Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Pertemuan Kedua Aldrich Dengan Jane



Dengan napas memburu, Aldrich menerobos masuk dan berlari mencari keberadaan tiga pria barusan. Karena ia tidak tahu di kamar mana pria itu membawa bocah tersebut, Aldrich memutuskan naik menggunakan tangga manual. Terang saja hal itu menguras habis tenaganya dan tepat di lantai ke empat saat ia sedang mengatur napasnya sejenak. Ia terlihat kaget bukan main.


"Putraku!" gumam Aldrich lirih, berdiri mematung.


Seluruh kekuatan yang pria itu miliki seolah luruh sirna seketika, antara ingin berlari memeluk buah hatinya atau kembali memutar badan. Kala Jane keluar dari balik pintu kamar hotel memeluk tubuh si genius dengan eratnya. Air mata wanita itu pun tak lagi bisa terbendung, pecah karena takut sesuatu hal menimpa bocah tersebut.


"Jane!...., Sayang....!


Bulir bulir kristal tanpa sengaja menggenang di sudut pelupuk netra Aldrich, penyesalan yang ia rasa kini sungguh sangat sakit baginya, Lebih sakit dari penghianatan yang pernah di lakukan oleh mantan istrinya kala itu.


"Apakah putra ku tadi sedang berusaha menemui ku? Atau telah terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?"


Batin pria yang dipenuhi rasa penyesalan, terus bergejolak dengan tanda tanya. Namun bibirnya serasa kelu tuk berucap.


Sementara Gordon yang melihat kehadiran Aldrich, segera menghampiri pria tersebut dan menyapanya.


"Selamat sore, bukan kah anda Tuan Aldrich Barayeve? yang tadi pagi mengisi acara di kampus?"


Sebelum ayah sambung si genius melangkah kian dekat, Aldrich segera menyeka sudut matanya yang sempat basah. Pria ini pun mengembangkan senyum lebar berusaha menyapa pria yang menghampiri dirinya.


"Benar sekali tuan, perkenalkan saya Aldrich Barayeve!" Ucap Aldrich mengulurkan tangan kanan ke arah Gordon.


Mendengar percakapan Gordon, telinga ibu dan anak yang tengah berpelukan, seketika membuat keduanya melepas pelukan. Pun, mereka menoleh ke arah depan kamar. Jane juga segera mengusap sisa air matanya. Namun masih menggenggam erat tangan si genius. Ibu dan anak itu mengawasi kedua pria yang sedang asyik berbincang. Sementara Gordon menyambut uluran tangan Aldrich dengan penuh sopan, meski sebenarnya ia ingin sekali meninju wajah pria di hadapannya itu.


"Perkenalkan, nama saya Gordon!"


"Oh, ya tuan Aldrich, ada angin apa gerangan yang membuat orang nomor satu di kota ini berada di hotel yang sama tempat kami menginap ini?" Celetuk Gordon dengan santainya membalas sapaan Aldrich.


Aldrich kembali dibuat gugup akan pertanyaan yang dilontarkan oleh ayah sambung sang putra. Dengan terbata ia pun terpaksa menjawab meski keringat mulai menyapa di dahinya.


"Emmmm..., maaf! Kebetulan tadi saya tidak sengaja melihat putra anda dibawa oleh beberapa laki - laki ini. Saya pikir mereka adalah penjahat dan anak ini pasti butuh pertolongan. Jadi tidak ada maksud lain."


"Terima kasih atas kekhawatiran anda, tuan. Iya benar, putra saya memang tadi tidak sengaja sedang jalan-jalan tanpa sepengetahuan kami. Untung saja mereka melihatnya dan segera membawa putra kami kembali." Balas Gordon.


Batin Aldrich terus bergejolak ingin meminta ijin untuk bisa memeluk buah hatinya kepada pria yang sedang berdiri tegap di hadapannya. Namun lagi-lagi niat itu harus ia singkirkan jauh - jauh. Kala ibu dan anak berjalan mendekat.


"Yaa Tuhan, mata itu masih sama, tatapan yang indah sekali, yang mampu membuatku tergoda dan menodainya hingga membuangnya sekeji itu," Batin Aldrich kembali dipenuhi sesal dan merutuki sikapnya.


Ucapan Jane yang sempat terjeda, seolah bagai mata belati yang tepat menghunus jantung Aldrich. Entah mendapat kekuatan dari mana ibu satu anak tersebut, sehingga mampu menatap pria yang pernah menodai dan membuangnya layaknya binatang.


Bukan hanya Aldrich, Gordon beserta si genius pun saling bertukar pandangan seakan merasa tidak percaya Jane mampu menyapa pria yang telah menghancurkannya. Meski sudah tahu semua rahasia mereka, tapi genius masih berpura-pura tidak mengetahui. Dan hal itu membuat bocah delapan tahun tersebut juga turut meramaikan obrolan orang dewasa tersebut.


"Sama - sama, ta - tapi maaf, saya tidak melakukan apa-apa tadi hanya berusaha mengejar ketiga pria ini," timpal Aldrich dengan pandangan ke arah ketiga bodyguard Gordon. Karena sengaja menghindari tatapan maut Jane Audrey.


"Tuan, bukankah ibu anda tadi sedang pingsan, bagaimana kabarnya? Apakah sudah membaik?" Tanya si genius menyapa.


Ketiga orang dewasa itu kaget dengan pertanyaan Alexander. Terlebih yang paling kaget adalah Jane. Ia tahu kemana arah pembicaraan sang putra.


Bagai mendapat kesempatan emas dari Tuhan, Aldrich yang sedari tadi diliputi ketakutan, mendadak berubah gembira dengan pertanyaan buah hatinya.


"Beliau saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit. Pap....., emmm maksud nya Uncle minta doanya untuk kesembuhan beliau," ujar Aldrich nyaris keceplosan menyebut dirinya papa.


"Pasti saya doakan tuan, Mommy, Daddy, boleh kah Alex meminta ijin untuk menjenguk Nyonya Madison?" Lagi - lagi pertanyaan genius membuat kedua orang tuanya terhentak kaget.


Pasangan suami istri tersebut kembali saling bersitatap. Keduanya bingung antara memberi ijin atau menolak permintaan sang putra. Di sudut bibir nan indah milik Aldrich Barayeve tampak terlukis sebuah senyuman gembira. Akhirnya ia akan bisa memeluk sang putra untuk pertama kalinya setelah sekian tahun dirinya dihinggapi penyesalan, begitulah batin dari seorang Aldrich kala itu.


"Mommy? Boleh ya?" Rengek si genius kembali dengan wajah polosnya. Membuat Jane dan Gordon sulit untuk menolak permintaan sang putra.


"Mommy mengijinkan, tapi mereka harus ikut bersama mu!" Kali ini ucapan Jane terdengar tegas.


Bocah delapan tahun itu hanya bisa tersenyum sumringah rencananya akan terlaksana seraya menaikkan kedua bah. Mengiyakan persyaratan dari sang ibunda tercinta. Dan tak lama setelah mencium tangan serta memeluk kedua orang tuanya, dari sebelah Aldrich mengulurkan tangan, disambut oleh Alexander. Kemudian diikuti oleh ketiga pria bertubuh tegap yang berjalan di belakang ayah dan anak tersebut menyusuri lorong hotel.


Langit sore menjelang petang di kota yang penuh kenangan pahit bagi Jane, terlihat begitu indah saat itu, kilau keemasan bersemu kecoklatan kian memancarkan keindahan tersendiri dari atas awan yang mulai gelap. Lampu jalanan Ibu kota perlahan satu persatu bersinar menyala, gedung-gedung bertingkat pun mulai memancarkan cahaya kerlap kerlip di sepanjang jalanan seolah turut merasakan bahagia yang kini Aldrich rasa.


Sampai - sampai kebahagiaan Aldrich yang begitu membuncah saat itu, terpancar dari rona wajah serta senyum yang tersungging dari sudut bibirnya berkali-kali saat ia berjalan beriringan di sisi Alexande. Akhirnya ia dapat menggenggam langsung tangan putra kesayangan, dan memenuhi keinginan terbesar sang ibunda yang kini terbaring di rumah sakit.


Tak lama setelah keluar dari pintu utama hotel, seorang security yang duduk di depan kemudi setir mobil mewah milik Aldrich, segera keluar dari mobil dan menyerahkan kunci kepada si pemilik dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Terima kasih!" Balas Aldrich seraya menyodorkan beberapa lembar uang sebagai tip kepada pria di hadapannya. Alexander pun duduk di bangku jok samping Aldrich, setelah pria yang baru saja menerima tip itu membuka pintu mobil untuknya.


Sementara ketiga bodyguard Gordon mengikuti mobil Aldrich dari belakang dengan mobil berbeda. Menuju arah Rumah Sakit.


Bersambung.....