
Seluruh ketertinggalan mata kuliah selama satu pekan, hari itu akhirnya berhasil genius selesaikan. Dan seperti biasa selalu mendapat responsif yang luar biasa dari para dosen. Kali itu hari sudah sangat sore, si genius keluar dari gerbang kampus tepat pukul empat sore waktu setempat.
Dengan tas ransel yang bertengger di punggung, bocah delapan tahun itu berjalan menuju jalan raya untuk mencegat taksi, namun kali itu ia tidak sendiri melainkan bersama seorang mahasiswa dari satu jurusan yang sama dengan dirinya. Karena kebetulan arah rumah mereka satu arah dan hanya berjarak sekitar tiga ratus meter.
"Alex, aku berhenti di sini ya?" pamit Lucas saat taksi berhenti di depan rumahnya.
"Iya silahkan Kak, terima kasih sudah menemani," balas si genius melambaikan tangan.
Taksi yang ditumpangi Alexander kembali berjalan menuju apartemennya. Sementara Nyonya Rean yang sedari pagi menemani Jane, masih juga belum beranjak pulang. Menemani wanita tersebut agar tidak diganggu lagi oleh CEO pshycopat itu lagi.
Bunyi taksi berhenti terdengar oleh Jane dan Nyonya Rean yang sedang duduk di depan televisi. Jane pun beranjak menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu.
"Hai sayang! Bagaimana hari mu?" sambut Jane memeluk buah hatinya.
"Begitulah, Mom. Alex harus mengejar ketertinggalan semua mata kuliah. Terpaksa harus pulang sore, kalau tidak ku kerjakan hari ini takutnya ke depannya nanti Alex akan ada banyak tugas serta jadwal wawancara." terang Alex.
Bocah genius yang baru pulang dari kampus itu melirik pada rak sepatu yang ada di balik pintu. Melihat ada sepasang sepatu yang tidak biasa ia lihat.
"Mommy, siapa kah tamu di dalam?" tanya si genius.
Jane segera menutup pintu setelah Alex masuk, "Iya sayang, Nyonya Rean mengunjungi Mommy. Beliau ada di dalam," tutur Jane.
Mendengar siapa yang datang, Alex segera menemui wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Hai, Nyonya. Sudah lamakah di sini?" bocah genius itu mencium punggung tangan Nyonya Rean, dibalas pelukan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Hai, sayang tampan ku!" balas Nyonya Rean memeluk gemas si genius.
Layaknya cucu sendiri wanita paruh baya itu memperlakukan Alex. Membiarkan bocah genius itu bermanja dalam pangkuannya. Dan keduanya terlihat asyik bercerita. Dalam obrolan sore itu tanpa sadar Nyonya Rean hendak bercerita tentang insiden yang dialami oleh sang Mommy namun ibu satu anak itu memberi kode kepada wanita paruh baya tersebut untuk tidak bercerita.
"Mommy kenapa Nyonya? Apa hari ini sudah terjadi sesuatu dengannya?" selidik si genius.
Jane menatap ke arah Nyonya Rean sedikit khawatir, ia takut jika sang putra mengetahui tindakan CEO pshycopat yang hampir menodainya pagi itu dengan tatapan cemas.
"Nyonya, maksud Nyonya dengan CEO pshycopat itu siapa? Dan apa yang hampir dia lakukan kepada Mommy ku?" bocah genius itu menoleh ke arah Jane berganti menoleh kepada wanita yang tengah memangku dia.
"Oh bu- bukan sayang. Maksud Nyonya Rean itu pasti tentang CEO yang ada dalam film yang kita tonton tadi. Kebetulan karakternya seperti seorang pshycopat. Iya kan Nyonya?" raut mimik muka Jane sangat kentara jika ia sedang cemas. Dan hal itu tidak dapat Jane sembunyikan dari sang putra, sebab Alex sudah memiliki firasat yang tidak baik semenjak dalam kampus tadi pagi.
"Sepertinya ada yang tidak beres tadi di sini. Mommy sama Nyonya Rean seperti sedang menutupi sesuatu dariku," batin Alexander.
Bocah genius itu kemudian beranjak turun dari pangkuan Nyonya Rean lalu menuju kamarnya. Menyisakan Jane beserta Nyonya Rean yang baru saja bisa bernapas dengan lega karena hampir saja keceplosan.
Alexander segera mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Bergegas meraih laptopnya dan menyambungkan dengan layar CCTV yang ia pasang bersama Daren beberapa waktu lalu tanpa sepengetahuan Jane.
Alexander mengamati dengan seksama setiap kejadian yang terlihat di CCTV. Dan bocah genius itu melihat sosok pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya tengah berusaha melakukan hal tidak senonoh terhadap sang Mommy. Kedatangan Nyonya Rean yang tengah menyelamatkan Jane pun terekam dengan jelas dari sana.
Alexander berusaha menangkap wajah pria yang hendak mencelakai sang Mommy dari layar laptopnya. Masih dipenuhi rasa penasaran dengan pria tersebut.
"Apa ini yang dimaksud Mommy sama Nyonya Rean dengan CEO pshycopat itu?" gumam si genius.
Tak mau berhenti sampai di situ saja rasa penasaran si bocah genius itu. Maka Alex pun membuka sebuah situs dan memasukkan foto pria tersebut dalam deretan daftar nama pengusaha yang ada di kota ini. Terang saja dalam satu kali ketukan mouse dari tangan Alex, maka layar laptop pun menampilkan wajah yang dia cari beserta biografi dan nama perusahaan milik Vincent.
"Jadi pria jahat ini namanya Vincent, aku harus mencari tahu apa maksud dia sudah berani mengganggu Mommy," gumam Alex.
Alex terus menggulir tombol mouse dalam tangannya dan membaca dengan detai riwayat CEO pshycopat tersebut. Hingga membuat si genius merasa yakin untuk menemui pria itu tanpa sepengetahuan sang Mommy.
"Aku harus memberi dia pelajaran karena telah berani mengganggu Mommy. Tuan Vincent, tunggulah kejutan dariku!" batin Alexander tersenyum miring.
Sementara hari telah berganti malam, maka Nyonya Rean pun berpamit pulang kepada Jane dan menghampiri kamar si genius untuk berpamitan.
"Tampan, bisa kah aku masuk sebentar? Aku mau pulang," panggil Nyonya Rean berdiri di depan pintu.
Alexander segera bergegas mematikan laptopnya agar tidak terlihat oleh Jane dan Nyonya Rean. Lalu membuka pintu untuk sahabat Mommy nya.
"Tampan, aku harus pulang karena besok harus kembali bekerja. Jaga diri juga Mommy mu baik-baik!" pesan Nyonya Rean sekaligus berpamit.
"Iya Nyonya, pasti itu. Terima kasih untuk hari ini sudah menjaga dan menemani Mommy," ucap Alexander yang kembali mencium tangan wanita paruh baya tersebut.
Seusai berpamitan ibu dan anak itu mengantar kepergian Nyonya Rean Sampai di depan pintu pagar. Dan keduanya kembali masuk setelah mobil Nyonya Rean benar-benar tidak terlihat lagi.
***
NERSAMBUNG...