
Di perjalanan menuju perusahaan Winnight Company di supiri oleh Daniel, Edric masih saja sibuk berkutat dengan laptop yang ada di pangkuan nya. Sejak meninggalkan gudang sampai sekarang, dia masih sibuk dengan laptopnya
Tidak di kantor tidak di luar kantor Edric tetap saja sibuk dengan pekerjaanya. Tapi itu semua memang masuk akal, karena Edric adalah seorang CEO. Dimana tanggung jawab perusahaan ada pada dirinya, dan nyawa perusahaan juga tergantung pada kinerjanya
Tidak lupa juga Edric menyalakan musik kesukaanya di mobil. Dia lebih suka mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan musik, namun musiknya juga harus cocok dengan suasana hatinya tidak sembarangan musik. Edric mengerjakan tugasnya sambil bernyanyi mengikuti lagu yang di dengarnya
Saat dia sibuk bernyanyi-nyanyi bersama Daniel juga, tiba-tiba ada suara yang berasal dari ponselnya. Dengan cepat Edric langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celana, kemudian langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat
"Hah, ganggu orang nyanyi saja sih" bergumam sebelum mengangkat teleponnya
"Halo siapa? " ucapnya dengan nada yang malas
"Ti sei dimenticato mamma, ragazzaccio"
(Lupa sama mom iya, dasar anak nakal)
"Haduh gawat tamat riwayatku, ternyata mom yang menelepon. Harus bagaimana ini, ayo Edric kamu pasti bisa. Kamu anak kesayangan mom oke, santai oke santai, calm down, calm down" Batin Edric
"Non posso dimenticare la mia bellissima madre, Edric kan juga kangen sama mom dad juga"
(Nggak mungkin lah aku lupa sama momnya Edric yang cantik ini)
Daniel yang mendengar Edric berkata seperti itu pada momnya membuatnya merinding
"Iya mom juga kangen sama kamu sayang, son apa kamu serius nggak mau terima tawaran dad saat di Italia? " tawar mom nya Edric
"Tawaran yang mana sih mom, perasaan nggak ada. Edric cuman ingat kata dad, kalau dad mau beli mobil baru lagi" balas Edric polos karena dia memang lupa apa tawaran dad nya padanya
"Tawaran per- "
Belum sempat mom nya membalas perkataan Edric, ponselnya langsung di ambil oleh dad nya. Memang ya kelakuan bapak sama anak nggak ada bedanya, ibarat kata 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya'
"Dad ganti pernyataan ini bukan sebagai tawaran, tapi sebagai permintaan. Dad minta dalam waktu satu minggu, kamu harus siap untuk menerima perjodohan yang sudah dad atur dan kalian akan menikah secepatnya" mendengar tuturan dad nya membuat Edric terdiam seketika, bisa-bisanya dia lupa jika dad nya pernah berencana untuk menjodohkannya
"Dad aku kan sudah pernah bilang, kalau aku nggak mau dijodohkan. Apalagi sama perempuan yang nggak pernah aku lihat wajahnya" sangkal Edric
"Dad mohon padamu son, kamu pasti cocok dengannya. Dia anak yang baik, dia juga blasteran sama sepertimu" dad nya mencoba untuk meyakinkan Edric
"Dad tahu kan, kalau Edric sudah punya orang yang Edric cintai. Edric nggak mau nikah sama siapapun, kecuali sama dia dad" Edric memohon pada dad nya, karena dia sama sekali tidak pernah jatuh cinta pada siapapun. Kecuali gadis kecil yang dia temui di masa lalu
"Dad nggak mau dengar alasan apapun, pokoknya satu minggu lagi kamu harus menikah. Dad nggak suka dibantah ya son"
Daniel mendengar jika nada suara, tuan besarnya itu memang sangat serius dengan ucapan nya
Diseberang Telepon
Mendengar perkataan suaminya yang semakin lama semakin membentak, dengan cepat mom Edric langsung menyahut ponselnya dari tangan dad Edric. Mom nya akan berbicara dengan baik, mencoba menjelaskan semuanya agar anak tunggalnya itu paham dan menerima perjodohan nya
"Edric dengerin mom, mom tahu kalau kamu cinta sama gadis kecil itu. Tapi mom yakin dengan perjodohan ini, mom nggak mungkin pilih menantu yang sembarangan untuk kamu sayang. Dia pasti cocok buat kamu, mom yakin jika dia adalah orang yang di persiapkan tuhan untukmu. Dan ingat satu kata ini 'Jodoh pasti bertemu' tidak peduli dia berada jauh darimu, atau bisa saja dia berada dekat denganmu, kalian pasti akan bertemu. Jadi kita sebagai manusia hanya menjalaninya dan selalu berdoa, dan tuhan yang mengatur semuanya " kata mom
"...."
Tidak ada jawaban, melihat Edric yang diam saja tidak menjawab perkataan mom nya. Daniel langsung mengambil alih ponsel yang di pegang Edric
"Mom sangat yakin jika kamu menolak perjodohan ini, maka kamu akan menyesal seumur hidup" kata mom lebih memperjelas
"Maaf nyonya, tapi sepertinya saat ini tuan sedang banyak pikiran. Setelah tuan sedikit lebih tenang, saya akan menyuruhnya untuk menelepon anda" Daniel menengahi masalah ini
"Baiklah Daniel, saya mohon kamu bantu jelasin ke Edric juga"
"Baik nyonya, maaf kalau begitu saya tutup dulu teleponnya" pamit Daniel
• • • • •
Jangan lupa like, komen, vote, dan tambahkan novel saya di favorite :)