
"Akhirnya, selesai sudah. Semoga tampan kesayangan kita menyukainya," celetuk Nyonya Rean sembari menata makanan di atas meja makan.
"Terima kasih, Nyonya, selalu ada untuk ku di saat sedih."
Jane menghambur memeluk wanita paruh baya di depannya. Layaknya ibu dan anak. Sejak duduk di bangku SMA, Jane sudah menjadi yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah insiden kebakaran yang terjadi di tempat mereka bekerja.
Karena semangat serta kegigihannya selama ini, Jane mampu mendapatkan gelar sarjana dari uang hasil kerja kerasnya sendiri selama menjadi pekerja paruh waktu. Dan hal itu ia lakukan demi mewujudkan mimpi mereka.
"Aku sudah menganggap kamu seperti putriku sendiri, jadi jangan sungkan untuk bercerita jika kamu butuh teman cerita," hibur nyonya Rean.
Tak lama setelah mereka berbincang, suara deru mobil berhenti di depan garasi pun terdengar. Jane bergegas bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan dua pria kesayangannya.
"Sayangnya Mommy....!" teriak Jane girang , memeluk sang putra.
"Mommy....!" keduanya berpelukan, Jane duduk berjongkok mensejajarkan diri dengan sang putra. Tampak air mata bahagia kembali terurai dari netra ibu dana anak tersebut.
"Maafkan, Alex. Alex janji tidak akan menyebut kota itu lagi," bisik Alexander seraya menangis.
"Kamu tidak salah sayang. Mommy hanya sedikit pusing tadi. Lihatlah, Mommy baik-baik saja bukan?" balas Jane berbisik.
Sementara dua orang lainnya yaitu nyonya Rean dan Gordon hanya bisa tersenyum bahagia seraya turut menitikan air mata bahagia menyaksikan drama mengharukan ibu dan anak tersebut. Tak ingin melewatkan moment bahagia bersama kedua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya, Gordon pun turut berjongkok dan memeluk keduanya. Keluarga kecil itu hanyut dalam suasana haru biru.
"Ehemmm....!" Dehem Nyonya Rean membuyarkan drama haru biru tersebut.
"Sudah sudah drama menangisnya. Ayo cepat masuk, kalian mandilah dan segera kita makan malam, aku sudah lapar sekali," kelakar dari Nyonya Rean. Ketiga orang yang baru saja berpelukan itu pun terkekeh.
Makan malam seusai drama mengharukan akhirnya berjalan dengan lancar. Dengan lahapnya bocah genius itu melahap makanan kesukaannya buatan sang ibunda. Tampak senyum bahagia terukir di wajah nyonya Rean.
"Semoga setelah ini, kebahagiaan selalu menyertai keluarga kecil ini Tuhan. Jangan biarkan tangan tangan jahat menghancurkan kebahagiaan mereka," batin Nyonya Rean.
***
"Kita lihat saja nanti, Ma. Semoga saja Aldrich tidak terlalu sibuk dengan meeting."
"Dari sekarang jadwalkan untuk membatalkan semua jadwal meeting kamu akhir pekan ini. Menurut informasi dari Profesor, mahasiswa kali ini mempunyai kelebihan di atas anak rata rata. Jadi Mama ingin sekali melihatnya langsung," tandas Nyonya Madison.
"Baiklah, Aldrich akan menemani Mama!"
Seusai perbincangan pagi itu, Aldrich segera bergegas berangkat ke kantor. Dan menyuruh sang sekertaris untuk membatalkan semua jadwal meeting pada akhir pekan.
Pagi itu, Gordon sengaja tidak pergi ke kantor, karena harus mendampingi sang istri, terkait panggilan dari Dekan mengenai keberangkatan Alexander. Seputar perihal pertukaran pelajar.
"Silahkan duduk, Nyonya, Tuan!" ucap sang Dekan.
Gordon beserta Jane dan Alexander duduk di kursi yang sama di ruangan sang Dekan.
"Begini, Nyonya, Tuan. Maksud kami meminta kehadiran Anda berdua kemari adalah meminta ijin selaku wali murid dari siswa terbaik kami yaitu Alexander, yang kami tunjuk untuk menjadi perwakilan kampus," ucap sang Dekan.
"Terima kasih sebelumnya atas undangan nya, Prof. Kami selaku wali murid dari Alexander, sangat mendukung dan mengijinkan putra kami untuk menjadi perwakilan kampus. Kalau boleh kami meminta, apakah pihak kampus ini mengijinkan jika kami mendampingi putra kami secara langsung. Mengingat usianya yang masih membutuhkan pengawasan khusus dari orang tua," ujar Gordon penuh wibawa.
"Tentu saja kami mengijinkan, Tuan. Maksud undangan kami pun sebenarnya ingin meminta Tuan dan Nyonya untuk mendampingi putra Anda yang rencananya akan tinggal di sana selama beberapa hari, kemungkinan bisa dua pekan," imbuh Dekan.
Ada rasa lega dalam diri Jane dan Gordon, karena pihak kampus mengijinkan mereka untuk turut serta dalam perjalanan sang putra. Pihak kampus pun telah memesan kamar untuk tempat mereka menginap selama dua pekan.
"Terima kasih Prof, atas waktunya. Mohon doanya agar semua berjalan dengan lancar!"
Jane lalu berpamit kepada sang Dekan, seusai bersalaman. Ketiga nya pun meninggalkan kampus. Mereka harus bersiap untuk menata semua keperluan yang di butuhkan selama tinggal di sana. Dalam hal ini, Gordon lah yang terlihat sangat bersemangat dalam mensupport sang putra serta menyemangati istri kesayangan. Karena Gordon sangat ingin membuktikan kepada dunia siapa putra Gordon Ramsay yang sebenarnya.
***
BERSAMBUNG....