
Rasa penasaran yang menghantui batin Nyonya Madison nampak semakin besar sejak saat itu. Seusai perdebatan dengan sang putra, wanita paruh baya itu segera meraih telepon genggam yang tak jauh dari tempatnya duduk. Sepertinya Nyonya Madison hendak berbicara dengan seseorang.
"Halo! Bagaimana tugas yang aku berikan padamu? Apa ada informasi baru?" tanya Nyonya Madison kepada lawan bicaranya.
"Maaf, Nyonya. Meski anak itu sering terlihat di televisi, namun Sampai detik ini kami masih belum berhasil menyelidiki di mana keberadaan serta mereka tinggal," sahut detektif yang disewa Nyonya Madison.
"Bodoh sekali kau! Hanya mencari informasi dimana bocah genius itu tinggal saja tidak becus. Aku tidak mau, pokoknya kamu harus bisa menemukan bocah genius itu!" tandas Nyonya Madison.
***
Di dalam kamarnya yang berwarna serba abu gelap serta putih, Aldrich terbaring di atas kasur sembari kembali mencerna perdebatan dirinya dengan sang ibu.
"Bagaimana Mama bisa seyakin itu kalau anak hebat itu adalah anak Jane. Aku sangat yakin, dia tidak akan meneruskan kehamilannya setelah apa yang sudah aku perbuat padanya," gumam Aldrich.
Dalam hati rasa penyesalan pun mulai bergelayut. Namun di sisi lain Aldrich sadar sepenuhnya bahwa Jane tidak akan semudah membalik telapak tangan untuk memaafkan dirinya.
"Hukuman Tuhan menjauhkan mu dari orang yang kamu sayangi, memanglah pantas Al. Kamu layak diperlakukan tidak baik atas karma dari kejahatan mu," imbuh Aldrich menggumam.
Lama pikirannya terus berkecamuk dan semakin menyudutkan rasa penyesalan dari dalam hatinya. Aldrich pun bangun dari atas ranjang lalu berganti pakaian dan menuju sebuah tempat yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi.
Sebuah rumah dengan fasilitas medis ada didalamnya. Dan dihuni oleh seorang dokter yang memang merupakan seorang ahli psikolog yang selama ini sering dikunjungi Aldrich secara diam-diam.
"Gerangan apa yang mengganggu mu lagi?" tanya dokter Zurich.
Tanpa diperintah, Aldrich beranjak menaiki bed lalu memejamkan mata. Dan memulai berbicara kepada dokter Zurich.
"Sampai kapan rasa bersalah ini terus menghantuiku, Dok?"
Dokter Zurich yang tengah berdiri disamping bed Aldrich, mulai menjadi pendengar yang baik. Mendengar keluh dari pasiennya tersebut.
"Apa Anda benar-benar sudah siap untuk bertemu dengan orang dari masa lalu Anda?" tanya dokter Zurich.
"Jika Tuhan memberi kesempatan untuk bertemu kembali, aku ingin sekali meminta maaf, Dok. Sekali pun aku harus bersimpuh sujud di hadapannya," timpal Aldrich mulai dibanjiri air mata penyesalan.
Mendapati pertanyaan yang monohok, tangis Aldrich pun kian pecah. Selama ini di balik ketegaran seorang Aldrich Barayeve, tersimpan sejuta luka batin yang selama ini hanya bisa ia pendam sendiri tanpa bisa bercerita. Dari situlah pemicu Aldrich tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang suami sepenuhnya kepada Cyril. Hingga perceraian pun meretakkan hubungan mereka. Dan Cyril lebih memilih pergi dari sang suami bersama dengan Adden.
Lama sesi curhat antara Aldrich kepada dokter Zurich berlangsung, perlahan beban pikiran yang menggunung akhirnya mencahar malam itu dan kini batin Aldrich telah merasa sedikit lebih baik. Dokter Zurich pun merasa senang karena pasien private yang sudah ia tangani selama kurang lebih lima tahun itu terlihat sudah membaik.
"Belajarlah memaafkan diri Anda sendiri, Tuan. Dengan begitu mental Tuan Aldrich tidak akan serapuh itu. Jika Tuan bisa memaafkan diri sendiri, maka Tuan bisa dengan mudah melangkah menatap masa depan bersama orang yang Anda sayang," nasehat dokter Zurich sebelum Aldrich pergi dari sana.
***
Hari bahagia yang ditunggu oleh Jane beserta Gordon, akhirnya tiba juga. Pagi yang indah berselimut awan seputih kapas serta kemilau sinar mentari keemasan turut bahagia atas hari bersejarah mereka saat itu. Seorang bocah berusia delapan tahun tampak terlihat gagah dengan setelan tuxedo berwarna hitam. Sedang berdiri dibelakang mempelai wanita dengan sebuah buket bunga ditangan.
Tak mau ketinggalan, Nyonya Rean pun juga turut hadir di acara sakral tersebut. Sebagai pendamping kedua mempelai. Sebuah senyum bahagia terlihat jelas dari sudut bibir pengantin pria, yang berdiri tegap laksana pangeran menggenggam tangan Jane berjalan menuju mimbar altar. Iringan musik pengantin serta taburan bunga mawar putih memenuhi ruangan yang dipadati beberapa kolega serta kerabat terdekat Gordon. Sementara Daren yang kebetulan tidak bisa hadir di hari bahagia sang kakak, hanya bisa menyaksikan acara sakral tersebut dari balik layar ponsel secara live.
Air mata bahagia terurai dari wajah cantik Jane Audrey yang tampak begitu cantik jelita dengan balutan gaun pengantin yang begitu indah sehingga memukau para hadirin yang ada di dalam sana. Tepuk tangan meriah pun terdengar membahana tatkala kedua pasangan pengantin ini telah dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Dengan lembut Gordon mencium bibir Jane di depan tamu undangan, menandakan Jane adalah miliknya sejak saat itu. Air mata bahagia juga mengalir dari kedua netra indah seorang Daren selaku adik satu-satunya serta keluarga satu satunya yang Gordon miliki.
"Terima kasih, Tuhan. Akhirnya hari indah dan bahagia Kak Gor dan Jane telah tiba," batin Daren tersenyum bahagia.
"Selamat ya cantik! Semoga segera Tuhan hadirkan Malaikat kecil yang akan menemani serta melengkapi kehidupan indah kalian!" ucap Nyonya Rean memeluk erat tubuh Jane penuh rasa haru. Lalu berganti memberi ucapan selamat kepada sang CEO tempatnya bekerja.
"Terima kasih atas hadirnya, Nyonya. Terima kasih juga telah bersedia menjadi pendamping kami berdua!" ujar Gordon membalas pelukan wanita paruh baya tersebut.
Nyonya Rean adalah satu satunya sahabat yang Jane miliki, sekaligus saksi bagi perjalanan kisah cinta Jane Audrey bersama Gordon Ramsay.
Dari balik jeruji besi, rupanya kabar bahagia yang tengah dirasakan oleh Jane dan Gordon , telah terdengar di telinga Vincent. Rival Gordon yang hingga kini masih menyisakan dendam tersendiri untuknya. Ia tidak rela jika Gordon harus mereguk kebahagiaan bersama wanita yang diinginkannya. Karenanya sumpah serapah pun keluar dari mulut Vincent yang terlihat begitu marah besar mendengar berita bahagia tersebut.
"Kamu memang telah berjasa untuk perusahaan ku Gor. Tapi kamu masih berhutang kebebasan serta kemalangan yang aku alami. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia, dimana pun kalian tinggal," batin Vincent menggerutu penuh kemarahan mengguncang kokohnya jerat jeruji besi yang mengurung dirinya.
"Gordooooon...!" teriak Vincent.
***
BERSAMBUNG...