
Setibanya di Rumah Sakit, tubuh lemah nyonya Madison segera ditangani oleh dokter yang bertugas saat itu. Namun saat di tengah perjalanan, Aldrich terlebih dahulu menghubungi dokter keluarga yang tahu persis akan riwayat medis sang mama. Dokter pun datang tepat waktu sesaat setelah nyonya Madison di bawa masuk ke ruang IGD.
"Kamu tenang kan diri mu anak muda! Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk beliau," tutur sang dokter menepuk pundak Aldrich, dibalas anggukan yang diiringi wajah lesu.
Selepas dokter pergi, gejolak batin pria yang tengah dilanda kecemasan itu kian membuncah. Antara kaget, ketakutan, kini bertambah dengan kondisi ibu nya yang tengah berjuang melawan maut di dalam ruang IGD.
"Ternyata dia masih hidup, ya, dia putraku. Penerus Madison. Pewaris kerajaan bisnis ku. Putra ku," gumam Aldrich dengan bibir bergetar penuh sesal.
"Di, dia...., wanita itu, sekarang bertambah anggun dan cantik. Mata itu, masih sama seperti dulu. Penuh kehangatan, kelembutan, serta kepolosan."
"Jane! maafkan aku, maaf kan aku putra ku!" Ucap Aldrich sekaligus tertawa kecil penuh syukur karena bertemu dengan darah dagingnya.
Wajah tampan yang selalu menjadi rebutan kaum hawa itu, kini terlihat lesu serta langkah lunglai berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD, dengan mengacak rambutnya sesekali Hatinya kini penuh sesal serta angan untuk menebus kembali karma yang ia perbuat delapan tahun silam. Namun tak tahu harus memulai langkahnya darimana.
Sementara tim medis yang sedang berada di ruangan IGD, tengah melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan kembali nyawa nyonya Madison. Peluh pun bercucur di kening sang dokter, saat beberapa kali ia melakukan kejut jantung terhadap pasien, namun hasilnya nihil. Sedang ia telah berjanji kepada pemuda di luar yang tengah menunggu dengan penuh kecemasan untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Alat monitor pun terus memberikan signal penurunan dari kondisi pasien. Hampir dua jam berlangsung pertarungan maut di dalam sana, akhirnya tim dokter dapat bernapas dengan lega. Saat layar monitor yang tadinya menyerukan suara "tiiiiiit...." panjang, kini kembali memberikan signal bahwa pasien telah berhasil melewati masa kritisnya. Akhirnya nyonya Madison berhasil diselamatkan.
"Syukurlah dia telah kembali. Cepat kabari pemuda itu, sampaikan bahwa ibu nya terselamatkan!" ucap sang dokter.
Perawat yang diutus oleh dokter segera bergegas mengabari Aldrich kondisi ibu nya. Tampak raut bahagia sekaligus lega mendengar kabar tersebut. Pria itu pun mengulurkan tangannya kepada perawat.
"Terima kasih!"
Pasien masih terus diobservasi oleh tim medis yang menangani selama beberapa jam ke depan, dan setelah benar-benar stabil baru akan dipindah ke ruang ICU.
***
Acara penyambutan mahasiswa telah usai, Jane yang tadinya dipenuhi ketakutan setelah terlihat oleh pria yang pernah menghancurkan masa depannya, berhasil menguatkan keberanian nya. Berkat support yang senantiasa Gordon berikan.
"Sayang, sebaiknya kita kembali ke hotel. Berikan ruang kepada Alex untuk berpikir. Kejadian tadi pasti membuatnya syok dan kebingungan," ucap Jane meraih lengan Gordon.
Pria yang lengannya tengah digamit oleh sang istri, menoleh heran melihat perubahan super yang ditunjukkan sang istri. Wanita yang selama acara berlangsung terlihat khawatir serta ketakutan, mendadak menjadi optimis dan percaya diri. Bahkan dengan santainya melangkah pergi melenggang meninggalkan kampus.
Dari kejauhan sosok pria yang sedari tadi terus membidikkan kamera ke arah pasangan ini, terus berusaha mencuri beberapa gambar mereka, bahakan sampai keduanya memasuki mobil dan meninggalkan kampus pun terus diabadikan.
"Aku yakin ini akan menjadi berita terheboh di negeri ini. Dan bocah itu, sepertinya bukanlah bocah sembarangan," gumaman sang reporter yang sibuk melihat satu persatu gambar yang berhasil ia ambil.
Tak hanya berhenti sampai disitu saja ulah reporter tersebut, rupanya tidak sulit baginya untuk menemukan keberadaan nyonya Madison dirawat saat itu. Sekejap mata, pria yang berkalungkan kamera tersebut berhasil melesat meninggalkan kampus, untuk mencari berita lebih. Guna meyakinkan rasa penasaran yang ia yakini akan adanya skandal besar dari orang ternama di kota itu.
"Honey, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gordon terus menatap ke arah sang istri yang duduk dengan tenang di sampingnya.
"Aku baik-baik saja, Sayang," balas Jane meyakinkan Gordon disertai senyum yang tersungging dari bibir indahnya.
Masih terus memperhatikan ekspresi sang istri yang terlihat begitu tenang tidak seperti biasanya, Gordon justru mulai dihinggapi rasa khawatir. Takut wanita yang dicintainya akan melakukan hal nekad di luar sepengetahuan dirinya.
"Aku senang melihat mu optimis dan percaya diri seperti itu. Tapi aku mohon, jangan nekad melakukan balas dendam di luar sepengetahuan ku!" ujar Gordon memperingatkan.
Sikap Jane yang tidak seperti biasanya semakin membuat Gordon khawatir, bahkan Jane yang kerap kali kala sedih dibalut ketakutan kini terlihat berbeda. Seakan bukan Jane yang Gordon kenal lagi. Bagaimana bisa dalam waktu sekejap dia bisa berubah bersikap dingin dan tenang. Padahal beberapa waktu lalu, ia sangat ketakutan jika Alexander akan dibawa paksa oleh Aldrich Barayeve.
"Aku harap wanita tua itu tidak hidup lagi."
"Sopir, tolong lebih cepat!" seru Gordon sudah tidak sabar ingin meminta penjelasan kepada sang istri perihal perubahan sikapnya yang mendadak berubah drastis.
"Apa Jane merencanakan sesuatu untuk balas dendam? Tidak, aku tidak akan membiarkan Jane dan Tampan dalam bahaya. Aku harus tau secepatnya apa yang Jane pikirkan sekarang?"
batin Gordon terus menerka perubahan sikap Jane.
Mobil yang ditumpangi pasangan ini melaju dengan kencang menuju arah hotel tempat mereka menginap. Dan sesampainya di hotel, Gordon segera membawa sang istri bergegas masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat, sebab sudah tidak sabar.
"Ceklek....!"
Setelah pintu terbuka, dengan lembut Gordon mendudukkan bokong Jane di sofa, di kamar hotel. Sementara Gordon duduk bersimpuh di depan Jane. Menggenggam tangan wanita itu serta menatapnya lekat.
"Tolong katakan, Sayang! Kenapa kamu di mobil berkata seperti itu? Mengapa berharap wanita malang itu mati?" cecar Gordon penuh cemas.
"Malang? sejak kapan kamu prihatin kepadanya?" Balas Jane dengan tatapan nyalang, menepis tangan Gordon kasar.
"Harusnya tadi wanita tua itu mati saja karena syok. Dan aku yang mestinya kau sebut wanita malang, bukan dia!"
Kemarahan Jane kali ini sepertinya tidak dibuat-buat. Emosi yang sedari tadi rupanya terus dia tahan, akhirnya mencuat dan meledak bak bom waktu.
"Sayang, aku sama sekali tidak membelanya. Itu hanya sekedar ungkapan saja. Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung kamu, Honey."
Dengan lembut, Gordon terus berusaha meyakinkan dan menenangkan hati istrinya yang sepertinya terlihat kacau akibat insiden di kampus. Menatap lekat ke dalam manik indah yang kini mulai membasah.
"Iya, aku memang jahat. Tapi aku ingin wanita tua itu mati saja, agar tidak mengambil putra ku, hiks....!"
Mendengar ucapan sang istri yang ternyata sedang rapuh, pria itu segera memeluk Jane erat. Mendekap tubuh mungil wanita tersebut. Isak tangis yang tak lagi bisa dibendung pun tumpah ruah di dada bidang Gordon Ramsay.
"Aku benci mereka, aku benci, hikss....! Mati saja merekaaaa."
Gordon masih tetap tak bersuara, ia sangat memahami betul gejolak batin yang kini dirasakan oleh Jane. Wajar bila seorang ibu yang selama ini telah dibuang bak seonggok sampah dan membesarkan anaknya sendirian, mengalami hal demikian. Maka pria itu pun hanya tetap menenangkan hati istrinya yang kalut saat itu.
Setidaknya Gordon merasa sangat lega. Sebab hal yang dia takutkan sedari tadi, tidaklah terjadi. Rupanya Jane masih dalam batas kemarahan saja bukan memendam angan untuk balas dendam kepada keluarga pria yang sudah membuang nya selama ini.
Dalam dekapan Gordon, bibir Jane terus berucap tak terkendali hingga tanpa sadar dirinya secara tidak langsung menceritakan ulang kejadian yang ia alami delapan tahun silam.
"Jeder.....!"
Sosok dari balik pintu yang rupanya mendengar cerita Jane pun terperanjat kaget, menutup bibirnya yang ternganga agar tidak menimbulkan suara. Seluruh kekuatan untuknya berdiri saat itu seakan luruh seketika. Tak sanggup membayangkan bagaimana terpuruknya seorang Jane Audrey delapan tahun lalu.
****
BERSAMBUNG....
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh 🙏 mohon maaf sekali beribu-ribu maaf saya sampaikan kepada readers semua atas keterlambatan update cerita ini. Dikarenakan kesibukan real yang benar-benar sangat menyita waktu.
Mohon doanya semoga bisa terus lanjut menulis dan mentuntaskan cerita ini hingga akhir tanpa mengecewakan kalian.
Terima kasih 🙏😘😘