After You Left Me

After You Left Me
Why Are You Crying?



Setelah keluar dari kamar grandma, Kinna berjalan ke arah sofa untuk duduk sebentar. Dia masih mencoba menenangkan hatinya yang terkejut karena perkataan yang di ucapkan grandma tadi, dia mengambil tisu yang ada diatas meja untuk menghapus air matanya. Kinna berencana untuk pulang ke rumahnya setelah keadaanya sedikit lebih baik dan terutama matanya yang terlihat sembab


Estian turun dari lantai atas sambil memegang ponsel di tangannya, karena dia habis menelepon sekretarisnya untuk mentransfer uang ke rekening dokter yang menangani grandma nya tadi. Saat melewati ruang tamu Estian mendengar suara orang sedang menangis, dia pun berjalan mencari sumber suara. Ternyata yang menangis adalah Kinna,  Estian pun menghampiri nya


"Kamu kenapa? " duduk di sofa lain dekat sofa Kinna


Melihat orang yang di cintainya berada di depannya membuat Kinna malu, wajahnya bengkak karena habis menangis. Saat Estian menatap lekat ke arah nya, Kinna langsung cepat-cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"Ditanya kok nggak di jawab, kamu kenapa nangis? " bertanya dengan lemah lembut. Karena lama menunggu jawaban dari Kinna, akhirnya dia memberanikan diri untuk memegang tangan Kinna yang digunakan untuk menutupi wajahnya


Saat tangannya di pindahkan Estian dari wajahnya, Kinna malah tidak bisa menahan tangisannya dan dia mulai menangis lagi sesenggukkan. Melihat Kinna yang menangis tepat di depannya langsung mengerakkan hati Estian untuk memeluknya, Estian memeluk Kinna sembari mengelus punggungnya agar merasa lebih baikkan


"Kalau nggak mau cerita sama kakak, nggak apa-apa. Yang penting jangan nangis lagi, nanti muka kamu tambah jelek loh" ucapannya membuat Kinna memukul dadanya berkali-kali


"Aku nggak apa-apa kak, aku cuman sedih aja" balasnya masih di dalam pelukan Estian


"Yaudah kalau begitu nggak usah sedih lagi okay, kamu lapar nggak? " bertanya pada sahabat adiknya dan diberi jawaban dengan gelengan kepala


Estian melepas pelukannya lalu menatap mata Kinna yang berada di depannya, dia mengusap-usap kepala Kinna dengan tangan kanan nya. Lalu tiba-tiba perut Kinna berbunyi dan itu membuat mereka berdua tertawa, terutama Estian


"Tuh kan katanya nggak lapar, tapi kok perutnya bunyi" ucap Estian sambil menahan ketawa


"Tunggu disini sebentar okay, kakak mau ke atas dulu"


"Mmh, iya kak" jawabnya


Estian naik lagi ke lantai atas menuju kamarnya, dia membuka laci yang ada di dalam lemari nya. Ternyata dia berniat untuk mengambil kunci mobil, setelah mengambil dia langsung turun ke lantai bawah menemui Kinna. Dia menggandeng tangan Kinna keluar dari mansion menuju garasi mobil, Estian membukakan pintu untuk Kinna lalu dia juga masuk dari pintu yang samping


Mereka berdua sudah ada di dalam mobil, lebih tepatnya salah satu mobil sport koleksi Estian yang lainnya. Saat ini Kinna merasa sangat canggung dengan Estian padahal biasanya tidak, mungkin ini terjadi karena Kinna mulai menyadari perasaannya jika dia suka dengan Estian. Bukan rasa suka sebagai adik ke kakak, tapi sebagai wanita ke pria


"Kak tian, sebenarnya kita mau kemana? " tanyanya menatap Estian


"Mau makan lah, kebetulan juga kan aku sama kamu juga lapar. Mau makan dimana? " menoleh sekilas lalu menatap ke depan lagi


"Makan di pinggir jalan nggak apa-apa kan kak? "


"Why not? Boleh lah terserah kamu mau makan dimana, yang penting kita makan" jawabnya


"Kalau begitu kita makan Ayam Penyet aja, deal? " mengarahkan tangannya untuk salaman


"Deal" melepas sebentar tangannya dari setir kemudi untuk salam dengan Kinna. Estian langsung melajukan mobilnya menuju warung makan yang dimaksud oleh Kinna, karena dia sudah merasa lapar