
Di dalam perjalanan menuju rumah yang dibeli suami nya, sepanjang jalan Elena tidak bersuara sama sekali. Dia menikmati musik dari radio mobil sembari menatap jalanan di depan nya
"Kamu kenapa baby dari tadi kok diam aja, are you okay? " Edric memulai pembicaraan
"I'm okay, aku hanya mengantuk sayang. Bolehkah aku tidur sebentar?"
"Boleh lah, kalau begitu cepatan tidur nanti kalau sudah sampai aku bangunkan"
• • • • •
Setelah waktu berlalu begitu cepat, akhirnya mereka berdua telah sampai juga di tempat tujuan nya. Edric memarkirkan mobil nya di depan rumah nya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku dan menelepon seseorang
Memulai panggilan
"Halo pak Edric, sekarang bapak sudah sampai dimana ya? "
"Iya halo pak, ini saya sudah sampai di depan rumahnya"
"Oh sudah sampai di depan rumah, maaf ya pak. Kalau begitu saya keluar sekarang"
"Iya pak nggak apa-apa, saya tunggu di mobil saya yang warnanya hitam"
Mengakhiri panggilan
Sambil menunggu kedatangan orang yang ditelepon Edric barusan, saat ini dia mencoba membangunkan istrinya yang sedang tertidur lelap
"Baby bangun... " menepuk-tepuk pundak kanan istri nya
Karena Elena tidak kunjung bangun, tangan Edric pun berpindah dari pundak menuju ke pipi mulus istrinya. Dia mulai mengelus nya
"Baby ayo bangun kita sudah sampai" terus mengelus sampai istrinya terbangun. Elena membuka matanya dan melihat sekitar dengan
"Ayo keluar orangnya sudah nungguin tuh" menunjuk seseorang yang berdiri di luar mobil
"Sebentar nyawa aku belum utuh" jawab Elena membuat Edric tertawa
"Apa nyawa kamu belum utuh haha? Kalau begitu kumpulin dulu sampai utuh, baru kita keluar"
"Sudah utuh, ayo kita keluar" membuka pintu mobil mereka masing-masing
Sampai diluar Elena berjalan mendekati Edric, lalu menggandeng tangan nya. Mereka berjalan bersama menuju rumah, yang sebentar lagi akan menjadi rumah mereka
"Ayo pak Edric silahkan masuk" ajak bapak yang di telepon Edric tadi
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah nya, terlihat semua barang perabotan sudah tertata rapi sesuai letaknya. Di lantai ini terdapat beberapa ruangan di antaranya ruang tamu, kamar tamu, bathroom, ruang kerja, laundry, dan masih banyak lainnya
Dan yang paling menarik perhatian adalah dapur, dari tadi mata Elena selaau tertuju pada dapur yang sangat bagus ini meskipun barangnya masih belum lengkap. Dan tidak lupa juga, di halaman belakang terdapat kolam renang beserta gazebo di sampingnya
• • • • •
Lanjut mereka naik ke lantai atas, dimana ada beberapa ruangan yaitu ruang baca, dua kamar dimana kamar utamanya mempunyai akses menuju balkon. Mereka berdua masuk ke dalam kamar utamanya, Elena sedikit terkejut karena dekorasi kamarnya sangat sesuai dengan seleranya. Padahal Edric tidak pernah tahu bagaimana selera kesukaan nya
"Kamu tahu darimana sayang? " menatap lekat suami nya
Edric yang mengerti maksud pertanyaan istri nya mengarah kemana pun langsung menjawabnya
"Kalau boleh jujur sebenarnya aku bertanya pada tian baby, mana mungkin aku tahu seleramu kalau nggak bertanya. Ya meskipun butuh perjuangan saat bertanya"
Saat ini di dalam pikiran Elena, dia ingin sekali memeluk Edric dengan erat sambil berucap terima kasih sekali lagi. Tapi Elena sadar jika dia tidak bisa melakukan itu, kecuali Edric yang mengawalinya. Elena hanya bisa membayangkan saja, apa jadinya jika sekarang dia berjalan ke arah suami nya lalu memeluknya dengan manja sambil berkata
'Terima kasih sayang, aku mencintaimu'
"Mulai besok kita sudah bisa tinggal disini, dan untuk barang-barang kita. Aku akan menyuruh seseorang untuk membawanya kemari"
Dan Elena hanya menjawab dengan anggukan sembari tersenyum manis ke arah suami nya
Disisi lain
Terdapat dua pria yang sibuk membaca-baca banyak dokumen, pria itu adalah Estian dan Justin. Mereka harus mengejar waktu dalam mengurus hal ini, bahkan mereka sampai lembur dan tidur di kantor
"Bagaimana persiapan gedung yang ada di kota j, sudah berapa persen? " tanya Estian dengan seseorang melalui telepon
"Untuk gedung, pengecatan, dan seluruh furniture sudah hampir selesai semua tuan, kurang 5% lagi"
"Jika 2 hari aku pulang ke Indonesia, apa kau yakin jika semuanya akan selesai"
"Insyaallah saya yakin tuan, karena tenaga kerja disini juga banyak jadi pasti cepat selesai"
"Baiklah kalau begitu, aku tutup"
Tut
Tiba-tiba ponsel Justin berdering, dia langsung mengambil ponsel nya dari saku dan melihat siapa yang sedang menelepon nya. Ternyata yang menelepon adalah istri nya, Justin menatap Estian untuk meminta persetujuan. Dan tentu saja Estian memperbolehkan nya
"Terima saja panggilan nya, kenapa kamu harus minta izin padaku. Lagipula kita sudah mengenal sejak lama"
"Baiklah thanks tian, kamu memang sahabat sekaligus bos terbaikku" berterima kasih ke boss nya ini
Setelah mendapat izin dari Estian, dengan cepat Justin langsung menerima panggilan tersebut. Dan dia sangat terkejut saat melihat layar ponsel nya yang penuh dengan wajah anaknya, mereka menggunakan panggilan videocall
"Hi baby J how are you, apa kamu sudah merindukan papa? " tanya Justin menatap anak nya
"Benar banget sayang, karena tadi dia tidur sore jadi sekarang dia bangun. Sepertinya dia memang saangat merindukanmu! " kata Kalina istri Justin
"Apa benar baby J merindukan papa, ya sayang ya? "
"Hehehe" (Anggap suara baby J tertawa ya)
"Kalau begitu saat akan pulang ke Indonesia, papa belikan mainan yang banyak buat baby J ya"
"Iya papa" jawab istrinya menirukan suara anak kecil
"Kamu juga cepatan tidur sayang, di Indonesia juga sudah malam kan" kata Justin menatap istri nya
"Iya sayang makasih ya, kamu juga take care. I love yo... " kata Kalina
"Emm, i love you too~ " jawabnya
"Wah cobaan macam apa ini, melihat asisten sendiri yang sedang bucin ke istrinya" celetuk Estian
"Ayolah tian apa kamu lupa, jika sebentar lagi kamu juga akan me-" ceplos Justin
"Justin itu rahasia, jangan sampai para readers tahu okay! "