Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Daren Dan Jane Tersipu Malu



Setelah saling mengobrol dan bercerita tentang masa kecil Alexander, tanpa terasa di luar hujan sudah mulai reda. Membuat Daren hendak beranjak pamit pulang.


"Jane, jika kamu butuh sesuatu untuk biaya sekolah Alex, jangan sungkan. Aku pasti membantumu," ujar Daren sebelum pergi dari apartemen Jane.


"Terima kasih, tapi Alex sudah mendapat bea siswa hingga dia lulus nanti," sahut Jane menatap Daren.


Pria yang sudah berdiri itu pun menautkan kedua alisnya, mendengar ucapan wanita di hadapannya, "Sekolah dasar sudah mendapat bea siswa," batinnya.


Namun tak mau salah kata di awal pertemuan nya dengan Jane, Daren pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih dalam. Dan ia pun segera pamit pulang, dengan diantar Jane hingga depan pintu. Ada perasaan bahagia dalam hati Daren, melihat Jane mengulas senyum serta lambaian tangan kepadanya.


"Duh..., senyummu mengalihkan duniaku Sayang!" gumam Daren dalam hati yang tanpa sadar mengucap sayang kepada Jane.


****


"Aku mau pulang ke rumah Mama, aku sudah tidak betah tinggal satu atap dengan Mama kamu, selalu saja memojokkan aku. Jelas-jelas dokter bilang aku baik-baik Al, aku nggak mandul!" teriak Cyril pagi itu yang sudah dirundung emosi, kesal akan sikap Nyonya Madison yang selalu menghakimi dirinya tidak berguna, hanya karena belum bisa memberikan keturunan untuk Aldrich, suaminya.


Aldrich terdiam membisu tiap kali kedua wanita yang sangat penting dalam kehidupannya itu saling tuding perihal anak.


"Namanya juga orang tua Cy, pasti sangat merindukan kehadiran cucu dari pernikahan kita," sahut Aldrich membela sang ibunda.


"Al...! Kamu sadar nggak sih akan apa yang kamu ucapkan? Setiap kali kita bercinta, kamu selalu sama. Ragamu ada padaku, namun tidak dengan jiwa dan pikiranmu, bagaimana kita bisa punya anak, kamu saja tidak maksimal memainkan peranmu. Seolah kamu membayangkan wanita lain saat bersamaku!"


Cyril akhirnya mempunyai keberanian untuk menyuarakan isi hati dan kekesalannya yang selama ini selalu dilimpahkan kepadanya oleh Nyonya Madison. Dan seketika Aldrich tak dapat bergeming. Kata-kata terakhir dari sang dokter, sewaktu dirinya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri, masih melekat dan terngiang terus di otaknya.


"Maaf....!" Suara Aldrich terdengar lirih, dan mendudukkan tubuhnya lesu pada sofa yang ada di dalam kamar.


"Lakukan apa yang membuat kamu senang, aku tidak akan mengekang kebebasan kamu. Bahkan jika kamu meminta cerai dariku, akan aku persiapkan semuanya," imbuh Aldrich dengan wajah ditekuk.


Seketika mulut Cyril ternganga mendengar ucapan sang suami, ia pikir dengan mengancam Aldrich dengan pulang ke rumah orang tuanya, Aldrich akan menuruti semua keinginan dia. Namun sepertinya itu hanya imajinasi Cyril semata. Aldrich justru menawarkan perceraian.


"Apa? Cerai?" gumam Cyril tak percaya.


Seusai perdebatan, Aldrich segera turun dari kamarnya, menuju meja makan. Untuk sarapan bersama dengan Nyonya Madison, seperti biasanya. Dan Cyril pun dengan langkah lesu, menyusul ke ruang makan.


***


"Cieee..., yang kemarin diantar pulang oleh Pak Bos!" goda Mier kepada Jane, saat wanita tersebut baru tiba di kantor.


Wajah Jane berubah memerah karena malu oleh ledekan sahabatnya itu. Dan semakin bertambah memerah bak kepiting rebus saat Daren sempat menguping obrolan mereka sembari berdehem.


"Selamat pagi, Jane?" sapa Daren sebelum beranjak ke ruangannya. Sementara orang yang disapa hanya diam tertunduk malu.


"Pagi juga, Bos! Kenapa hanya Jane saja yang disapa Bos? Mier ada di sini loh," goda Mier seraya terkekeh, membuat Daren tersipu malu, menggaruk tengkuknya dan berlalu menuju ruangannya, sembari melirik ke arah Jane yang juga tersipu malu.


Dalam hati Daren bersorak girang, akhirnya Jane perlahan mulai membalasnya dengan senyuman. Pria nomor dua di 'GD COMPANY' itu terlihat lebih bersemangat pagi itu.


Karena jam kerja sudah dimulai, Jane dan Mier kembali ke meja kerja masing-masing, begitu juga dengan Nyonya Rean.


"Benarkah Tuan Daren mengantar kamu pulang, Jane?" tanya Nyonya Rean penasaran.


Wanita beranak satu yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya itu membalas pertanyaan Nyonya Rean dengan anggukan pelan.


Melihat ekspresi Jane yang tersipu malu, Nyonya Rean pun ikut tersenyum, "Sepertinya, Tuan Daren menyukai kamu, Jane!" bisik Nyonya Rean.


Dan lagi-lagi, candaan Nyonya Rean itu membuat Jane tersipu malu. Wajah ayu yang tanpa polesan make up itu semakin terlihat cantik. Dengan pipi yang memerah, meski tak mengenakan blush on.


*****


BERSAMBUNG....