
Setelah sampai di kampus, Elena langsung turun dari mobil dan sang driver pun meninggalkan nya. Dia terus berjalan menuju ruangan dosen untuk mengumpulkan tugas yang dia kerjakan kemarin malam, hari ini Elena tidak berkuliah
Setelah sekitar 20 menitan, akhirnya selesai juga Elena dan dosen nya berbincang-bincang membahas tugas yang barusan dia kumpulkan. Elena pamit pada dosen nya kemudian keluar dari ruangan, dan memutuskan untuk pergi ke taman
• • • • •
Elena mendudukkan tubuh nya di bangku taman tempat kuliahnya, udara nya terasa segar karena di sekeliling banyak ditanam pohon-pohon yang rindang juga tentunya. Elena diam sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan yang kosong
Lagi-lagi dia mengingatnya, saat ini Elena sedang memikirkan alasan nya memutuskan untuk berkuliah di Indonesia dan meninggalkan Amerika. Tentu saja alasannya hanya satu, karena perjodohan yang telah diatur oleh orang tuanya. Elena merasa terbebani dengan perjodohan itu, dan dia selalu berpikir "Kenapa harus aku? kenapa tidak kak Estian?" pikiran itu terus saja terngiang-ngiang di pikiran Elena
Ting
Terdengar suara ponselnya berdenting, Elena langsung merogoh tasnya lalu memasukkan tangan nya ke dalam dan mengambil ponselnya. Bisa dilihat banyak notifikasi yang masuk di ponselnya, namun hanya satu yang menarik bagi Elena. Pesan itu berasal dari "Balok Es" tentu saja siapa lagi jika bukan Edric, tanpa basa-basi Elena langsung membuka dan membalas pesan nya
Balok Es
Elena apa kamu sudah selesai? Jika sudah maka cepatlah keluar, aku sudah menunggumu di depan!!
Elena (The Coldest Woman)
Iya, kalau begitu tunggu aku Edric!
Elena langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kampus, bisa dilihat dari jauh jika sudah ada mobil mewah berwarna hitam terpakir disana dan posisi Edric sedang duduk di kap mobil menatap ke bawah. Melihat Edric sudah menunggunya Elena langsung berlari kecil agar cepat sampai
Edric mendongakkan kepalanya, dan terlihat jika Elena sedang berjalan ke arahnya. Edric langsung mengangkat tangan kanan nya dan melambaikan nya pada Elena. Elena sampai dan mereka berdua masuk ke dalam mobil
"Edric, sekarang kita akan pergi kemana? " tanya Elena
"Tunggu saja, kamu tidak perlu bertanya. Kamu akan tahu nanti" tanya balik pada Elena
Setelah pembicaraan singkat itu, mereka berdua tidak berbicara apapun dan suasana di mobil pun hening hanya terdengar suara musik dari radio. Elena hanya menatap ke arah luar sambil sedikit menampakkan senyuman nya, dan Edric menyadari hal itu
• • • • •
Mobil yang Edric kendarai pun berhenti di sebuah tempat dimana terdapat pemandangan yang begitu indah, Elena terkejut bagaimana bisa ada tempat yang seindah ini. Elena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia pun langsung keluar dari mobil meninggalkan Edric
Elena terus-terusan menatap sekeliling dengan tatapan takjub, saat ini dia sedang ada di sebuah puncak dimana dia bisa melihat matahari yang sebentar lagi akan terbenam dengan jelas, terdapat banyak pohon yang di kelilingi lampu hias, dan ada kursi santai
Selesai memakirkan mobil, Edric keluar lalu menguncinya dan berjalan menuju Elena. Dan saat ini Edric sudah berdiri di samping Elena yang sedang menatap sunset tepat di depannya. Edric ikut menatap sunset itu lalu menutup matanya, menikmati angin segar yang ada di sekitarnya sebelum dia membuka suara
"Elena kamu adalah orang pertama yang aku ajak ke tempat ini setelah sekian lama"
"Tempat ini adalah tempat yang mempunyai banyak cerita dalam hidupku, dimana aku bertemu dengan seorang gadis yang saat pertama kali aku melihatnya aku langsung menyukainya. Namun kami berdua harus berpisah, entah apa alasan nya. Dan aku tidak tahu dimana keberadaanya sekarang, aku sangat merindukan nya" jelas Edric sedih
"Jika aku boleh menebak, apakah dia cinta pertamamu? "
"Iya kamu benar sekali, dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku akan selalu mencintainya, sekalipun aku tidak tahu keberadaan nya"!!!!
"Tapi kita baru saja berteman, kenapa kamu menceritakan semua ini padaku. Atas dasar apa kamu begitu mempercayaiku? " tanya Elena serius
"Iya aku tahu, dan aku tidak punya alasan untuk itu. Tapi entah kenapa aku sangat yakin dengan perasaanku, jika aku percaya padamu" menatap mata Elena
Elena juga membalas menatap manik Edric, dimana terlihat jelas ada kesedihan begitu mendalam di mata pria itu. Elena pun langsung mengulurkan tangan nya, dan mengelus-elus pipi Edric. Dia mencoba merasakan usapan tangan Elena. Tiba-tiba tangan Elena terulur untuk menaruh kepala Edric bersandar di pundaknya
"Bersandarlah di pundakku Edric, luapkan semua masalah yang membebani pikiranmu selama ini. Lepaskanlah semuanya agar hatimu bisa jauh lebih tenang! "
Karena kata-kata yang keluar dari bibir Elena tadi, entah kenapa tiba-tiba mata Edric mengeluarkan air mata. Edric menangis tapi dia mencoba untuk menyembunyikan nya, tapi Elena sadar jika teman nya ini menangis. Edric mengangkat kepalanya dari pundak Elena
"Terima kasih banyak Elena" kata Edric
"Sebentar dulu sebelum kamu berbicara, hapus dulu air matamu. Seorang pria tidak boleh memperlihatkan air matanya kepada orang lain, cukup dia, orang yang dia percaya, dan tuhan yang tahu! "
"Kenapa kata-katamu terasa sangat familiar di telingaku Elena? Sebenarnya siapa kamu? " Batin Edric
"Terima kasih, berkatmu aku jadi bisa merasakan hal yang sudah lama tidak aku rasakan" kata Edric
"Sama-sama kita kan teman, tentu saja aku akan membantumu. Jika kamu membutuhkan seseorang untuk bercerita, kamu bisa memanggilku kapanpun" Elena tersenyum menatap Edric
"Apa aku boleh bercerita sedikit tentang hidupku? " tanya Elena dibalas anggukan dan senyuman oleh Edric
"Jujur, aku adalah orang sulit untuk bersosialisasi dan itu semua terbukti. Aku hanya mempunyai satu orang teman yaitu Kinna, aku sudah mengenalnya sejak kecil karena kita tumbuh bersama. Tapi sepertinya aku tidak akan sedih lagi, karena aku sudah mempunyai satu teman lagi dan saat aku mengenalnya entah kenapa aku merasa begitu bahagia. Padahal kami belum lama saling mengenal, tapi aku merasa bahagia jika ada orang itu. Orang itu adalah kamu Edric" jelas Elena panjang lebar
Edric tersenyum menatap Elena, lalu mengacak-acak rambutnya gemas. Elena mengerucutkan bibirnya, tentu saja dia kesal karena rambutnya jadi berantakan. Dan Elena pun membalasnya dengan ganti mengacak-acak rambut Edric
Mereka berdua merasa aneh dengan diri mereka masing-masing, Edric dan Elena baru saja mengenal tapi mereka sudah bisa se-akrab itu. Bahkan mereka hampir lupa jika mereka baru berteman dua hari
• • • • •
Author : Jangan lupa dukung terus karya author dengan cara like, komen, dan vote. Terima kasih :)