After You Left Me

After You Left Me
Dewan Penguji Yang Tampan



Tidak terasa waktu seminggu pun telah berlalu, besok adalah hari dimana akan menjadi hari yang menegangkan bagi para mahasiswa termasuk Elena dan Kinna, karena mereka akan di hadapkan dengan sidang skripsi. Seminggu ke belakang ini, Edric selalu meluangkan waktunya untuk sang istri


Saat ini juga di dalam kamar, terlihat Edric dan Elena yang sedang duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan. Edric sedang sibuk dengan kertas yang ada di tangannya sedangkan, sedangkan Elena sibuk untuk mengingat-ingat bagian dari skripsi yang setidaknya harus dia hafalkan


"Jadi disini aku berperan sebagai dewan penguji, dan untuk dosen pembimbingnya pura-pura ada saja ya baby. Bagaimana nyonya Edric, apakah anda sudah siap? " kata Edric sambil sedikit bercanda, agar Elena tidak terlalu tegang


"Tentu saja saya sudah siap pak suami" balas Elena sambil menahan tertawa


Di depan suaminya Elena mulai mempresentasikan skripsi atau hasil penelitiannya itu. Setelah selesai Elena mengakhirinya dengan ucapan terima kasih, dan sekarang saatnya sang dewan penguji (Edric) untuk memberi pertanyaan


"Apa judul dari penelitian atau skripsi yang anda tulis nyonya Edric? "


"Mengapa nyonya Edric tertarik untuk meneliti hal tersebut, dan apa alasannya? "


"Bagaimana cara nyonya Edric untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini? "


Berikut beberapa pertanyaan yang diberikan oleh pak dewan penguji. Elena menjawab pertanyaan yang di lontarkan suaminya dengan hati-hati, dengan suara yang jelas agar mudah dipahami. Maaf jika sidang skripsinya tidak sesuai, dan sebelum menulis hal diatas author pasti research terlebih dulu✌


"Bagus pintar banget sih, gitu dong lancar bicaranya nggak belibet seperti kemarin" kata Edric


"Syukurlah sayang, terima kasih juga karena kamu mau bantu aku biar cepat hafal dan nggak gugup saat ditanya, aku sangat menyayangimu" Elena berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah Edric, dan langsung duduk di pangkuan Edric dengan posisi kedua tangannya merangkul leher Edric


"Mau ngapain ini, kok duduknya begini banget? " membalas pelukan dari Elena, tidak lupa juga Edric menenggelamkan kepalanya di leher istrinya


"Sekarang kamu berdiri, cepatan" pinta Elena


Edric langsung berdiri dari duduknya dengan posisi Elena berada di gendongannya, sama persis seperti yang pernah mereka lakukan juga. Edric berjalan sembari menatap foto-foto yang tertata rapi di dalam lemari kaca



"Foto yang satu ini kalian berdua lagi dimana, vibes nya nggak kayak di Indonesia? " tanya Edric


"Memang bukan sayang, foto itu kami ambil saat berada di Hongkong tepat dua tahun lalu saat aku masih berumur 18 tahun"


"Tian juga ikut, terus dia dimana kok nggak ada di fotonya? "


"Kakak yang jadi photographer sayang, cup" jawab Elena dengan keadaan masih di gendong Edric, lalu dia mengecup bibir Edric



"Kalau foto yang pegang kue ini, birthday partynya siapa baby? " tanya Edric lagi


"Itu waktu ulang tahun Kinna setahun yang lalu sayang, saat dia masih berusia 20 tahun"


"Tapi kenapa balon dibelakang kalian berdua, tertulis birthday mint? "


"Karena Kinna suka sama makanan atau minuman yang berbau mint, jadi biasanya dia dipanggil mint sama teman-teman, cup"


Sekali lagi Elena memberi kecupan pada suaminya, yang berujung menjadi luma***. Edric yang tidak mau tinggal diam pun langsung membalas luma*** Elena, terlihat disini jika Elena yang sangat semangat untuk berciuman. Entah apa yang ada di pikiran Edric saat ini, namun Edric merasa jika hari ini dia ingin lebih dari sekedar berciuman


Edric langsung melangkahkan kakinya menuju ranjang, dan membaringkan Elena yang sebelumnya berada di pelukannya. Elena mengangkat tangan nya ke Edric sebagai kode untuk minta dicium, Edric yang saat ini peka pun langsung masuk ke dalam pelukan Elena dan menciumnya dengan menuntut. Elena pun tidak masalah dengan itu, dia malah memeluk Edric sambil mengelus punggungnya. Elena tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dia merasa sangat nyaman berada di pelukan Edric


Elena yang berada di depan Edric pun bisa melihat dengan jelas, jika saat ini suaminya sedang terbakar gairah. Matanya berkabut, nafasnya terengah-engah, dan wajahnya berkeringat. Elena langsung mengarah kan tangannya untuk mengelap keringat Edric, dan Edric hanya tetap menatap ke arah Elena. Setelah mengelap keringat, Elena mengarahkan tangannya menuju tangan Edric lalu membawa tangan Edric untuk memegang ujung kaos yang dipakainya saat ini juga


"Kamu ingin membuka ini kan sayang, bukalah aku mengizinkannya! " kata Elena


Dengan perlahan tapi pasti Edric langsung membuka kaos yang dipakai Elena, lalu membuangnya secara sembarangan. Saat ini tubuh bagian atas Elena telah terekspos, dan hanya tersisa bra berwarna hitam yang membalut dua gundukan sintalnya. Edric langsung menidurkan Elena kembali, lalu menyerang bibir Elena dengan semangat, jika sudah begini maka tangannya pun harus terlibat dengan kegiatan nya saat ini


Tangan Edric mengelus perut Elena, lalu elusan itu semakin naik menuju dua gundukan yang sedari tadi seperti memanggil Edric untuk segera melahapnya detik ini juga. Edric merem***nya perlahan dengan keadaan masih mencium Elena, dan Elena yang merasa sakit campur nikmat hanya bisa menutup matanya. Saat ini Elena sudah seperti kehilangan akal sehatnya, dia tidak menolak apapun yang dilakukan oleh Edric tapi malah menikmatinya


Edric yang sudah tidak tahan dari tadi pun, langsung mencoba untuk membuka pengait bra yang dipakai Elena sembari tetap menciumnya. Disaat pengait bra sudah terbuka, Edric langsung mengarahkan tangan nya untuk menyingkirkan bra yang menutup hak miliknya. Baru saja Edric mengangkat tangannya, tiba-tiba


Tok


Tok


Tok


"Edric... Adek... Kalian berdua cepatan turun, makan malamnya sudah siap!" teriak pria yang tidak lain tidak bukan adalah Estian


Bisa-bisanya mereka berdua ini lupa, jika saat ini juga mereka sedang berada di mansion Keluarga Clark. Mendengar suara Estian dari luar kamar, membuat pikiran Elena kembali sadar. Elena langsung mendorong tubuh Edric menjauh darinya, tidak lupa juga Elena mengaitkan bra nya yang terbuka karena ulah suaminya tadi


Elena mengambil kaosnya yang berada di lantai, lalu memakainya lagi. Disaat Elena akan berjalan untuk membuka pintu, tiba-tiba Edric memeluk tubuhnya dari belakang


"Apa yang kamu lakukan sayang, cepat lepaskan aku. Sekarang kakak pasti nunggu kita diluar kamar!" kata Elena


"Baby ayo kita lanjutkan yang tadi dulu" rengek manja Edric sembari menciumi leher Elena, lalu menggigit lehernya juga


"Aww sayang ayolah... Kakak sudah menunggu kita diluar kamar, cepat pakai bajumu" Edric pun menuruti perkataan istrinya, dia mengambil kemejanya yang tadi lalu memakainya seperti semula


Setelah mereka berdua rapi, Elena langsung membuka pintu dan memang benar jika Estian masih berada di luar kamarnya. Elena langsung keluar sambil menggandeng tangan Edric


"Lama banget sih kalian berdua, hampir 5 menit kakak berdiri nungguin kalian disini" kata Estian


"Maafkan kami kakak ipar, tadi istriku sedang tidur jadi aku membangunkannya" jawab Edric


"Baiklah kalau begitu ayo cepat turun, mama sama papa pasti sudah nungguin kita dari tadi" kata Elena


Mereka bertiga berjalan bersebelahan menuruni tangga, dengan posisi Edric - Elena - Estian. Estian bingung dengan sikap adiknya dan sahabatnya yang canggung, sikap mereka tidak seperti biasanya. Saat Estian menatap adiknya lekat, matanya langsung berhenti pada tanda merah yang terpampang jelas di leher putih Elena


"Gila banget kamu dric, bisa-bisanya sampai merah kayak gitu" kata Estian


"Ah... Kamu sudah menyadarinya kakak ipar" balas Edric tertawa kecil


"Kenapa kakak ada apa? Apanya yang sampai merah kayak gitu? " tanya Elena polos


"You have hickey on your neck dek!" bisik Estian


(Ada cup*** di lehermu dek)


• • • • •