Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Badai Salju



"Mommy baik-baik saja?" tanya Alex ragu, menatap Jane yang diam dengan derai air mata membasahi wajah mulusnya. Dan wanita itu masih tak mau angkat bicara.


"Oke kalau Mommy tidak mau menjawab, tapi tolong pelankan sedikit Mom! Sepertinya sebentar lagi akan turun badai salju. Sebaiknya kita segera mencari penginapan," ujar Alexander seraya menatap jalanan dari kaca jendela, dengan hembusan angin yang terlihat kencang.


Gordon segera keluar dari toilet setelah dirasa, Jane telah pergi dari sana. Sementara Daren pun segera pergi meninggalkan restoran, selepas Jane menarik Alexander paksa. Karena jarak apartemen dari restoran tidak terlalu jauh.


"Syukurlah dia sudah pergi, pasti Daren bersama mereka," gumam Gordon yang berdiri di depan pintu restoran.


Tak lama setelah mematung kacau di depan restoran, Gordon bergegas menuju parkiran. Namun sebuah pengeras suara dari dalam restoran tiba-tiba terdengar.


"Perhatian, perhatian! Untuk semua pengunjung restoran dimohon tidak meninggalkan tempat. Sebab sebentar lagi badai salju akan segera turun. Terima kasih!"


"Degh" bunyi detak jantung Gordon seketika.


Gordon segera merogoh ponselnya dari saku dan menghubungi sang adik. Untuk memastikan apakah dia ada bersama Jane atau tidak.


"Ren, dimana kalian sekarang? Sebentar lagi badai salju akan turun, cepat carilah penginapan terdekat sebelum terjadi apa-apa dengan kalian," suara Gordon terdengar panik.


"Maaf Kak, entah kenapa semenjak keluar dari restoran Jane langsung menarik paksa tampan dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, seperti orang marah," jawab Daren.


Gawai yang baru saja menempel di telinga Gordon, tiba-tiba terjatuh begitu saja setelah mendengar ucapan sang adik. Bahwa Jane pergi dalam keadaan marah beserta Alexander.


"Halo Kak, Kak Gor. Kakak masih di sana kan? Kakak baik-baik saja kan?" suara cemas Daren dari gawai yang terjatuh.


Gordon mendadak lemas seketika seluruh otot syaraf kakinya petang itu. Hanya bisa mendengar suara Daren namun tak mampu menjawabnya. Pemilik GD COMPANY itu segera mengambil kembali gawainya dari lantai parkiran. Dan memaksa menerobos mencari keberadaan Jane. Sementara cuaca semakin dingin dan hembusan angin terdengar berdesir keras. Salju pun berjatuhan, sekeliling kota terlihat putih diselimuti salju. Hawa dingin mulai menyeruak masuk ke dalam mobil meski tertutup rapat.


Saking paniknya Gordon juga melakukan mobil yang ia kendarai dengan kecepatan tinggi, berusaha menghubungi ponsel Jane namun sepertinya pemerintah kota sengaja mematikan semua sambungan telepon saat itu, demi keamanan warga.


"Kemana kau sayang, ayolah jangan buat aku cemas dan khawatir seperti ini. Setidaknya kalian baik-baik saja. Aku janji setelah ini tidak akan menjauhi mu lagi," gerutu Gordon cemas.


Jalanan kota terlihat lengang dari pengguna kendaraan. Sebab pemerintah sengaja menutup beberapa akses jalan agar warga tidak menerobos keluar dan berdiam di rumah. Sementara Jane yang masih diliputi kemarahan memaksa untuk terus berkendara. Walau sebenarnya dalam hatinya rasa ketakutan mulai muncul.


"Mommy, stop Mom! Alex mohon dengarkan Alex kali ini saja! Kita berhenti, di depan ada rumah kita menumpang berteduh di sana," ucap Alex makin khawatir dengan kondisi mental sang ibu yang sama sekali tak menunjukkan reda amarahnya.


Belum juga mau mengucap sepatah kata pun, tiba-tiba mobil yang Jane kendarai menabrak sebuah tiang listrik di pinggir jalan karena tebalnya salju yang menutupi kaca mobilnya.


"Duarrr!" suara mobil menabrak tiang.


"Tiiiin....!" tak lama berselang suara klakson mobil yang tertimpa kepala Jane terus berbunyi. Dan Jane terlihat tak sadarkan diri.


Namun tidak dengan bocah delapan tahun tersebut, saat ia mengetahui laju mobil yang dibawakan sang ibu tidak pada jalurnya. Bocah itu segera berpegangan kuat-kuat pada pegangan yang ada di atas kepalanya, sehingga Alexander hanya mengalami luka benturan di dahi saja dan mengeluarkan sedikit darah.


Alexander segera melepas sabuk pengaman yang dipakainya dan membantu sang ibu yang tak sadarkan diri. Berusaha menyandarkan kepala Jane pada jok perlahan-lahan.


"Mom, bangunlah Mom! buka mata Mommy!" teriak Alexander panik seraya menepuk-nepuk pipi Jane. Namun tetap tak ada tanda sang ibu terbangun. Dan Alexander pun mulai menangis karena ketakutan.


Sementara mobil yang ditumpangi Gordon terpaksa berhenti di pos pencegatan yang dilakukan oleh beberapa petugas keamanan.


"Maaf Tuan, sebaiknya Anda kembali. Jalur sudah kami tutup sepuluh menit yang lalu," ujar petugas yang berjaga.


"Tolong, Pak! ada seseorang yang terjebak di sana. Saya harus mencarinya!" imbuh Gordon memelas.


Lama perdebatan pun terjadi di sana. Semua rasa kekhawatiran Gordon semakin menggunung. Berdamai dengan petugas memberinya sejumlah uang namun ditolak. Penampilan Gordon juga terlihat kacau saat itu, pikiran nya terus bergelut antara panik, cemas, dan khawatir. Berjalan mondar-mandir di depan petugas merutuki keadaan yang memaksanya tidak bisa berbuat apa-apa.


Sementara di kejauhan dari arah jalan yang sama, seorang anak kecil turun dari mobil berusaha mencari bantuan di sekitar, namun sayang tidak ada satu pun warga yang berani melintas. Karena angin berhembus sangat kencang beberapa benda juga terlihat beterbangan.


"Tolong...! Tolong Mommy ku!" teriak Alexander dengan suara yang sudah mulai pekak, karena lama berteriak seraya menangis.


"Terobos Gor, terobos. Kamu pasti bisa, cepat cari mereka jangan kelamaan berpikir dan seperti orang bodoh yang hanya berdiam di sini," batin Gordon terus bergejolak.


Tekad Gordon sepertinya telah bulat, di hadapan para petugas yang berjaga, Gordon memaksa menerobos lewat, "Maaf Pak, aku akan menyerahkan diri nanti!" teriak Gordon melaju kencang.


"Mau cari mati dia, melawan bahaya," celetuk salah satu petugas.


Semua petugas menggeleng kan kepala melihat aksi nekad Gordon. Yang memaksa menerobos lewat, sementara bahaya bisa saja terjadi.


"Sayang dimana kalian," gumam Gordon.


Setelah berhasil kabur dari petugas penjagaan, kini Gordon mengendarai mobilnya secara pelan-pelan. Mengamati sekitar jalan keberadaan kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Tolong...!" teriak Alexander dengan suara tertatih. Berdiri di tengah jalan merentangkan kedua tangannya berusaha mencegat kendaraan yang lewat.


Samar dari kejauhan karena pandangan sedikit terhalang oleh tumpukan salju dimana-mana, kedua bola mata Gordon akhirnya berhasil melihat sosok yang ia cari. Meski belum terlihat jelas bocah itu adalah Alexander namun Gordon sangat yakin itu adalah si bocah genius itu. Setelah posisi semakin dekat, Gordon segera menghentikan mobilnya dan berlari ke arah bocah yang berdiri di tengah jalan.


"Tampan!"


Serta merta pria pemilik GD COMPANY itu mendekap dan merengkuh erat si bocah genius yang sedang menangis dengan suara paraunya .


"Maafkan Uncle sayang," ucap Gordon mengusap punggung Alexander.


Sembari menenangkan si bocah genius yang masih terisak dalam dekapannya. Gordon mengedarkan pandangan mencari keberadaan wanita yang dicintainya. Hingga netranya berhasil menemukan mobil Jane yang berhenti beberapa meter dari tempatnya bersama Alexander.


"Jane!" teriak Gordon melepas pelukan Alexander seketika dan berlari ke arah mobil Jane.


***


BERSAMBUNG...