A3

A3
KECELAKAAN MOBIL



Kelas 3 SMA terasa berbeda karena Anggota A3 sudah berkurang 1.Darren yang menjadi pilar sekolah itu juga penghidup suasana sudah tidak ada lagi.


Ariel yang sebatang kara sekarang ikut tinggal bersama Vivian.Orang tua Vivian kasihan pada Ariel lalu mengajak Ariel tinggal bersama.Vivian juga senang karena sekarang bisa serumah dengan Ariel dan menjadi layaknya saudara.


Di kelas 3,Ariel masih bertahan di kelas A dan duduk di bangkunya bersama Darren.Bangku Darren tetap di biarkan kosong.


Ariel mendapat beasiswa penuh dari sekolah.Ia juga menerima kompensasi dan asuransi dari perusahaan atas kematian ibunya.Ariel memberi setengah untuk membantu orang tua Vivian dan sebagai ucapan terima kasihnya telah di terima di keluarga itu.Setengahnya lagi ia tabung untuk masa depannya.


Jimmy dan Calvin melihat Ariel dari bangku mereka dengan tatapan sedih.


"Padahal sekarang Darren sudah tidak ada,tapi kenapa aku tidak punya nyali dan tidak ingin merebut hati Ariel."Calvin menatap Ariel dari jauh.


"Benar yang kau katakan,aku juga tidak tega dan tidak sampai hati ingin mengejarnya.Jika sekarang kita menyatakan perasaan padanya juga sudah pasti ia menolak.Ariel sekarang ibaratkan seorang isteri yang baru di tinggal mati oleh suaminya."Jimmy sungguh tragis dengan perumpamaannya untuk Ariel.


"Kau adalah ahli sastra yang buruk,katakan saja langsung kalau kau menganggap Ariel seperti janda.Jangan membuat seolah Darren sahabat kita mati.Aku sedang merindukannya tahu."Calvin lalu mewek di hadapan Jimmy.


"Kasihan.Sini,sini."Jimmy lalu memeluk Calvin."Jangan sedih,lihat saja.Suatu saat nanti,Darren akan kembali dan membuat onar lagi.Saat itu A3 akan bersatu kembali menjadi sebuah kesatuan."


Sherly juga menatap Ariel yang bersedih."Dia beruntung,Ariel bisa tetap kuat karena tidak ingin menyianyiakan pengorbanan Darren.Tapi aku,aku masih jalan di tempat dan belum bisa mendapatkan hati Jimmy kembali.Haruskah aku berkorban agar ia bisa kembali kesisiku?"Sherly menatap Jimmy dari jauh.


***


Pulang sekolah,Jimmy membawa Ariel ikut dengannya.Kebetulan,Jimmy dan Ariel di pasangkan dalam sebuah kelompok seni.


Karena peralatan seni di rumah Jimmy lebih lengkap maka sepulang sekolah,Jimmy membawa Ariel ke rumahnya.Jimmy sudah menurunkan kaca mobil agar Ariel tidak mabuk.


Ariel masih berkabung atas kematian ibunya juga bersedih atas kepergian Darren.Di dalam mobil,ia lebih banyak diam dan hanya menjawab seadanya.


Jimmy mencoba mengerti dan ikut membiarkan Ariel tenang.Untung Ariel adalah gadis yang kuat,jika tidak mungkin ia sudah depresi dan bahkan bunuh diri menghadapi kenyataan pahit di umur semuda ini.Sudahlah yatim piatu,kerabat sudah tiada,kekasih juga pergi.Hanya tinggal sebatang kara.Namun Ariel yang pandai bergaul beruntung memiliki sahabat sahabat yang selalu setia padanya.


"Ariel,kita jalan jalan saja ya.Biar aku sendiri yang akan mengerjakan tugas kelompok itu."Jimmy memberi saran untuk mencoba menghibur Ariel.


Ariel tersenyum lemah."Baiklah,terserah padamu saja Jimmy."Ariel hanya mengikuti arus dan sebenarnya tidak tahu lagi arah dan tujuan hidupnya.Ia hanya bertahan demi menghargai pengorbanan Darren.Ariel tahu jika sekarang pasti Darren juga sama menderitanya dengan dirinya.Biarlah kesedihan ini di tanggung keduanya.Di banding hanya salah satu yang bertahan dan menjadi pengecut untuk melarikan diri dari rasa sakit ini.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat yang bagus."Jimmy terpikirkan suatu tempat yang bisa menghibur Ariel.


Ariel hanya diam dan biasa saja.Ia bahkan tidak tahu,ekspresi apa yang harus di tampilkan.


Jimmy meminta sopirnya untuk menuju sebuah alamat dan sampailah mereka di sana.


Tempat itu adalah villa pribadi A3 yang biasa mereka gunakan untuk menenangkan diri atau liburan.Sebuah tempat yang tenang dan jauh dar kota.


Jimmy lalu membawa Ariel keluar dan begitu masuk ke villa itu,Ariel langsung menutup mulut menahan tangis.


Foto Darren terpampang besar dan nyata di sana.


"Kenapa membawaku ke sini Jimmy."Ariel menangis sambil memalingkan wajahnya ke samping.Ariel yang sangat merindukan Darren merasa pilu melihat wajah Darren walau hanya sebuah foto.


"GRAABBB."Jimmy lalu memeluk Ariel.


"Aku hanya ingin mengobati kerinduanmu.Aku tahu kau sangat ingin bertemu dengan Darren lagi.Di sini banyak jejak Darren yang tertinggal.Kau bisa merasakan bekas kehadirannya di sini.Dia yang selalu heboh,tidak mau kalah dan juga merasa paling pintar."Jimmy juga tersenyum perih mengingat Darren.


Ariel lalu menangis dan menumpahkan semua kepedihannya di pelukan Jimmy.


'Tapi kenapa aku malah ingin kau terus mendekap seperti ini padaku? Baru kali ini juga kau membalas pelukanku Ariel.Apa aku salah jika sudah memiliki niat untuk menikungmu dari Darren? Perasaanku menjadi kuat dan egois kembali saat kita bersama seperti ini.' Jimmy menyayangkan dirinya yang juga sudah keluar batas di saat seperti ini.Ia tidak bisa


Menahan perasaannya.Jimmy memejamkan matanya sebentar meresapi penyesalan.


Jimmy mulai merenggangkan pelukan itu.Jimmy lalu menatap Ariel.


Jimmy menyapu semua air mata Ariel dan menaikkan dagu Ariel.Jimmy lalu mulai mendekatkan wajahnya.


Ariel tahu jelas jika Jimmy ingin menciumnya.Saat sudah sangat dekat dan bibirnya hampir di tempeli Jimmy.


Ariel lalu menoleh dan mengelak."Jangan Jimmy."


Jimmy lalu terdiam dan tersenyum pedih."Benar kan,aku masih tidak pantas."Jimmy menjatuhkan kedua tangannya yang sedari tadi memegang bahu Ariel.


"Baiklah,ayo pulang.Aku tidak akan bertanya apa apa.Anggap saja ingin tidak pernah terjadi.Aku hanya terlalu terbawa perasaan saat menghiburmu."Jimmy menyembunyikan tangisnya dan keperihan hatinya.


"Jimmy,aku sudah banyak kehilangan.Aku tidak ingin kehilangan lagi.Aku mohon,kau mengerti maksudku.Semua yang aku cintai sudah pergi,Darren,orang tuaku dan bibiku.Mungkin aku adalah pembawa sial untuk orang yang mencintaiku.


Karena itu,aku mohon jangan berikan hati dan perasaanmu.Biarkan kita tetap berteman agar aku tidak harus kehilangan lagi."Ariel menatap pasrah Jimmy yang memunggunginya.


"Iya,aku mengerti.Kau pulanglah.Aku masih ingin di sini.Sopirku akan mengantarmu."Jimmy masih belum bisa mengkondisikan dirinya dan memilih tinggal.


Ariel juga memilih pergi karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan untuk saat ini.


***


Jimmy lalu berjalan keluar.Ia berjalan cukup jauh sendirian hingga mencapai jalan raya.Jimmy masih sedih atas penolakan Ariel tadi.


Saat itu,Sherly kebetulan melintasi area itu dengan bibinya.Ia melihat Jimmy yang berjalan dengan gontai dan dan minta turun.


"Bibi,aku turun dulu.Ada temanku dan sepertinya dia dalam masalah."


"Baiklah,bibi tidak jauh dari sini.Telepon saja jika minta jemput."


"Iya bi."


Sherly lalu turun dan hendak menghampiri Jimmy.Tapi Jimmy yang linglung berjalan tanpa melihat dan memedulikan apapun.


Jimmy meyebrang jalan dan tidak jauh ada mobil sedan yang melaju.


Sherly panik."Tidak!!!! JIMMY!!!! Teriak Sherly sekencang mungkin.


"TITTTTTTT."Bunyi klakson itu.


Jimmy menoleh dan baru sadar ia dalam bahaya.Jimmy membuka matanya lebar lebar namun masih diam di tempat.


"BRAKKKK"Sherly mendorong tubuh Jimmy dan menyelamatkan Jimmy.Namun malah ia yang tertabrak dan terhempas badan mobil itu dengan keras.Sherly bersimbah darah di atas aspal itu.


Jimmy melihat Sherly yang sudah terkapar di jalan."SHERLY!!!!!"Pekik Jimmy kuat dan kaget melihat Sherly yang celaka karena menolongnya.