After You Left Me

After You Left Me
94. Mereka Meninggalkan Kita!



Tepat lima jam setelah mereka sarapan di hotel tadi, dan saat ini sudah jam 13.00 pm. Akhirnya pesawat yang mereka naiki pun telah sampai di Soekarno Hatta International Airport, karena saat ini kondisinya tidak seperti biasanya jadi mereka buru-buru mengambil semua koper dari bagasi lalu keluar. Terlihat sudah banyak wartawan yang sudah siap dengan kamera di tangan mereka


Edric yang sejak dari dalam pesawat tadi sudah menebak bagaimana situasi di luar airport nanti pun tenang, karena Edric tidak perlu buru-buru menyembunyikan identitas dirinya sebagai suami Elena. Edric yang sebelumnya memeluk Elena pun saat ini telah berdiri sedikit jauh dari istrinya, layaknya seorang bodyguard yang setiap saat selalu menjaga bosnya


"Saat mengetahui kejadian ini sebenarnya tuan tahu darimana? " tanya reporter 1


"Maaf tapi tahu kabar mengenai kedua orang tua & nenek mengalami kecelakaan kapan? " tanya reporter 2


"Apakah benar kabar dari rumor yang beredar, bahwa anda sengaja melakukan hal ini demi mendapatkan keuntungan? " tanya reporter 3


"Kalian semua pasti tahu, jika saat ini keadaan orang tua saya sedang tidak baik. Jadi saya harus pergi ke rumah sakit secepatnya, setelah sampai dan selesai saya pasti akan menjawab pertanyaan kalian semua terima kasih!! " kata Estian


Setelah Estian berbicara dengan jelas seperti di atas dia langsung naik ke mobil disusul oleh istrinya, adik, dan terakhir adik iparnya (Edric). Pria yang sejak tadi berusaha untuk tegar pun akhirnya sudah tidak kuat, Estian menumpahkan kesedihannya di pundak istri tercinta


"Sudah jangan nangis lagi baby, sekarang kamu pasti lelah tidurlah sebentar. Nanti saat sudah sampai aku akan membangunkanmu! " kata Edric


"...." jawa Elena hanya menggeleng


Namun secara tiba-tiba radio yang awalnya selalu menyiarkan lagu pun saat ini, telah menyiarkan berita yang sedang menjadi topik panas. Sang driver yang peka dengan keadaan nonanya langsung mengganti saluran radio itu, tapi tetap hasilnya tetap sama. Saat ini Elena kembali menangis, kedua tangannya saat ini menutup telinganya, ditambah dengan bibirnya yang bergetar


"Ahhh Elena tidak mau dengar itu, mereka semua hanya menyiarkan berita yang salah. Tidak mungkin papa mama dan grandma meninggalkan adek! " kata Elena berteriak histeris


"Cepat matikan radio itu!! " ucap Estian dengan nada yang meninggi, lalu dia ketakutan melihat Elena yang mengingatkanya akan suatu hal


• • • • •


Sampai di rumah sakit mereka berempat berlari mencari ruangan tempat mama, papa, dan grandma. Tidak perlu jalan terlalu jauh akhirnya mereka sudah menemukannya terlihat papa dan mama (Orang Tua Kinna), dad dan mom (Orang Tua Edric) menangis di depan kamar. Disaat Estian berjalan lebih mendekat, tiba-tiba Justin dan Daniel langsung duduk di lantai dan mengarahkan wajahnya tepat dikaki Estian


"Apa yang sedang kalian lakukan, cepat berdiri yang benar lalu ceritakan semuanya! " kata Estian


Mereka berdiri lalu, "Tian sebagai sahabat yang telah mengenalmu sejak lama, aku tahu benar bagaimana sifat dibalik wajahmu yang sangat dingin itu. Saat ini aku hanya bisa berkata kalau kamu harus sabar, aku sangat yakin kalau tuan dan nyonya sudah tenang disana. Aku tahu kamu kuat tian! " kata Daniel lalu menepuk pundak kanan Estian dan berlalu pergi


"Tian kamu pasti tahu kalau tuan dan nyonya sangat menyayangimu dan Elena, kamu harus sabar karena aku pikir mereka meninggalkanmu disaat yang tepat. Tanggung jawab mereka sebagai orang tuamu telah selesai, karena kamu dan Elena sudah menemukan tambatan hati kalian. Kamu tahu kalau aku bukanlah orang yang gampang menangis, tapi lihat bagaimana wajahku sekarang. Aku tahu kamu kuat tian! " kata Justin menepuk pundak Estian dan berlalu pergi


Setelah mendengar perkataan kedua sahabatnya tadi membuat Estian terduduk lemas di lantai, tubuhnya gontai seakan dia tidak kuat lagi menopang seluruh tubuhnya begitu juga dengan Elena. Melihat itu orang tua Kinna (Mertua Estian) langsung menghampirinya dan menyuruhnya untuk berdiri, sedangkan dad bersama dengan mom menghampiri Elena


"Estian kamu harus sabar ya semua yang ada di dunia ini memang tidak ada yang abadi, semua orang yang hidup pasti akan mati. Kamu dan Elena tidak perlu takut, karena kalian masih punya kami" kata mama Kinna


Setelah mertuanya selesai berbicara dengan langkah gontainya Estian mencoba masuk ke dalam, terlihat dua orang tidur diatas brankar dan juga di tutupi kain putih. Elena membuka kainnya dan melihat dengan jelas wajah orang tuanya yang pucat, disana tangis Elena dan Estian kembali pecah. Namun Elena yang merasa ada yang aneh pun langsung bertanya


Elena yang saat ini tengah menatap wajah orang tua suaminya pun mengikuti mereka berjalan, ternyata di kamar lain grandma sudah menunggu kedatanganya. Elena melihat grandma tengah senyum menatapnya dengan posisi berbaring di kasur pasien, tanpa lama Elena langsung memeluk grandmanya


"Grandma tidak apa-apa kan, apakah ada yang sakit cepat beritahu Elena. Kalau ada sedikit saja tubuhnya grandma yang sakit, Elena akan cepat panggil dokter sekarang juga! " kata Elena


"Grandma baik-baik saja sayang dimana Edric, cucu tampan grandma, dan kakak iparmu? " tanya grandma dan disaat itu juga Estian langsung berlari mendekat menghampiri sang grandma


"Estian ada disini grandma, tapi saat ini grandma baik kan tidak ada yang sakit? " tanya Estian


"Estian cucu pertama grandma yang tampan jagalah baik-baik istri dan adikmu, jangan sampai salah satu dari mereka berdua tersakiti. Grandma sayang sama kamu, dan grandma minta maaf karena tidak hadir di pernikahan kalian berdua. Semoga setelah semua ini selesai, Kinna akan hamil! " kata grandma


"Elena cucu kedua grandma yang cantik, barang yang pernah grandma berikan padamu pasti masih kamu simpan kan. Disaat kamu berada di posisi yang sulit bagimu, pakailah barang itu dan bacalah kertas yang menyelip di bawahnya. Edric grandma minta tolong padamu untuk cepat sadar, berhenti bersikap egois dan menentang semua kenyataan yang telah terjadi. Cepat sadarkan hati dan juga pikiranmu, agar suatu saat nanti tidak ada orang yang tersakiti! " jelasnya pada Elena dan Edric (Grandma)


Setelah mengatakan semua yang ada di dalam hati, perlahan grandma menutup matanya dengan wajah yang terlihat begitu tenang. Melihat itu Elena yang keadaanya sedikit membaik pun kembali menangis histeris, begitu juga Estian. Sama sekali mereka tidak pernah terlintas di pikiran mereka jika akan secepat ini di tinggalkan


• • • • •


Esok harinya setelah pulang dari pemakaman tadi mereka semua berkumpul di mansion keluarga Clark, suasana disini tidak secerah biasanya. Dimana wajah semua orang tampak sendu, ditambah dengan mata yang sembab. Di tengah keheningan ini tiba-tiba saja Elena memulai pembicaraan


"Bagaimana bisa papa tega meninggalkan adek disini sedangkan papa sudah tenang disana bersama yang lain yaitu mama, grandma, grandpa. Saat adek lulus kuliah S1 papa bilang kalau papa akan berfoto sama adek saat adek lulus kuliah S2 nanti, tapi bagaimana sekarang papa tidak ada! Adek takut sendirian pa ma kak, adek tak- " belum sempat melanjutkan bicara Elena langsung pingsan


Dengan sigap Edric langsung menidurkan istrinya di sofa ruang tamu, terlihat jelas jika disini Elena yang merasa sangat terpukul dengan kepergian orang tua dan grandmanya. Estian yang panik dengan keadaan Elena langsung menelepon dokter keluarga, lalu tidak lama dokter itu pun sampai


"Kamu tidak perlu takut seperti dulu lagi Estian, saat ini kondisi Elena sudah sangat membaik. Elena tidak akan kembali seperti dulu lagi, jadi kamu tidak perlu takut. Yang terpenting saat ini adalah jauhkan Elena dari segala hal yang dapat membuatnya mengingat semua kejadian dulu, karena kalau sampai itu terjadi lagi maka hal itu dapat membuat kondisi psikologis Elena kembali dan lebih parah! " kata Dokter


"Baiklah kalau begitu terima kasih dokter, tapi tidak ada obat sama sekali yang harus Elena minum kan dok? " tanya Estian


"Tidak ada, karena kalau dilihat dari kondisi Elena sekarang sebaiknya Elena tidak mengkonsumsi obat. Karena orang sedang merencanakan kehamilan, lebih baik tidak mengkonsumsi obat itu! " kata Dokter


"Baiklah saya mengerti, terima kasih banyak ya dok sudah membantu istri saya" jawab Edric


"Sama-sama karena lagi pula ini juga kewajiban saya sebagai seorang dokter! "


• • • • •