
Setelah berjalan hampir ratusan meter dari tempatnya bekerja ke sebuah restoran yang terdekat. Kaki Fiola mulai terasa pegal-pegal, karena mengenakan sepatu dengan heels tinggi. Sumpah serapah untuk si pesuruh pun tak hentinya terlontar dari bibir mungilnya.
"Lihat, tunggu saja pembalasanku tuan CEO yang terhormat!" gerutu Fiola mengulas senyum devil.
Sesampainya di restoran, Fiola langsung memesan beberapa menu makan siang untuk Daren, namun tidak berhenti sampai di situ. Kekesalan dalam hatinya tidak akan hilang sebelum ia berhasil mengerjai Daren.
"Oh ya Mbak, tolong banyakin sambalnya. Kalau bisa sambalnya di umpetin ke dalam nya, ya!" seru Fiola menyeringai kegirangan kepada pelayan.
"Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar!"
Sepeninggal pelayan restoran, Fiola tak hentinya untuk terus tertawa kecil. Membayangkan bagaimana ekspresi si boss songong yang akan kebakar menahan rasa pedas. Karena seperti yang kita ketahui, Daren tidak bisa memakan makanan pedas sama sekali.
"Ini, Mbak pesanannya!" ujar pelayan restoran sembari menyodorkan sebuah kantong plastik berisi tiga kotak menu yang isinya berbeda-beda.
"Terima kasih!" ucap Fiola kemudian berjalan menuju kasir dan pergi meninggalkan restoran.
Sepanjang perjalanan pulang ke kantor, rasa pegal di kaki Fiola kini hilang seketika tatkala otaknya mulai membayangkan ekspresi Daren. Bahkan di sepanjang perjalanan yang tadinya diawali dengan gerutuan serta sumpah serapah, kini tidak lagi terdengar. Bibir mungil itu tak henti mengurai senyum kemenangan.
"Rasakan pembalasanku, tuan CEO angkuh!" gumam Fiola gembira.
Wanita yang tengah mententeng sepatunya itu berjalan menuju ruangan Daren dengan sangat bersemangat, bahkan ia tidak menyadari telah memasuki kantor tanpa alas sepatu. Beberapa pasang mata yang menyaksikan pun berbisik, melihat tingkah Fiola.
"Sepertinya kelamaan dipingit tuan Daren di ruangannya, otak nona Fiola sedikit mulai bergeser sembilan puluh derajat," bisik salah satu karyawan yang melihat Fiola berjalan tanpa alas kaki.
"Iya benar, masa dia tidak sadar jika berjalan tanpa bersepatu!" tukas karyawan lainnya.
"Ha ha ha ha...., benar benar kasihan nasib dia ya. Harus satu ruangan bersama CEO dingin yang datar."
"Persetan dengan mulut gatal kalian, mau gibah A sampai Z pun aku tidak peduli. Yang terpenting aku harus menyaksikan adegan seru sebentar lagi. Yess....!" lagi lagi gadis itu menggumam, mengabaikan pasang mata yang melihat ke arahnya dengan tatapan mencibir.
"Hah, hah, hah....!" suara napas Fiola yang memburu, karena harus berjalan pulang pergi beberapa ratus meter, seraya menyodorkan bungkusan yang dibawanya. Tepat ke arah Daren.
"Ini pesanan Anda!"
"Sudah puas kan Tuan? Lihat! gegara Anda kaki saya lecet dan harus berjalan di tengah terik matahari hingga melepuh seperti ini," ucap Fiola kesal seraya mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Awas saja jika makanan yang penuh perjuangan ini tidak Tuan habiskan!" ancam Fiola menggerutu imbuhnya.
Sejenak Daren mengamati penampilan sang asisten siang itu, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan tatkala kedua netranya melihat perubahan kaki yang ada pada sekertaris nya tersebut, Daren pun terkekeh kencang.
"Ha ha ha ha....! Senang sekali melihat mu seperti itu. Ternyata kamu wanita yang penurut juga. Harusnya hukuman atas kebawelan kamu itu aku tambah!" kekeh Daren terpingkal.
Merasa dikerjai habis-habisan oleh pria di hadapannya, emosi Fiola pun mulai tersulut kembali. Namun karena ia segera sadar akan misinya melihat sang lawan kalah telak. Maka emosi itu pun ia redam.
"Sabar Fi, sabar. Biarkan si songong itu menari nari sekarang. Lihat saja beberapa menit lagi, bibirnya pasti akan terbakar dan wajah putihnya bakalan merah menyala bak kobaran api, ha ha ha ha....!" batin Fiola tersenyum miring.
Meski Daren menawarinya untuk makan bersama, namun Fiola menolaknya karena ia tidak mau senjata makan tuan.
"Ayo makan!" ajak Daren.
"Terima kasih, tapi saya sudah kenyang!" tolak Fiola dengan ekspresi manyun.
Tanpa berpikir panjang, Daren pun segera menyantap makanan di hadapannya dengan lahap, hingga tiba-tiba suara teriakan kencang layaknya komandan batalyon terdengar memenuhi seisi ruangan.
Bukannya ketakutan mendengar suara teriakan macan baru bangun tidur, gadis yang tengah duduk di kursinya yang tidak jauh dari meja Daren. Dari tadi terlihat menyimak, saat awal sang CEO membuka makanan hingga kepedasan. Bahkan saat moment membahagiakan baginya itu terjadi, Fiola justru segera merogoh gawai dari dalam tas dan mengabadikan wajah Daren yang memerah karena menahan pedas.
"Fiolaaaaa....!" teriak Daren sekencangnya kembali. Membuat gadis yang tengah asyik memotret itu segera beranjak berdiri dan segera kabur, sebelum CEO songong itu meluapkan emosi kepadanya.
"Haaah, haaahhhh....!" teriak Daren kepedasan.
Pria itu segera mengambil minum, bahkan berkali-kali Daren berkumur untuk menghilangkan rasa panas di bibirnya.
"Sialan sekali dia, berani beraninya dia melakukan hal ini kepadaku!" gumam Daren geram.
Seusai berhasil membalaskan dendam nya kepada sang CEO, Fiola kini sedang bersembunyi di cafe yang ada di area kantor sembari melihat video Daren yang kepedasan sambil tertawa terbahak-bahak di depan layar ponsel.
"Ha ha ha ha....!"
"Tahukan pembalasan Fiola itu bisa lebih kejam. Kamu sih jadi atasan songong banget, kalau sudah begini yang salah itu bukan aku tapi sikap angkuh kamu!" gumam Fiola memaki gambar video Daren di ponselnya.
"Coba sedikit saja bersikap manis seperti kakak kamu, pasti Fiola juga nggak akan jahat dan jahil begini kan," imbuh Fiola.
Setelah beberapa saat berhasil menghilangkan. rasa pedas di bibirnya, cacing cacing di perut Daren kembali terdengar, karena ia benar-benar merasa sangat lapar. Namun sayang yang ia dapat bukannya rasa kenyang, namun bibir terbakar akibat ulah mengesalkan sang sekertaris.
"Aku pastikan hukuman ku untuk kamu akan bertambah!" tandas Daren menggumam kesal.
***
Di lain tempat yang tengah membahagiakan bagi keluarga kecil Gordon. Jet pribadi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di bandara. Ketiga orang itu pun segera menuju arah hotel, sebuah fasilitas yang sudah disediakan oleh pihak kampus.
Rupanya kedatangan mereka disambut hangat oleh pihak perwakilan kampus yang akan dikunjungi oleh si genius. Sebuah mobil mewah tengah terparkir rapi di depan pintu bandara bersama seorang sopir di dalamnya. Tak ketinggalan para wartawan pun turut menyambut kedatangan keluarga kecil si genius seraya melakukan wawancara secara singkat. Dan kerumunan wartawan itu segera buyar saat beberapa pengawal yang ditugaskan untuk mengawal kedatangan sang tamu istimewa itu datang. Alexander benar benar layaknya bintang saat itu, diperlakukan begitu sangat istimewa.
"Silahkan ikut bersama kami, Tuan Alex. Saya akan mengantar Anda sampai ke hotel!" ujar sang sopir yang ditugaskan.
Setelah meninggalkan bandara, mobil yang ditumpangi si genius pun dikawal oleh beberapa mobil di belakangnya bersama pengawal barusan. Melihat sang putra diperlakukan begitu sangat istimewa, pria yang kini berstatus menjadi ayah sambung bagi Alexander itu tak hentinya mengurai senyum bahagia sebagai perwujudan rasa bangga dirinya terhadap sang putra kesayangan.
"Kamu adalah putra Gordon yang hebat, tampan kesayangannya Daddy," batin Gordon penuh haru.
Setelah beberapa saat mobil yang mereka tumpangi melintasi jalanan kota kelahiran sang ibu yang benar benar berhasil memikat hati si genius, kini mereka bertiga tiba di hotel.
"Apa Mommy tahu apartemen yang bisa kita sewa untuk kita tinggal di sini?" tanya Gordon kepada sang istri saat baru tiba di hotel.
"Mungkin Daddy bisa bertanya kepada petugas hotel, maaf sayang aku tidak paham tentang itu semua meski di sini adalah kota kelahiran ku!" sahut Jane lirih.
"Ya sudah kita tanya saja kepada resepsionis, jika kita menyewa apartemen setidaknya bisa leluasa sayang," timpal Gordon.
Dan Gordon pun mulai bertanya kepada resepsionis sebelum memasuki kamar hotel. Bahkan ia meminta untuk dicarikan apartemen yang terbaik di kota tersebut. Agar moment berlibur mereka benar benar menjadi sebuah kenangan bersejarah dalam sepanjang hidup.
Dan upacara penyambutan kedatangan mahasiswa terbaik yang akan dilakukan oleh pihak kampus serta dihadiri oleh donatur, akan dilakukan esok hari. Di mana waktu akan mempertemukan sepasang insan yang pernah dipertemukan oleh kejamnya takdir dalam sebuah perjalanan hidup yang cukup pahit dan menyakitkan. Dalam sebuah momentum bersejarah di hidup mereka.
**Akankah mereka bertemu dan saling bertegur sapa layaknya tidak pernah terjadi sesuatu di antara keduanya??
***
BERSAMBUNG**....