
Sesampainya di Taiwan mau tidak mau semua harus berpencar.
Jimmy,Calvin dan Sherly menuju kediamannya masing masing.
Darren masih nekad bersama dan menemani Ariel menuju rumah sakit.
Ariel terus menangis walau Darren tetap di sisinya dan menenangkannya.Darren hanya bisa ikut sedih dan prihatin atas apa yang menimpa bibi Ariel.
Sesampainya di rumah sakit,bibi Ariel memang dalam kondisi kritis.Namun karena suatu alasan para dokter masih enggan mengoperasi bibi Ariel.
Rupanya,rumah sakit itu dalam kekuasaan genggaman orang tua Darren.Mereka sengaja memancing Ariel dan Darren datang.
Seperti dugaan mereka,Ariel dan Darren benar benar datang ke sana.
"Dokter,kenapa bibiku tidak segera di operasi? Bukankah kondisinya sudah sangat kritis? Aku mohon selamatkan bibiku."Ariel menangis sambil memohon
Dokter itu juga iba dan bimbang.Hati kecilnya menjerit ingin menolong,tapi apa mau di kata.Orang tua Darren sudah mengekang dan memborgolnya sehingga rasa kemanusiaannya juga harus tertahan.
"Hei!!!"Darren naik pitam lalu menarik kerah baju dokter itu dan mencengkramnya penuh emosi."Kau sebut dirimu dokter tapi mengabaikan pasien yang membutuhkan pertolonganmu!!!! Apa kau hanya dokter berkedok iblis!"Darren juga geram pada sikap diam dokter itu.
"DARREN!!!"Suara ibu Darren membelah perdebatan itu.
"Ayah dan ibu yang memaksanya untuk tidak menyentuh pasien yang sekarat itu.Pasien itu akan menjadi barang yang akan menentukan kesepakatan kita."
Darren melepaskan dokter itu dan menatap ibunya tidak percaya."Barang?? Ibu sebut bibi Ariel yang sedang sekarat itu barang?!!!"Nada Darren mulai meninggi.
"Daren..Darren."Ibu Darren menggeleng menatap puteranya yang semakin berani itu."Jaga sopan santunmu Darren!!! Aku ini ibumu!!!! Ibu yang membesarkan dan melahirkanmu!!!"Bentak ibu Darren kasar.
"Benar!! Kau sudah kelewatan pada ibumu hanya demi gadis rendahan itu!!! Apa dia sudah menyempal dan menyogokmu dengan tubuhnya!!!"Ayah Darren juga ikut marah.
"DIAMMMM!!!!!"Darren menjerit kuat.Dadanya terasa sesak dan menjerit kuat.Batinnya menantang dan mencekam.
"BRUKKK"Di sebelah Darren,Ariel malah berlutut dan memohon.
"Tuan,nyonya,aku mohon selamatkan bibiku.Hanya dia yang aku miliki.Hanya dia anggota keluargaku yang tersisa."Ariel dengan tulus memohon dan hanya cara ini yang tersisa dan terpikir olehnya.
Darren menoleh kesamping dan melihat betapa Ariel sudah sangat menderita dan putus asa sekarang.
Darren melihat orang tuanya yang bisa santai tersenyum angkuh dan menggenggam nyawa bibi Ariel seakan mereka adalah Tuhan.
"Darren,sekarang keputusan ada di tanganmu.Jika kau ingin orang yang sedang sekarat itu di operasi,gadis kampung itu bisa hidup tenang juga sahabat sahabatmu bisa selamat dari kebangkrutan yang ayah dan ibu ciptakan,maka kau harus rela mengakhiri hubunganmu dengan gadis menyedihkan itu dan pindah ke Amerika untuk melanjutkan sekolah.Kau tidak boleh kembali ke Taiwan untuk sementara waktu.Kau harus tetap di sana sampai kau memegang perusahaan kita."Itulah yang di inginlan ibu Darren sebagai imbalan.
Darren dan Ariel saling berlihatan.Mata Ariel semakin berlinang air mata dan Darren juga menangis di situ.
Darren lalu memegang pundak Ariel."Bangunlah."Darren mengangkat Ariel berdiri.
"Apa kau akan pergi?"Ariel berusaha bicara walau dengan suara bergetar dan menahan isak tangis sesenggukan.
"Aku harus melakukannya agar kau dan sahabat sahabat kita bisa tenang.Aku masih tidak memiliki kekuatan atau daya apapun.Suatu saat aku akan kembali saat menjadi orang hebat.Aku tidak memintamu menungguku.Tapi aku mau kau tetap tertawa dan tersenyum selalu.Kau juga harus menjadi dirimu sendiri dan jangan biarkan siapapun menindasmu.Aku ingin kau tetap hidup dan bahagia walau tanpa aku."Darren pada akhirnya mengalah demi Ariel dan teman temannya.
Ariel memejamkan mata sambil menangis.Runtuh sudah pertahanannya.Ia juga tidak bisa menahan Darren karena situasi begitu rumit.Nyawa bibinya bahkan menjadi taruhan kali ini.
Karena itu Darren mengalah,Darren memutuskan pergi dan menuruti orang tuanya."Baiklah,aku akan pergi bu.Aku akan menuruti perkataan ibu,tapi bebaskan Ariel juga teman temanku dan biarkan mereka hidup tenang."Darren menegapkan badan dan berusaha tegar.Hanya sebatas ini pelarian dan perlawanannya.
"Baiklah.Ibu akan kabulkan permohonanmu."Ibu Darren tersenyum,begitu juga ayah Darren.
"Tapi kalian harus ingat,kalian sudah sekejam ini padaku.Langit melihat dan menyaksikan apa yang kalian lakukan.Tuhan juga punya mata yang mengawasi kalian.Maka dari hari ini,aku akan tumbuh sebagai orang yang lain!Orang yang sama seperti kalian yang berdiri di hadapanku sekarang.Aku hanya menunda kemenanganku walau sekarang aku mengalah."Darren sedikit memberi gambaran seperti apa dirinya akan terbentuk nanti.
"Ya Ya Ya.Terserah kau saja."Ayah Darren menertawakan dan menganggap remeh omongan Darren.
Darren melangkah pergi dengan tetesan air mata tanpa menoleh kebelakang.Darren tidak ingin berbalik karena takut tidak mampu melanjutkan langkahnya jika berbalik dan melihat Ariel lagi.
'Ariel,tunggulah aku.Suatu saat aku akan kembali lagi.Saat aku sudah menjadi orang yang hebat dan berkuasa,aku akan datang dan menemuimu lagi.Aku tidak akan melupakan cinta pertama di masa mudaku ini.Kau adalah cinta pertama dan terakhirku Ariel.' Darren terus menjauh dan berjalan dengan orang tuanya.
Ariel hanya bisa melihat punggung Darren yang ssmakin menjauh dan hilang pada akhirnya dari pandangannya.
'Darren,terima kasih kau rela mengalah demi aku.Kau mengorbankan dirimu demi aku dan teman temanmu.Kau sungguh setia kawan dan kekasih yang baik.Kau adalah pria hebatku,kau adalah pahlawanku dan kau adalah belahan jiwaku.' Ariel juga akhirnya harus melepas Darren dengan ikhlas dan menghargai pengorbanan Darren.
Bibi Ariel lalu di operasi hari itu.Vivian,Sherly,Jimmy dan Calvin juga sudah bisa tenang karena orang tua Darren sudah tidak membuat keributan lagi.
Semuanya juga tahu dari Ariel jika Darren sudah pergi dan berkorban demi semua ini.
Jimmy dan Calvin sangat terpukul atas kepergian sahabat mereka sekaligus ketua geng A3 itu.
"Dasar bocah licik,ia bahkan pergi tanpa berpamitan.Apa dia takut menangis dan kelihatan cengeng.Harusnya sisakan sedikit waktunya untuk perpisahan ini."Calvin menengadahkan kepalanya ke atas menahan air matanya yang hendak tumpah karena mengenang Darren.
"Dia pergi sebagai pahalawan.Entah kenapa aku merindukan sikap congkak,sok tahu dan keras kepalanya.Aku harap ia bertemu orang yang tahan dengannya dan mampu mengendalikannya.Si banteng itu sangat mudah mengamuk,tapi ia selalu setia kawan."Jimmy juga berdiri bersandar di dinding rumah sakit dan tertunduk dengan kedua tangan di saku celana.Jimmy juga terpukul dan sedih dengan kepergian Darren.
Vivian dan Sherly lebih berpusat untuk menenangkan Ariel yang menangis hingga matanya bengkak.Ia sudah kehilangan Darren,dan sekarang sedang menunggui bibinya yang sedang kritis.
Malang sungguh nasib Ariel.Saat dokter keluar dari ruang operasi.Kabar duka datang sekali lagi.
"Maaf nona,kami sudah berusaha semampunya.Tapi Tuhan lebih menyayangi bibi anda."
Ariel langsung lemas seakan tulang kakinya menjadi lunak.Ariel terduduk di lantai.Di hari yang sama,ia harus kehilangan dua orang yang sangat di cintainya,pertama Darren dan sekarang bibinya.
Ariel sudah menjadi seorang gadis sebatang kara sekarang.