu terbuka terdengar, ia bergegas menghampiri sumber suara. Tak ayal berdiri seorang laki-laki dengan pakaian lusuh yang terdapat bercak noda darah di beberapa jasnya.


"Kak Gor. Kakak dari mana saja? sejak semalaman aku menghubungi nomor Kakak tidak bisa. Bahkan nomor Jane dan tampan pun tidak ada yang menjawab. Kakak bersama mereka kan?" cecar Daren terlihat khawatir.


Gordon masih tak menjawab pertanyaan sang adik yang terlihat panik, pikiran Gordon masih tertuju pada ucapan Jane tadi pagi.


"Kak, ayo bicaralah! Apa yang sudah terjadi, terus baju Kakak kenapa ada banyak darah? Kakak kecelakaan?" tambah Daren menggoyang tubuh sang kakak.


"Kak!" teriak Daren.


Teriakan Daren akhirnya membuyarkan lamunan sang kakak pagi itu. Gordon menjatuhkan tubuhnya di sofa, kasar. Dengan tatapan kosong ia akhirnya angkat bicara.


"Semalam Jane mengalami kecelakaan, dan itu semua gara-gara aku," jawab Gordon lirih.


Daren ternganga syok, dan dia kembali mengguncang tubuh sang kakak meminta penjelasan. Ada kemarahan dalam wajah Daren yang terlihat dengan jelas. Seluruh GD COMPANY tahu bahwa ia sangat menyukai Jane. Bahkan desas-desus beberapa karyawan kerap terdengar yang menggosipkan tentang hubungan mereka.


Perlahan Gordon mulai bercerita kepada sang adik mengenai kejadian yang ia lakukan terhadap Jane saat di restoran semalam. Mulai menceritakan tentang perasaan dia yang sebenarnya kepada Jane. Saat itu Gordon sudah tidak peduli lagi bahwasannya nanti Daren bakal bisa menerima atau tidak. Yang jelas kali ini ia tidak ingin lagi menyakiti hati wanita yang disayanginya. Cukup sekali hampir kehilangan dan tak ingin terulang untuk kedua kalinya.


"Apa?" pekik Daren kaget membulatkan kedua netranya. Mengacak rambutnya yang berantakan selepas bangun tidur.


"Aku sangat kecewa dengan Kakak. Selama ini aku sangat hormat padamu Kak, tapi untuk kali ini aku benar-benar kecewa," terdengar kemarahan pada Daren.


Daren segera beranjak berdiri dan pergi ke kamar meninggalkan sang kakak yang diam membisu di sofa. Sementara hatinya sangat kacau pagi itu, Daren bergegas mandi dan menghubungi Alexander bertanya di mana keberadaan mereka dirawat.


"Silahkan benci kakak mu yang tidak berguna ini Ren, tapi kamu harus belajar menerima kenyataan bahwa aku sangat menyayangi Jane," batin Gordon menatap kepergian sang adik dengan tatapan bersalah.


***


Pagi yang masih berselimut salju di sekeliling kota, dengan mengenakan setelan pakaian musim dingin. Daren pergi mengunjungi Jane beserta Alexander di rumah sakit. Sebelum sampai rumah sakit ia berhenti di toko bunga serta pusat oleh-oleh. Membeli makanan kesukaan Alexander.


Di negara berbeda, kehidupan yang dijalani oleh Aldrich Barayeve kini seolah timpang. Semenjak Cyril pergi meninggalkan dirinya dan memilih hidup bersama Adden kekasih gelapnya selama ini. Pria sukses pewaris tunggal Nyonya Madison itu menjalani hari-hari nya dengan kesepian. Setiap pulang kerja yang ia lihat di kamar adalah ranjang yang sepi.


Perasaan bersalah terus menghinggapi Aldrich, di sisi lain merasa bersalah oleh kebejatan dia terhadap Jane. Dan lain sisi bersalah terhadap Cyril karena tidak bisa memberinya kebahagiaan serta telah membohongi mantan istrinya itu dengan masa lalunya. Semua sungguh baru terasa berat bagi Aldrich. Seluruh ruang yang ia huni semua seolah serasa pengap dan sesak. Ditambah sang ibu yang terus saja mendesak dia untuk segera mencari keberadaan putra mahkota penerus keluarga Madison.


"Mau sampai kapan kamu akan terus menunda mencari keturunan kamu Al? Mama ingin secepatnya kamu segera mencari keberadaan mereka. Jika perlu kerahkan semua anak buah kamu atau sewa detektif untuk cari mereka," hardik Nyonya Madison malam itu saat makan malam.


"Beri Aldrich waktu lagi Ma, Al belum siap sepenuhnya untuk bertemu wanita itu. Al sungguh merasa malu," ujar Aldrich beralasan.


"Iya Mama tahu apa yang sedang ada dalam pikiran kamu. Tapi asal kamu tahu Al, Mama sudah menyuruh orang bayaran untuk terus mencari informasi tentang mereka," tandas Nyonya Madison.


Aldrich hanya bisa diam tanpa bantahan, karena jika sang ibu sudah terjun langsung mencari keberadaan mantan masa lalunya. Kemungkinan besar untuk ditemukan sangatlah mudah. Jadi kehadiran masa lalu yang sekian tahun telah ia kubur rapat-rapat harus bersiap ia hadapi kapan saja bagai bom waktu yang kapan saja siap meledak bahkan bisa menghancurkan reputasi serta nama baik yang selama ini ia bangun.


"Terserah Mama!" hanya itulah ucapan yang keluar dari bibir Aldrich sebelum pergi kembali ke kamar dari meja makan.


***


BERSAMBUNG....