Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Serangan Telak Satu Jari



"Tidak perlu berbasa-basi. Katakan saja apa mau kalian?" ucap Vincent terlihat kilatan amarah yang tak berani terucap.


Menanggapi pertanyaan pecundang di hadapannya, si genius pun menjawabnya dengan santai.


"Atas dasar apa Tuan menaruh curiga terhadap saya, apa Anda memiliki bukti?"


"Siapa lagi yang bisa memporak-porandakan semua data perusahaan, kecuali kamu!" tuduh Vincent mulai meninggi suaranya.


"O, o, o....! Apa Anda memiliki bukti untuk tuduhan Anda? Lantas bagaimana dengan ini?"


Lagi-lagi dengan santai si genius memberi kejutan untuk pria di hadapannya. Mengeluarkan sebuah flashdisk berisikan rekaman dari CCTV yang berhasil dia copy semalam. Dan sontak wajah yang pasi kian menjadi pucat bak mayat hidup.


"Apa ini?"


"Tuan lihat saja kado pagi yang indah itu!" seru si genius tersenyum sinis ke arah lawan bicaranya.


Dengan tangan sedikit gemetar, Vincent meraih flashdisk di atas mejanya. Kemudian segera menghubungkan ke laptop di depan meja kerja. Semua ulah yang Vincent lakukan terhadap Jane, semuanya terekam rapi tak ada yang luput sedikit pun.


"Apa Tuan ingin melakukan sesuatu lagi sekarang terhadap Mommy ku?" sindir si genius dengan telak.


Bak ditampar dengan sebuah tamparan yang sangat keras bagi CEO pshycopat kala itu, wajahnya yang pasi mendadak berubah merah menahan malu. Dari seorang anak kecil yang ia pandang sebelah mata, rupanya ia harus belajar banyak hal darinya. Tanpa aba-aba seorang bocah delapan tahun siapa sangka mampu melakukan perlindungan yang begitu protektif terhadap sang ibu dan melakukan pembalasan ketika wanita yang telah melahirkan dia disakiti.


"Aku terlalu menganggap remeh bocah ini. Ternyata tidak hanya otak saja yang genius, namun jiwa kelelakiannya sebagai seorang anak laki-laki sangat tinggi, matilah kau Vin sekarang," batin CEO pshycopat.


"Bocah kecil, janganlah terlalu kau besar-besar kan masalah kemarin. Pria mana pun pasti akan tergoda jika melihat Mommy mu yang memang mampu menggoda pada setiap laki-laki," jawab Vincent berusaha menekan mental si genius.


Bocah yang tengah duduk di hadapan CEO pshycopat itu terlihat geram dengan perkataan lawan bicaranya saat itu. Tangannya pun mengepal bak karang batu yang mengeras, siap menghantam wajah Vincent kapan saja. Gordon kembali menahan si genius untuk tidak terpancing dengan perkataan CEO sinting tersebut. Dengan menggeleng kepala menatap sorot kemarahan si genius.


"Anda yakin tidak merasa bersalah sama sekali? Atau Tuan Vincent mungkin ingin meminta maaf, sebelum saya kehabisan kesabaran?" pancing si genius.


"Maaf? oh tidak! Maaf atas perbuatan yang sangat wajar itu bukanlah sebuah kejahatan apalagi kesalahan?" jawab Vincent merasa tidak berdosa, meski dalam hati mulai dipenuhi tanda tanya apa yang akan dilakukan bocah kecil di depannya. Dan jantungnya mulai senam berirama dag dig dug.


"Terima kasih atas jawaban Anda. Jangan salahkan kami jika Tuan harus masuk ke dalam jeruji besi dan keluar dari sini. Bersiaplah!" ancam si genius kali ini tidak ada ampun lagi bagi Vincent.


"Baiklah jika itu pilihan Tuan Vincent, setidaknya aku bukanlah pria yang tidak tahu cara menghormati orang yang lebih tua. Aku hanya perlu melakukan satu kali klik saja polisi akan segera datang menangkap Anda. Perusahaan Tuan hanya akan tinggal nama saja!"


Terlihat kesungguhan dari setiap ucapan yang keluar dari bibir si genius. Tindakannya tidak hanya gertakan sambal, jari telunjuknya mulai beraksi melakukan satu kali serangan yang mampu membuat lawan jatuh sedalam-dalamnya tanpa harus terluka dan bersimbah darah.


Jantung Vincent semakin berdegup kencang, keringat kembali membanjiri sekujur tubuh tanpa terkecuali, ruangan yang dipenuhi AC terasa begitu sesak dan pengap baginya. Pandangannya pun mulai samar terasa, bibir dan seluruh tiap ruas persendian Vincent mulai bergetar hebat, bimbang antara mengakui kesalahan dan meminta maaf yang akan menjatuhkan nama baik serta martabat dirinya sebagai seorang pengusaha muda sukses di kota tersebut. Atau membiarkan semua kerajaan bisnis yang ia bangun selama ini tinggal nama saja.


"Tunggu!" teriak Vincent dengan bergetar hebat. Terlihat mengusap keringat yang sudah banjir.


Si genius pun menghentikan pergerakan jemari telunjuknya, menatap ke arah lawan yang sudah tidak mampu melakukan perlawanan atau hinaan lagi karena dikuasai ketakutan yang teramat sangat.


Vincent beranjak bangkit dari duduknya, dengan langkah kaki gemetar pria angkuh dan sedikit tidak waras itu mendekati tubuh Jane dan sang putra. Sementara pengawal serta asisten Vincent yang berada di luar ruangan segera menghambur masuk saat mendengar sang CEO berteriak. Jane beserta Gordon seketika kaget dan menoleh ke belakang bersamaan saat kedua pria bertubuh tinggi tegap memasuki ruangan.


"Tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya pengawal Vincent.


"Kalian pergilah! Tutup rapat-rapat pintunya! Jangan biarkan seorang pun masuk kemari!" teriak Vincent dengan lantang di sisa ketakutan serta ketidak berdayaannya. Menatap nanar ke arah kedua pria tersebut.


"Baik Tuan!" keduanya segera bergegas pergi melupakan apa yang mereka lihat. Seorang CEO perusahaan besar berlutut di bawah kaki seorang bocah kecil berusia delapan tahun serta sang ibu.


Sementara Gordon yang masih tidak habis pikir dengan aksi nekad balas dendam si genius terhadap musuh yang telah berusaha menyakiti ibundanya hanya bisa diam mengikuti alur bocah kecil tersebut. Seraya terus siaga melindungi kedua makhluk di dekatnya.


Vincent sudah tidak lagi memikirkan harga dirinya. Bagi dia saat itu tidak masuk ke dalam jeruji besi sudah merupakan hal besar yang patut ia syukuri. Sebab hal itu setidaknya bisa membuat ia berpikir akan langkah selanjutnya terhadap si genius yang telah membuat dia kalah telak tanpa bisa melakukan perlawanan.


"Maafkan aku, Jane!"


***


BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE RATE SERTA LIKE AND KOMENTAR YA KAKAK 🥰, AGAR MENAMBAH SEMANGAT AUTHOR UNTUK UPDATE LAGI☺️🙏🙏🙏