Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Dewi Penyelamat



"Toloooong!" teriak Jane kencang di sisa kekuatan yang dimilikinya pagi itu.


"Ciiiiiit...!" bunyi rem sebuah mobil yang kebetulan baru saja berhenti tepat di seberang jalan apartemen Jane.


Pengemudi mobil tersebut adalah seorang wanita paruh baya tak lain adalah Nyonya Rean, rekan satu divisi Jane dulu saat masih bekerja di perusahaan Gordon.


"Sialan, siapa lagi dia," gerutu Vincent.


Vincent segera melepas dekapannya dari tubuh Jane, kemudian berlari ke mobilnya sebelum wanita dari mobil itu keluar.


"Haaahhh..., haaaahhh," bunyi deru napas Jane yang akhirnya merasa lega telah lepas dari bahaya.


Nyonya Rean sempat melihat wajah Vincent dan aksinya yang dilakukan terhadap mantan rekan kerjanya itu. Dan segera keluar dari dalam mobil bergegas menghampiri Jane.


"Kamu tidak apa-apa, Jane?" tanya Nyonya Rean.


Dengan tangis yang telah pecah, Jane segera memeluk erat tubuh wanita paruh baya di depannya.


"Hiksss..., hiksss..., hiksss....!"


"Sabar, Jane! Yang penting kamu selamat dan tidak jadi diapa-apakan oleh CEO pshycopat itu," imbuh Nyonya Rean mengusap punggung Jane.


Nyonya Rean lalu membawa Jane, memapahnya masuk ke dalam apartemen. Dengan Isak tangis yang masih berurai dari wajahnya.


Jane Dibawa masuk ke dalam kamar, dan Nyonya Rean pergi ke dapur mengambil air minum.


"Minumlah! Tenangkan dulu diri mu!" ujar Nyonya Rean menyodorkan segelas air putih kepada Jane, dan wanita itu pun segera meneguknya.


Jane meletakkan gelas itu di atas laci, dan mengusap sisa air matanya menggunakan tissu. Terlihat sebuah ketakutan yang seakan mampu merobohkan pertahanan ketangguhan yang dimiliki Jane selama ini. Wanita itu tampak rapuh dengan kebrutalan napsu bejat Vincent. Dan untuk beberapa saat Nyonya Rean membiarkan ibu satu anak itu menangis puas hingga kembali tenang dan lalu bersedia bercerita.


"Terima kasih, Nyonya!" ucap Jane lirih.


Mata bulat dengan bulu mata nan lentik, pagi itu terlihat sembab. Tersirat kesedihan serta ketakutan yang teramat dalam dari wajah ayu Jane. Sosok wajah yang sudah ia kubur beberapa tahun silam, seolah sengaja Tuhan hadirkan kembali ke dalam ingatan Jane. Melalui sosok seorang Vincent. Dan itu sangat menyakitkan baginya. Jiwa yang telah hancur lebur bersama penghinaan serta mental yang diinjak habis-habisan oleh Aldrich kala itu membuka luka lamanya kembali hingga menganga.


”Apa tidak sebaiknya kamu melapor kepada polisi saja, Jane? Demi keselamatan kamu dan tampan," tutur Nyonya Rean.


Wanita paruh baya itu mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Jane, menepuk pundak ibu satu anak yang terlihat rapuh tersebut. Dan Jane pun kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Rean.


"Kenapa harus kejadian seperti itu lagi Nyonya?" ucap Jane seakan putus asa, tidak menjawab pertanyaan rekan kerja nya.


Air mata yang sempat terhenti, kembali berderai setelah Jane mendengar nasehat sahabatnya itu.


"Tapi kenapa harus aku yang dipilih Tuhan, Nyonya, wanita yang hanya sebatang kara sejak kecil tidak pernah mengenyam kebahagiaan," cerita Jane semakin bersedih.


Meski Nyonya Rean awalnya kurang menyukai Jane, namun setelah mendengar dan mengetahui rahasia kelam dari masa lalu wanita tersebut, kini ia berubah menyayangi wanita itu layaknya putri sendiri. Dan karenanya pagi itu ia sengaja meluangkan waktu mengambil cuti agar bisa bertamu ke rumah Jane dan melepas rindu kepada si bocah genius. Namun ia sendiri tidak menyangka akan melihat kejadian nahas kedua kalinya yang akan menimpa Jane.


"Menurutku, sebaiknya kamu melapor kepada pihak berwajib, Jane. Agar CEO pshycopat itu segera ditangkap dan diamankan. Dia bisa kemari kapan saja," ucap Nyonya Rean terdengar khawatir.


"Apa Nyonya mengenalnya?" Jane mendongakkan wajah menatap si empunya bahu.


"Iya beberapa kali dia datang ke perusahaan. Dan menurut yang aku dengar Tuan Gordon menjalin kerja sama dengannya," terang Nyonya Rean.


Jane kembali terdiam setelah mendengar jawaban sahabatnya itu. Keduanya termenung, diam dalam pikiran masing-masing.


Di dalam kampus, di hari pertama masuk pasca insiden kecelakaan yang terjadi seminggu lalu. Terlihat Alexander si bocah genius tidak fokus dengan pembahasan materi yang disampaikan oleh sang dosen. Hatinya merasa was-was namun tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Wajah sang Mommy selalu terlihat sejak pertama ia menginjakkan kaki di kampus tadi pagi. Dan si genius pun selalu berdoa agar tidak terjadi sesuatu lagi terhadap Mommy nya.


"Lindungi Mommy Alex, Tuhan. Jangan biarkan siapa pun menyakitinya!" batin Alexander seraya melihat ke layar depan kelas.


Di dalam apartemen, Nyonya Rean sengaja membuatkan makanan untuk Jane meski ala kadarnya. Karena wanita paruh baya itu tidak ingin melihat Jane kembali jatuh sakit.


"Makanlah, aku sudah buatkan makanan untuk kamu. Maaf kalau ala kadarnya," Ujar Nyonya Rean meletakkan nampan yang ada ditangannya di atas laci.


"Terima kasih, Nyonya!" Jane pun mengambil nampan itu dan memakan masakan buatan Nyonya Rean. Meski sebenarnya ia merasa kenyang akibat ulah Vincent, yang membuat dirinya hilang selera makan.


Waktu terus bergulir, sementara jam kuliah yang biasanya telah usai, hari itu sengaja harus diundur, sebab sudah beberapa hari ini si genius ketinggalan banyak mata kuliah dan ia berusaha mengejar ketertinggalannya tersebut. Untuk ukuran orang dewasa saja mengejar ketertinggalan mata kuliah itu membutuhkan waktu tidak singkat. Namun tidak bagi si genius. Otak bocah genius itu di atas rata-rata orang pandai dari biasanya karenanya meski ia ketinggalan banyak mata kuliah tetap membuat nya semangat.


"Apa kamu tidak menjemput tampan?" tanya Nyonya Rean yang sedang menyalakan televisi, duduk di sofa bersama Jane.


"Dia mengirim pesan hari ini pulang telat Nyonya," jawab Jane tak bersemangat.


"Apa kamu akan menceritakan kejadian ini kepada Tuan Gordon?"


Jane ambigu seolah kehabisan kata, disudutkan dengan pertanyaan seperti itu oleh Nyonya Rean. Pasalnya ia sendiri tidak tahu harus bercerita atau mendiamkan kebejatan Vincent. Namun untuk saat itu Jane hanya ingin sendiri melupakan kembali kejadian tadi pagi.


***


BERSAMBUNG....