
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.00 tapi Kinna masih membuka matanya, Kinna sempat tidur tadi namun dia terbangun. Karena merasa haus dia menyibak selimutnya perlahan agar tidak membangunkan Elena, lalu beranjak dari ranjang. Karena Kinna hanya memakai lingerie berbahan satin yang tipis, dia pun membuka lemari Elena lalu mengambil cardigan untuk dipakai
Kinna membuka pintu kamar lalu turun ke lantai bawah, saat menuruni tangga terlihat jika dapur sangat gelap hanya ada sedikit penerangan dari taman. Tapi mau tidak mau dia harus berani, karena dia ingin mengambil minum. Saat Kinna sudah sampai di dapur, tiba-tiba ada orang yang menutup matanya dari belakang
"Si.. Siapa? " tanya Kinna gemetar karena dia sangat takut
Tapi karena orang itu tidak menjawab perkataan nya Kinna langsung membalik kan tubuhnya dan melihat wajah orang itu bersinar. Kinna langsung terduduk di lantai
"Kinna, kamu kenapa takut ini aku" kata seseorang yang menjahili Kinna dia adalah Estian
Dia memegang kedua pundak Kinna bertujuan menyuruhnya berdiri dari lantai. Karena orang yang ada di depan nya Estian, Kinna langsung cepat-cepat memeluk nya
"Apa kamu sangat takut, sampai-sampai memeluk 'ku sangat erat seperti ini" kata Estian tertawa karena Kinna memeluknya sangat erat
"Kata siapa aku takut, aku hanya terkejut saat melihat wajahmu yang terang" jawab Kinna semakin mengeratkan pelukan nya, saat Kinna semakin mengeratkan pelukan nya pada Estian, dia merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya
"Sial ini sangat bahaya, kenapa dia tidak memakai bra. Tolong cepat lepaskan pelukan nya, jika tidak maka aku bisa lepas kendali" Batin Estian
Ketika Kinna sadar jika dia memeluk Estian sangat erat, dia langsung cepat-cepat melepas pelukan nya lalu mengambil gelas untuk minum. Terlihat jika wajahnya sangat merah, tapi dia pura-pura tidak tau begitu juga dengan Estian
"Apa yang kamu lakukan dini hari begini? " tanya Estian memecah kecanggungan diantara mereka
"Aku haus, jadi mau mengambil minum. Kakak sendiri kenapa ada di dapur? "kata Kinna lalu meminum minuman nya
"Aku berniat untuk membuat kopi agar mataku bisa terbuka lebar lagi, masih banyak dokumen-dokumen yang harus aku baca" jawab nya sambil mengambil panci namun ditahan oleh Kinna
"Lebih baik aku saja yang membuat kopi, kakak bisa menunggu sambil duduk" mengambil panci lalu mengisi dengan air dan menaruh nya diatas kompor
Sembari menunggu air mendidih dia menyiapkan cangkir dan lepek nya lalu memasukkan gula beserta kopi. Tidak lama airnya pun mendidih, Kinna langsung menuangkan nya ke dalam cangkir dan mengaduk nya. Setelah selesai Kinna langsung memberikan kopi nya pada Estian
"Kakak apa aku bisa berbicara sebentar padamu, ini sangat penting" ucap Kinna lirih namun pasti
"Baiklah kalau begitu kita berbicara di taman belakang mansion aja" Estian beranjak dari duduk nya lalu membuka sliding door di ikuti Kinna di sampingnya
Saat ini mereka sudah duduk bersebelahan di kursi kayu yang ada di taman, mereka berdua sama-sama menatap ke arah depan. Karena melihat situasi nya yang mendukung, Kinna mencoba memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaan nya pada Estian
"Kak sebenarnya aku ingin bilang sesuatu padamu, aku mohon tolong jangan anggap perkataanku ini sebagai candaan. Sebenarnya aku... " kata Kinna menatap Estian yang masih menatap ke depan, namun sebelum dia melanjutkan perkataan nya Estian menyela nya
"Apa kamu berniat berkata jika kamu mencintai 'ku? " ucap Estian langsung menoleh ke samping dan menatap matanya, Kinna langsung terkejut karena Estian sangat peka
"Kinna aku minta maaf padamu, tapi aku sudah punya wanita yang sangat aku cintai. Tahun ini aku berniat mengunjungi orang tua nya dan meminta izin untuk menikahi nya" kata-kata yang keluar dari mulut Estian membuat dadanya mencelos, dia merasa jika dadanya sangat sesak dan berniat untuk menangis namun sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak keluar
"Dalam waktu dekat ini aku akan melamar nya di depan semua orang, agar orang-orang tau jika dia sudah ada yang punya. Dan jika kamu mencintai 'ku, aku mohon tolong hilangkan rasa itu karena aku tidak ingin menyakiti hati calon istriku" kata Estian lagi yang membuat dada Kinna semakin sesak, dia sudah tidak kuat mendengar semua perkataan Estian
"Ma.. Mana mungkin aku mencintaimu kak, aku hanya menganggapmu sebagai kakak 'ku tidak lebih" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca, melihat wajah Kinna yang sebentar lagi akan menangis membuat Estian menggerak kan tangan nya untuk menyentuh pipi Kinna namun dengan cepat Kinna langsung menepis tangan nya
"Ka.. Kalau begitu pembicaraan nya sampai disini saja kak, aku akan pergi" Kinna langsung beranjak dari duduk nya dan berlari menuju lantai atas
Saat sudah sampai di dalam kamar Kinna langsung cepat-cepat mengambil kunci mobil, laptop dan memakai tas selempang nya. Dia turun lagi ke lantai bawah dengan terburu-buru namun, saat akan membuka pintu ada yang menahan tangan nya
"Pakailah ini diluar sangat dingin dan bajumu sangat tipis, kamu bisa kedinginan" ucap Estian sambil memakai kan jaket nya ke tubuh Kinna
"Te.. Terima kasih kak, kalau begitu aku pulang dulu. Tadi papa menelepon jika terjadi sesuatu di rumah" ucap Kinna lalu membuka pintu dan keluar
"Aku tau jika kamu sedang berbohong saat ini, maafkan aku tapi aku harus melakukan hal ini padamu. Dan tunggu saja nanti aku akan menebus semuanya, tidak lama lagi" Batin Estian masih terdiam berdiri di depan pintu