
Jimmy duduk merenung di meja belajar kamarnya.Ia masih berpikir tentang apa yang Ariel dan Darren sembunyikan.
"Bagaimana kalau mereka bersama? Tapi itu tidak mungkin kan? Kalau sampai ia,berarti semua anggota A3 benar benar bersaing untuk mendapatkan Ariel."Jimmy pusing sendiri karena spekulasi yang dibuatnya.
Jimmy tidak bisa membayangkan jika Darren mencuri start lebih dulu dan merebut Ariel darinya.Jimmy yang pikirannya semeraut lalu memutuskan pergi ke rumah Darren saja untuk bertanya langsung.
***
"Ak....."Darren sedang membawa Ariel ke sebuah cafe yang menyajikan es krim dan wafer yang enak.Darren sedang berusaha membujuk Ariel yang masih merajuk karena di hukum tadi dan menyuapkan Es krim pada Ariel.
Ariel mengacuhkan sodoran es krim yang Darren berikan dan memilih memakan dari sendokan es krim yang ia sendok sendiri.
Darren hanya bisa membalik arah sendok es krim itu kemulutnya dan memakan sendiri es krim yang hendak ia berikan ke Ariel.
"Sampai kapan kau akan marah terus padaku?"Darren bicara lebih dulu.
"Aku tidak marah."Jawab Ariel dengan nada ketus.
"Lalu kenapa mulutmu dan wajahmu masih seperti ayam cemberut begitu? Di hukum itu kan tidak sakit."Darren benar benar tidak lihai sama sekali dalam membujuk wanita yang sedang marah.
"Kau ini!! Seharusnya kau lebih giat lagi saat membujukku!! Kenapa menyebalkan sekali mendengar ucapanmu itu!! Bagaimana mungkin kau membuat pacarmu di hukum di depan kelas!!"Ariel akhirnya banyak bicara dan tidak hanya memendam kekesalannya lagi.
"Ariel,ada teman sekelas kita."Darren menunjuk panik kebelakang Ariel.
"Apa!!!"Ariel reflek lalu duduk dan menyembunyikan diri di bawah meja."Semoga tidak ketahuan."Ariel gugup dan ketakutan jika kepergok."
Darren lalu duduk dan kebawah meja juga."Aku hanya bercanda,tidak ada siapapun di belakangmu."Darren rupanya hanya menggoda Ariel.
Ariel memandang Darren dengan mata yang tajam."Kenapa kau suka sekali mengerjaiku?!!!"Percakapan di bawah meja masih berlangsung.
"Karena hanya dengan cara ini,aku bisa...Muaachh."Darren mengecup pipi kanan Ariel."Aku sungguh minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi.
'Bagaiamana aku bisa lanjut marah lagi kalau begini caranya? Kecupan Darren lebih terasa manis daripada es krim vanilla favoritku.'Ariel lalu keluar dari bawah meja itu di dikuti Darren.
Darren tahu jika perasaan Ariel padanya sudah lebih baik lewat Ariel yang sudah mau tersenyum.Darren lalu menggenggam tangan Ariel di atas meja itu.
"Dreetttttttttt" Ponsel Darren bergetar dari balik sakunya.Darren mengeluarkannya dan melihat panggilan itu ternyata dari Jimmy.Darren lekas mengangkatnya di saksikan Ariel juga.
"Halo Jimmy."
"Halo,Darren kau dimana? Aku di rumahmu,ada yang ingin aku biacarakan."
"Aku sedang di toko alat tulis,aku akan pulang sekarang.Tunggu saja."
"Oke."
Darren menutup telepon itu dan segera bicara dengan Ariel."Aku harus pulang,Jimmy sudah menunggu di rumah,katanya ada yang ingin di bicarakan."
"Iya baiklah,tidak apa apa."Ariel merelakan Jika Darren harus pergi dan mengakhiri kencan dadakan mereka sore itu.
***
"Darren,aku hanya ingin tanya.Apa ada sesuatu antara kau dan Ariel? Kenapa aku perhatikan sikap kalian berdua itu sangat mencurigakan?"Jimmy yang berada di kamar Darren langsung bertanya tentang hal yang di ketahuinya itu saat Darren baru saja selesia mandi dan masih mengenakan kimono mandi dengan rambut setengah kering.
"Jimmy,apa yang kau khawatirkan."Darren menjawab santai sambil berkaca.
"Aku suka pada Ariel!"Jawab Jimmy singkat dengan wajah serius.
Darren berhenti tersenyum lalu menatap Jimmy yang duduk di tepi ranjangnya."Suka saja,aku tidak melarangmu suka dengan pesuruhku." Padahal,Darren rasanya ingin sekali meninju mulut Jimmy yang sudah lancang dan terus terang mengatakan jika ia menyukai pacarnya.'Harusnya kau tahu,jika yang kau sukai itu adalah pacarku!!! Ariel adalah milikku!!!'
Darren hanya menjawab dengan senyum enteng dan tidak berkata apa apa lagi.
***
Ariel pulang ke rumahnya setelah bersama Darren tadi.Di depan rumahnya,ia sudah melihat Calvin yang menunggunya di atas motor.
Ariel dan Calvin terlihat sangat senang.
"Aku langsung kesini sesampainya dari bandara tadi,apa kau tidak merindukan pria idaman sejuta umat ini?"Calvin bicara melantur di atas motornya menghadap ke Ariel.
"A.....baru juga sampai kau sudah tebar pesona saja."Ariel sudah berada di depan Calvin.
"SLAPPPP" Calvin langsung memeluk Ariel dengan erat."Aku sangat merindukanmu dan ingin cepat pulang juga karena ingin menemuimu."Calvin mencurahkan semua rindunya selama ini.
"Apa di Shanghai tidak ada wanita secantik aku?"Ariel juga ikut bercanda lagi.
Calvin melepas pelukan itu."Tentu saja banyak,dimana aku berada disitulah para wanita berkumpul.Hanya saja tidak ada yang asik seperti dirimu.Semuanya berusaha sebaik mungkin dan terlalu rapi.Aku tidak suka."
"Selalu saja tebar pesona,kau itu seperti ikan asin yang selalu di buru kucing kucing wanita yang lapar tepatnya."Ariel memberikan perumpamaan yang sangat merendahkan dan bahkan Ariel sendiri tertawa saat mengucapkannya.
"Kau harus belajar banyak lagi perumpamaan yang bagus.Aku ini ibarat gula yang selalu di kerumuni semut semut tahu."Calvin menaikkan lagi perumpamaan dirinya yang lebih elegan.
"Hahahaha...Iya iya.."Ariel tertawa lepas bersama teman baiknya itu.
***
Darren yang ada di kamarnya malah terpikir karena omongan Jimmy tadi.
"Aku bisa gila jadinya,kalau sampai aku dan Ariel akhirnya ketahuan,bagaimana persahabatan kami? Apa A3 akan retak dan bubar? Bukan hanya Jimmy,tapi Calvin juga menyukai Ariel.Jimmy dan Calvin sudah sama sama tahu jika mereka bersaing.Tapi bagaimana denganku? Mereka pasti akan marah dan mengatakanku munafik."Darren resah sendiri sekarang dan nyalinya juga mulai ciut.
"Haruskah aku teruskan hubungan ini? Tapi jika aku mengakhiri secara sepihak dan tiba tiba tentu saja kasihan Ariel.Aku juga masih sangat suka dan sayang padanya.Tapi bagaimana jalan keluar semua ini? Otakku benar benar buntu."Darren menunduk dan benar benar pusing.Darren juga tidak mau menumbalkan Ariel untuk semua ini.Darren tidak ingin kekasihnya itu harus tersakiti karena egonya lagi.Jika selama ini Darren tidak pernah memberikan kasih sayang pada siapapun,maka saat ia menyayangi Ariel seperti sekarang,Darren terus hanya memikirkan cara agar dapat bersatu dengan Ariel dan membuat Ariel tidak tersakiti.
***
Calvin mengajak Ariel ke sebuah restoran cepat saji.Calvin mentraktir Ariel ayam goreng renyah dan minuman soda.
Sambil makan,mereka memperbincangkan banyak hal.Juga kejadian kejadian yang terjadi di sekolah.
Saat itu,ponsel Ariel yang ada di atas meja bergetar dan ternyata itu panggilan dari Darren.
Ariel jadi tegang karena Calvin juga melihat yang menelepon itu adalah Darren.'Gawat!! Kenapa Darren malah menelepon sekarang.Bagaimana ini,kalau aku angkat di tempat lain,Calvin pasti akan curiga.'Ariel jadi serba salah sekarang.
"Kenapa dia menelponmu malam malam begini?"Calvin mulai bertanya.
"Ah itu,dia pasti sudah menyiapkan perintah ini dan itu untukku besok.Seperti meraut pensilnya,membawakan tasnya,mengembalikan buku yang ia pinjam ke perpustakaan dan lain lainnya.Kau tahu kan dia itu suka memerintah."Ariel mengoceh banyak hal karena gugup.
"SLAPP" Calvin main ambil alih dan mengangkat ponsel Ariel.
"Halo Darren,aku sedang makan dengan Ariel.Tolong jangan ganggu kami dulu ya."
"Kau???? Kau sudah pulang?"Darren aneh karena Calvin yang mengangkat telepon itu dan bukan Ariel.'Dia sudah pulang dan yang ia lakukan mengajak pacar orang lain makan!!!'Darren menahan kesalnya dengan mengepalkan tangan dengan kuat.
"Sudah dulu ya."Calvin mematikan ponsel itu dan mengembalikannya pada Ariel.
Darren yang teleponnya di tutup semakin kesal.Dan Ariel yang ponselnya tadi di angkat oleh Calvin sedang cemas dan takut menanti Darren yang pasti akan marah akan semua ini.Selera makan Ariel bahkan sudah hilang sekarang.