
Edric dan Kinna kebingungan saat melihat Elena beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju panggung Live Music, Elena berbicara pada salah satu orang yang ada diatas panggung dan tidak lama setelah si penyanyi selesai bernyanyi. Dia mengatakan sesuatu yang bisa membuat Edric dan Kinna sangat terkejut
"Terima kasih sudah mendengarkan lagu yang saya bawakan ini, dan selanjutnya mari kita persilahkan seseorang pengunjung cafe yang ingin bernyanyi silahkan naik" kata sang penyanyi berbicara menggunakan mikrofonnya
"Halo semuanya, saya akan menyanyikan sebuah lagu yang cocok untuk orang yang sedang putus asa atau orang yang sedang berjuang namun berhenti ditengah jalan. Selamat mendegarkan" Elena berdiri dan di depannya terdapat standmic dan mikrofonnya, dia bernyanyi dengan tenang di iringi suara gitar
...I close my eyes and i can see...
...(Aku menutup mataku dan aku bisa melihat)...
...The world that's waiting up for me...
...(Sebuah dunia yang menugguku ku sebut duniaku)...
...That i call my own...
...(Dunia yang aku sebut milikku)...
...Through the dark, through the door...
...(Melewati kegelapan, melewati pintu)...
...Through where no one's been before...
...(Melewati tempat yang belum pernah disinggahi sebelumnya)...
...But it feels like home...
...(Tapi tempat ini terasa seperti rumah)...
...They can say, they can say it all sounds crazy...
...(Mereka bisa mengatakan, mereka bisa mengatakan jika ini terdengar gila)...
...They can say, they can say i've lost my mind...
...(Mereka bisa mengatakan, mereka bisa mengatakan aku sudah kehilangan akal)...
...I don't care, i don't care so call me crazy...
...(Aku tak peduli, aku tak peduli, jadi panggilah aku gila)...
...We can live in a world that we design...
...(Kita bisa hidup di sebuah dunia yang kita rancang)...
...'Cause every night i lie in bed...
...(Karena setiap malam aku berbaring di tempat tidur)...
...The brightest colors fill my head...
...(Warna yang terang memenuhi kepalaku)...
...A million dreams are keeping me awake...
...(Sejuta mimpi membuatku terjaga)...
...I think of what the world could be...
...(Aku memikirkan apa yang dunia bisa)...
...A vision of the one i see...
...(Sebuah visi yang aku lihat)...
...A million dreams is all it's gonna take...
...(Sejuta mimpi adalah segala hal yang akan terjadi)...
...A million dreams for the world we're gonna make...
...(Sejuta mimpi untuk dunia yang akan kita ciptakan)...
...There's a house we can build...
...(Ada sebuah rumah yang bisa kita bangun)...
...Every room inside is filled...
...(Setiap ruangan di dalamnya terisi)...
...With things from far away...
...The special things i compile...
...(Hal-hal spesial yang aku kompilasi)...
...Each one there to make you smile...
...(Masing-masing hal itu membuatku tersenyum)...
...On a rainy day...
...(Pada saat hari hujan)...
...They can say, they can say it all sounds crazy...
...(Mereka bisa mengatakan, mereka bisa mengatakan jika ini terdengar gila)...
...They can say, they can say we've lost our mind...
...(Mereka bisa mengatakan, mereka bisa mengatakan kita sudah kehilangan akal kita)...
...I don't care, i don't care if they call us crazy...
...(Aku tak peduli, aku tak peduli jika mereka memanggil kita gila)...
...Run away to the world that we design...
...(Aku berlari ke dunia yang kita rancang)...
...Every night i lie in bed...
...(Setiap malam aku berbaring di tempat tidur)...
...The brightest colors fill my head...
...(Warna yang terang memenuhi kepalaku)...
...A million dreams are keeping me awake...
...(Sejuta mimpi membuatku terjaga)...
...I think of what the world could be...
...(Aku memikirkan apa yang dunia bisa)...
...A vision of the one i see...
...(Sebuah visi yang aku lihat)...
...A million dreams is all it's gonna take...
...(Sejuta mimpi adalah segala hal yang akan terjadi)...
...A million dreams for the world we're gonna make...
...(Sejuta mimpi untuk dunia yang akan kita ciptakan)...
*****
Selesai bernyanyi Elena berkata terima kasih kepada semua orang yang sudah menikmati nyanyiannya, kemudian dia turun dari atas panggung dan berjalan ke meja yang terdapat Edric dan Kinna. Saat Elena sudah duduk di kursinya, Kinna langsung memeluknya dengan erat dan Elena pun membalas pelukannya
Edric yang melihat dua gadis kecil di depannya sedang berpelukan, membuatnya terenyuh. Terlihat jika persahabatan mereka ini sangat kuat, jika yang satu menangis satunya pun ikut menangis. Kinna melepaskan pelukannya dari Elena, lalu Elena memberinya tisu.
Melihat hidung Elena yang merah karena habis menangis membuat Edric gemas, selama kenal dengan Elena dia hanya menganggap Elena sebagai adik perempuannya. Karena dia juga sudah punya wanita yang dia cintai, Edric pun mengarahkan tangan kanannya lalu mencubit hidung mancung Elena. Karena perilaku Edric itu hidungnya pun semakin memerah
"Edric kamu... " Elena memukuli tangan Edric lalu memegang hidungnya yang bertambah merah akibat dicubit
"Hahaha, kenapa El? " jawab Edric tertawa kegirangan dan polos
"You're so annoying" jawab Elena ganti mengarahkan tangannya untuk mengelus rambut Edric, Edric pun terkejut karena sikap Elena. Tapi jangan salah saat Edric menikmatinya elusan tangan dari Elena, Elena langsung menjambak rambut Edric dan Edric pun berteriak kecil
"Awww, it hurts Elena" mengusap-usap kepalanya yang sakit karena dijambak
"Benarkah, maafkan aku dric" Elena meminta maaf lalu mengusap kembali kepala Edric agar sakitnya hilang
Kinna yang melihat interaksi Edric dan Elena hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar atau mungkin suami istri. Itulah yang ada di pikiran Kinna
"Kalian berdua ya, berantem terus nggak lama baikkan lagi. Aku nikahin aja sekalian ya" kata Kinna spontan
Mendengar perkataan Kinna membuat Edric dan Elena terdiam, lalu saling bertatapan dan menatap Kinna yang ada di depannya. Mereka tertawa karena tuturan Kinna yang terdengar seperti orang tua