After You Left Me

After You Left Me
Menentukan Pilihannya (2)



Siang hari ini Elena bisa bersantai-santai dirumah tepat nya di dalam kamarnya, dia sudah pulang kuliah karena hari ini Elena kuliah pagi. Saat ini Elena duduk di sandaran ranjang sambil menatap laptop nya, mulai dari sekarang Elena sudah memikirkan tentang skripsi tidak tau yang lainnya bagaimana tapi Elena memutuskan untuk memikirkan skripsi mulai dari sekarang


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, sebelum Elena memperbolehkan masuk orang itu sudah masuk lebih dulu ke kamar nya. Dia berjalan ke arah Elena dan mengajaknya bicara


"Dek kamu lagi sibuk nggak? " tanya Estian


"Nggak juga kak, kenapa emangnya? " Elena balik bertanya


"Kakak mau ngomong serius sama kamu, ini masalah perjodohanmu" duduk di tepi ranjang Elena sambil menghadap ke arah nya dan memindahkan meja beserta laptop Elena


"Grandma udah cerita semua ke kakak, masalah perjodohan yang diatur papa sama mama buat kamu. Kamu bilang kalau papa dan mama menawarimu lagi, kamu akan menerimanya kan? " memastikan perkataan grandma nya


"Elena pasti akan berusaha untuk menerimanya kak, aku nggak mau ngecewain kepercayaan mama dan papa. Dan juga mama sama papa juga sudah tua, Elena nggak mau sampai membuat mereka sedih" balasnya menatap Estian


"Papa bilang kakak harus menyampaikan ini padamu, tapi sebelumnya apa kamu benar-benar akan menerimanya dek? Karena papa memang benar akan menjodohkan mu lagi, dan papa menyuruh kakak untuk bilang padamu" jelas Estian


"Elena sudah yakin dengan keputusan Elena kak, aku juga sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari sebelum papa memberi penawaran lagi. Dan itu semua terjadi sekarang, papa benar-benar akan menjodohkan Elena lagi" tegasnya agar Estian percaya padanya


"Baiklah kalau memang itu keputusanmu, kakak hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu. Papa dan mama bilang jika dalam waktu dekat ini, mereka akan pulang ke Indonesia untuk mengurus pernikahanmu bersama mertuamu juga"


Melihat mata adiknya yang berkaca-kaca saat menatapnya membuat Estian terenyuh, dia langsung memeluk Elena dengan erat. Elena menangis di dada kakak nya, dan tentu saja air mata Elena pasti membasahi kaos yang dikenakan Estian. Namun Estian tidak peduli akan hal itu


Yang dia tau saat ini, dia hanya akan menjadi penyemangat untuk Elena. Memberinya kekuatan dan penjelasan, jika mama dan papa pasti mempunyai alasan sendiri, kenapa mereka menjodohkan Elena bukannya Estian


"Doain kakak juga ya dek, semoga kakak cepat menemukan bidadari yang memang tuhan siapkan untuk kakak. Dan tidak pakai lama-lama, kakak pasti akan langsung menikahi nya" memeluk Elena erat


"Kurasa bidadari nya sudah ada, hanya tinggal kakak saja yang harus bergerak cepat. Benarkan? " melepaskan pelukannya lalu menatap ke Estian dengan tatapan menyelidik


"Siapa emang? " menatap adiknya dengan heran


"Ada deh masa nggak tau sih kak, emang benaran nggak tau atau pura-pura nggak tau nih? " goda Elena sambil menoel hidung mancung kakak nya


Estian yang tidak tahan karena perilaku adik nya yang lucu ini, langsung menggendong Elena dengan cepat di tangan nya. Kemudian menidurkan Elena diatas ranjang lalu membungkus tubuhnya dengan selimut, dan hanya disisa kan kepala nya saja yang terlihat


Saat ini Elena terlihat seperti kepompong, atau mungkin ulat. Entahlah apa itu namun yang pasti saat ini Elena sangat lucu, dan bisa membuat Estian yang dingin ini tertawa terpingkal-pingkal. Disela-sela Estian tertawa, Elena masih mencoba untuk menggerakkan tubuhnya seperti jentik-jentik nyamuk, berharap jika selimut yang membungkus tubuhnya itu lepas. Tapi hasilnya pun tidak lepas-lepas


Estian yang kasihan karena melihat adik nya sudah menyerah dan kelelahan, akhirnya dia membuka selimutnya dan Elena bisa bernafas lega. Estian kelur dari kamar sedangkan Elena berbaring terlentang di ranjang, terlihat dada nya naik turun Elena mencoba mengatur napas nya agar normal kembali. Estian datang dari luar kamar Elena sambil membawa minum, Elena langsung mengambil gelas yang ada di tangan kakak nya dan meminumnya