A3

A3
KETULUSAN



"Kau benar benar tidak bisa di percaya Ariel.Tadi kau menangis tersedu dan sekarang kau makan dengan lahapnya juga berwajah ceria."Calvin geleng geleng kepala dan juga kagum di satu waktu saat Ariel bisa berubah yang tadinya sangat sedih lalu menjadi bahagia hanya karena makanan.


Ariel tersenyum pada Calvin dengan mulut yang penuh.


Rupanya,selepas pulang dari taman tadi.Calvin mengajak Ariel makan di restoran yang mewah.Melihat hidangan lezat yang di sajikan,Ariel lalu lupa akan kesedihannya dan menyantap semua makanan itu dengan lahap.


"Hei,makanlah pelan pelan.Tidak akan ada yang merebut makanan ini darimu."Seru Darren yang melihat Ariel makan seperti kerasukan.


"Emmmm..makanan ini benar benar lezat.Memakannya membuat air mataku ingin keluar."Ariel bertingkah berlebihan saking lezatnya makanan itu.


"Kalau begitu jadilah pacarku.Aku akan membawamu kencan dengan makan enak kapanpun kau mau."Ucap Calvin asalam asal saja sambil bercanda.


"Tidak,aku tidak mau jadi pacarmu.Kau jangan bermain dengan ucapanmu.Cukup Darren saja anggota A3 yang membuatku muak.Sahabatku Vivian suka padamu."Ariel lalu membuka kartu sahabatnya.


"Siapa Vivian??"Calvin masih asing dengan nama itu.


"Temanku yang waktu itu melayanimu di tempatku bekerja."Ariel memperjelas tentang sahabatnya itu.


"Ohhhh."Calvin terlihat kurang begitu senang sekarang.'Itu berarti aku tidak akan bisa lebih jauh dengan Ariel karena terhalang sahabatnya itu.


Tapi,gadis menarik ini tidak akan kulepaskan begitu saja.Terlebih,aku harus melindunginya dari Darren yang akan membalas perbuatan Ariel.Gadis ini masih memberiku rasa penasaran.'


Malam harinya Darren membuat sebuah rencana untuk mempermalukan Ariel secara total."Lihat saja gadis miskin,kau akan melihat betapa uang itu akan sangat berkuasa."


"Aa yang kau rencanakan Darren??Kenapa Calvin tidak di bawa??"Jimmy merasa aneh karena hanya ia yang di panggil Darren malam ini.


Rupanya hanya Jimmy yang menemani Darren malam itu dan minus Calvin."Tidak Jimmy,Calvin terlalu di butakan gadis kampung itu sekarang.


Kita tidak bisa membawanya.Cukup kau dan aku saja."


Di rumahnya,Ariel sangat senang karena sedang di telfon oleh Calvin.Mereka membicarakan banyak hal.Tapi saat sedang bertelfonan itu ada suara orang bertengkar dan ribut yang terdengar oleh Ariel."Siapa itu Calvin??


"Orang tuaku.Mereka memang selalu bertengkar."Jawab Calvin jujur.


Ariel lalu merasa iba.Hei,ayo keluar..Ajak aku jalan jalan dengan motor itu.Aku akan mentraktirmu es yang enak dan segar.."Ariel sudah merencanakan sesuatu sepertinya.


"Baiklah,aku terima tawaranmu."Calvin tersenyum dan menerima niat baik Ariel.


Tidak lama,Calvin dan Ariel sudah membelah jalanan dengan knalpot besar motor Calvin yang membuat suara bising."aaaaa...segarnya."


"Hei,pegangan.Kau bisa jatuh nanti."Suara Calvin bersaing dengan suara motornya yang kuat dan bising.


"Apa katamu??,Aku tidak dengar."Ariel tidak mendengar jelas dan sibuk menikmati angin malam.


Calvin hanya tersenyum melihar Ariel yang begitu menikmati boncengannya di atas motor itu.Mereka berdua lalu berhenti di sebuah kedai es kecil di pinggir jalan.Calvin kaget merasakan es yang lezat dan segar itu."Em...rasanya manis dan ringan.Harganya juga murah."


"Kau menyukainya kan?Sudah kuduga.Iya es serut ini memang sangat lezat,rasa manisnya bisa membuatmu bahagia."Ariel ikut senang pada Calvin yang ikut suka dengan seleranya.


Ariel menyeka tepian bibir Calvin yang belepotan es.Tangan Ariel yang lembut menyapunya secara perlahan.'Aku rasa aku jatuh cinta pada gadis di depanku ini.Dia tidak haus akan harta atau kepopuleran..Hatiku meleleh dan melumer karenanya.'


Malam itu Darren menyadari jika Ariel adalah orang yang spesial untuknya.


Esok harinya Ariel bertemu dengan Vivian.Ariel bercerita bagaimana semalam ia makan es serut bersama Calvin.Raut Vivian berubah tidak enak.."Vivian,kami tidak ada apa apa.Kami hanya berteman.Dan tahu,aku juga akan membuatnya mau jalan denganmu."


"Benarkah??"Wajah Vivian langsung merona mendengar hal itu.


"Iya tentu saja."


'Maafkan aku Vivian,sebenarnya aku berbohong.


Maaf tadi aku malah keceplosan bercerita padahal kau menyimpan perasaan pada Calvin.'Ariel meras bersalah karena telah berhohong pada Vivian.


Ariel lanjut kekelas.Baru saja memasuki pintu kelas,ia sudah tiba tiba tersiram air dari atas pintu.


"Hahahahahaha."Seisi kelas menertawainya.Calvin berdiri ingin menolong namun Jimmy menahannya.


"Apa apaan ini!!!"Protes Ariel keras.


Ariel menatap Darren yang tersenyum.


"Semua ini pasti ulahnya.'Rutuk Ariel.


Darren mulai melancarkan misinya,ia akan menjahili Ariel sampai puas.Darren juga sudah mengancam alvin agar tidak ikut campur atau akan di keluarkan dari A3 dan dimusuhi.Ariel paham betul,karena itu ia menatap Calvin sembari tersenyum agar Calvin tahu ia tidak apa apa dan tahu jika Calvin di bawah pengaruh Darren.


"Bagaimana aku akan belajar dengan pakaian basah begini."Ariel terlihat sedih karena seragan sekolahnya yang basah itu.


Sherly senang,Darren mulai mengambil tindakan pada Ariel."Rasakan gadis kampung,kau itu tidak lebih dari anjing penjaga di kelas ini yang hanya bisa mengonggong.Kau tetap harus patuh pada majikanmu."


Hal ini belum apa apa.Saat Ariel kembali ke kelas kursi nya sudah patah dan mejanya juga penuh coretan seakan pertanda ia tidak boleh mengikuti pelajaran.


Uang untuk mendekor kelas juga hal laiinya.Ariel hanya membawa sedikit uang.'Bagaimana iniKenapa mendadak dan harus membayar besar sekali?Sumbangan wajib itu sama dengan uang jajanku selama setahun.'


"Hei Miskin,kau tidak ada uang ya?Kenapa melogo seperti itu?Semua orang sudah menyumbang,kenapa kau belum?Mana keberanianmu yang dulu aku lihat?Apa taringmu lumpuh setelah melihat betapa berkuasanya aku?Sekarang orang yang kau selamatkan sudah menjadi pesuruhku yang selalu membersihkan halaman sekolah setiap hari.Kau takut bernasib seperti dia??"Darren benar benar membalas Ariel hari ini dengan kekuasaannya.


Ariel mengepalkan tangannya."Ini semua ulahmu kan Darren!Kau sengaja berbuat begini agar aku kalah dan keluar dari sekolah ini!!!Silahkan saja,tapi aku si rumput liar ini tidak akan menyerah!!"


Darren hanya tersenyum..'Tunggu saja acara puncaknya bodoh!!Ini semua belum apa apa,kau akan membayar semua penghinaanmu padaku!!.'


Calvin bertemu Ariel sepulang sekolah."Ariel,maaf aku tidak bisa membantumu."Calvin merasa bersalah dan penuh penyesalan tidak bisa memnbantu Ariel.


"Sudahlah tidak apa apa Calvin.Aku tahu,kau yang diam diam membayarkan sumbangan sekolah untukku kan.Terima kasih ya."Ariel senang dan merasa terhibur karena masih ada pria baik yang berdiri di pihaknya.


"Iya Ariel sama sama.Tapi kenapa kau tampak berbeda?"Sekarang kau seperti agak takut pada Darren dari pengelihatanku."Tanya Calvin heran pada diri Ariel yang berbeda di matanya.


"Dia memanfaatkan kekusaannya.Bibi yang merawatku mendapat teguran dari bosnya.Rupanya pemilik perusahaan asuransi tempat bibiku bekerja adalah milik keluarga Darren.Bosnya memperingatkan bibiku agar aku tidak macam macam pada Darren atau dirinya dan perusahaan akan menanggung akibatnya.Karena itulah sepertinya mulai sekarang aku harus takut dan tunduk padanya.Aku tidak mau bibiku dalam masalah lagi."Ariel ikut terbuka tenta apa yang menimpanya pada Calvin dan dalang dari semuanya adalah Darren.


"Tenangkan dirimu ya Ariel.Aku akan menghiburmu,katakan apa yang kau inginkan??"Calvin menunduk dan memandang wajah Ariel sambil tersenyum.


"Benarkah?Kau akan mengabulkannya apapun itu?"Ariel malah terpikirkan sesuatu.


"Tentu,katakan saja."Calvin juga serius dengan omongannya.


"Begini,tolong pergilah kencan dengan Vivian hari minggu nanti.Dia sahabatku yang baik dan sangat menyukaimu.Aku mohon."Itulah permintaan Ariel karena rasa bersalahnya pada Vivian.


Wajah Calvin terlihat berat,namun ia juga harus menepati omongannya."Iya baiklah."


"Terima kasih."Ariel refleks dan memeluk Calvin.Hal itu membuat Calvin berdebar tidak karuan.Tapi Calvin juga bahagia dan merangkul balik Ariel.


Hari ini adalah pelajaran olahraga dan akan memainkan olaharaga lari .Rutenya juga adalah rute tidak biasa dimana kelas A akan menggunakan rute bukit di belakang sekolah.


Ariel kelihatan bersemangat karena olahraga lari adalah salah satu keahliannya.Ariel mereganggkan badannya.


A3 menatap Ariel yang bersemangat itu.Jimmy mengeluarkan mulut pedasnya."Lihatlah gadis kampung itu,dia sangat senang karena akan masuk hutan."


"Biarkan saja,biarkan dia merasa senang sebelum rencanaku menghancurkan dan mempermalukannya. di mulai."


"Apa maksudmu Darren??"Tanya Calvin sangat ingin tahu karena ini menyangkut Ariel.


"Sudah Calvin,kau tidak usah ikut campur."Tepis Darren pada tanya Calvin.


Darren dan Jimmy sama sama bungkam dan tidak mau memberi tahu Calvin.Calvin merasakan firasat buruk tentang itu.


BERSIAP...


MULAI....


Semua murid kelas A mulai berlari.Darren yang semalam terlalu keras belajar sedang tidak fit dan ia jauh tertinggal karena lelah dan kurang tidur.Ariel malah sudah jauh di depan.Tapi saat sudah jauh,ia memeriksa koceknya yang ternyata bolong."Uang sakuku pasti tercecer.Ah...sial.Aku harus kembali lagi,padahal sudah di depan."Mau tidak mau,Ariel putar balik dan kembali.


Saat itu Darren yang lemah malah terjatuh dan pergelangan kakinya terkilir."Argghhhh."Terdengar suara tulang Darren yang mengeluarkan bunyi saat jatuh itu.Darren terduduk dan tidak mampu bangun.


Ia juga tidak membawa ponsel.


"Bagaimana ini!!Akan sangat lama menunggu orang menolongku.Sepertinya aku urutan terakhir."Darren malah terkena musibah saat lomba itu.


Tepat saat itu,Darren melihat Ariel.


Dan Ariel juga menatapnya.


Ariel segera menghampiri Darren."Ada apa denganmu?Kau terluka?"


"Kakiku."Darren memegang kakinya yang sakit.


Ariel langsung melihat pergelangan kaki Darren."Kakimu sepertinya terkilir."


Wajah Darren juga meringis menahan sakit.


"Ayo,aku akan memapahmu."Ariel berusaha meraih tangan Darre.


"Tidak!! Tinggalkan saja aku!! Aku tidak mau di tolong orang sepertimu! Kau pasti mengharapkan imbalan dan berharap aku baik padamu kan?"Darren malah menolah niat baik Ariel dan membentak Ariel.


"Serendah itukah kau memandangku?Apa selama ini tidak pernah ada yang tulus padamu."Ariel agak kecewa dan sedih pada ucapan Darren tadi.


Darren menatap mata Ariel yang berbinar namun tidak lama mengacuhkannya.


Ariel tidak peduli dan tetap memapah Darren dan membantunya bangun.Darren tidak punya pilihan di banding menunggu lebih lama.


Ariel memapah Darren sekuat tenaga.Darren melihat wajah Ariel dan mengingat lagi saat waktu itu Ariel menghisap tangannya yang terluka