
Ariel,Jimmy,dan Calvin sudah sampai di desa Ariel.Seturunnya dari mobil Jimmy,baik Jimmy dan Calvin menghirup udara segar desa itu.
"Hemmm...segarnya."Jimmy menghirup udara segar udara desa itu.
"Ariel,tumben kau tidak muntah saat naik mobil?"Calvin bertanya pada Ariel yang tetap nampak sehat selama di terpa Ac mobil di perjalanan tadi.
"Oh itu,Jimmy sudah memberiku obat agar aku tidak mabuk,dan obatnya sangat mujarab hanya saja,aku jadi lapar terus menerus."Ariel memberi tahu Calvin alasan di balik dirinya yang tidak mabuk dan muntah.
Calvin merasa selangkah lebih terlambat lagi karena Jimmy lebih unggul selangkah didepannya menyelamtakan Ariel dari mabuk saat di mobil.
Ariel dan Jimmy sekarang bahkan sampai bertukar senyum satu sama lain dan membuat Calvin membutuhkan AC untuk mendinginkan amarahnya yang mulai naik sekarang.
"Berhenti!!! Kita harus jaga jarak agar tidak ketahuan!"
"Baik tuan."Sahut supir Darren.
Darren tidak mau sampai ketahuan jika ia membuntuti Ariel dan kedua sahabatnya itu.Harga dirinya pasti akan sangat tercoreng jika sampai ketahuan.Darren tetap memantau ketiga orang itu dari jauh.Ia bahkan membekali diri dengan teropong itu tetap mengawasi ketiganya.
***
"Ayo ke tempat guru besar,aku yakin sekarang pasti ia sedang bersantai di rumahnya."Seru Ariel sambil menggandeng tangan Calvin dan Jimmy bersamaan.
Calvin dan Jimmy bahagia bukan main.Tapi tidak untuk Darren yang sudah seperti maling dengan wajah cemberut yang mengendap ngendap di belakang Ariel dan teman temannya.'Kepada semua pria dia selalu baik,tidak jelas!' Darren malah jengkel sendiri.
Tapi tidak untuk Calvin dan Jimmy yang berbunga karena di gandeng oleh Ariel.
Ariel berhasil membawa Jimmy bertemu dengan idolanya.Jimmy sangat bahagia dan terus memepeti guru Ariel di desa itu dulu saat masih bersekolah di sana.Sementara Ariel dan Calvin hanya melihat dari jauh.
"Lihat Ariel,Jimmy sangat bahagia sampai tidak menyadari kaos kakinya yang sebelah kanan belum di buka saat naik ke rumah idolanya itu."Calvin mengejek sahabatnya itu.
"Biarlah Calvin,dia pasti sangat bahagia."Ariel mengerti bagaimana Jimmy sangat mengagumi seniman tembikar yang dulu juga adalah gurunya itu."Calvin,kau masuklah ke dalam,aku akan ke sungai sebentar untuk mencuci muka."
"Biar aku temani saja."Usul Calvin.
"Tidak usah,kau tunggu saja di dalam dan istirahat.Ini wilayahku,aku tahu dan sudah hafal seluk beluk di sini" terang Ariel.
"Baiklah,jangan lama lama."Calvin akhirnya membiarkan Ariel pergi sendiri dan ia masuk kedalam mengikuti Jimmy.
Ariel keluar dari pagar rumah gurunya dan sekilas melihat orang mecurigakan dari jauh yang mengamati rumah gurunya.Orang mencurigakan itu segera bersembunyi setelah melihat Ariel."Siapa itu!!! Orang aneh,apa dia berniat tidak baik dengan mengintai rumah guruku?"Ariel mulai curiga dan penasaran dengan gerak gerik pria tadi.Tapi Ariel tetap meneruskan langkahnya menuju sungai.
"Bodoh!!! Kenapa aku bisa ceroboh!! Hampir saja aku ketahuan."Orang mencurigakan yang dilihat Ariel tadi tidak lain dan tidak bukan adalah Darren.Darren ceroboh dan lambat bersembunyi saat Ariel keluar.Darren lalu sembarang berjalan ke arah yang semakin jauh dari mobil dan supinya.Di tambah lagi dalam tasnya sana,Baterai ponsel Darren sudah habis.
Ariel sangat bahagia bisa melihat lagi sungai tempat ia biasa mandi dengan teman temannya dulu saat pulang sekolah."Wahhhhh,airnya jernih dan dingin."Ariel tidak kuasa tidak menyentuh air itu dan membasuh wajahnya berulang kali."Segarnya,air sungai ini memang yang tebaik."Ariel melepas sepatunya dan merendam kakinya di sungai itu."Nyamannya."Ariel memejamkan mata dan menikmati kakinya yang terendam air sungai yang segar itu.
***
"Dimana ini? Kenapa aku selalu tembus ke jalan yang tidak aku ketahui? Mana jalan yang aku lewati pertama tadi?"Darren tersesat sambil menggenggam ponselnya yang mati.Egonya yang tinggi membuatnya enggan bertanya pada siapapun dan meminta bantuan.Ia lebih mengandalkan dirinya sendiri dan menjunjung gengsinya tinggi tinggi.
Saat ini,Ariel,Jimmy dan Calvin sedang bermain air di tempat Ariel merendam kaki tadi.Belum pernah kedua anak orang kaya itu menceburkan kakinya ke sungai seperti saat ini sejak kecil.Karena itu,sekarang mereka sangat bahagia dan bisa merasa lepas.
Tidak untuk Sherly yang puteri konglomerat sejati yang pastinya akan anti pada hal seperti itu.Sherly memilih melepas stress dengan mengajak sahabatnya Eva untuk perawatan diri di salon kencantikan ternama.Sherly ingin memanjakan diri dan membuat dirinya lebih cantik agar Jimmy kembali kesisinya dan mengemis cintanya seperti dulu.
***
"Tidak,aku sudah lelah dan mengaku kalah."Calvin sudah terbaring di lapangan karena kehabisan tenaga.
"Iya,aku juga."Tambah Jimmy yang staminanya sudah terkuras dan tidak mampu melawan kehebatan Ariel.
Ariel tersenyum lalu ikut istirahat."Aku tidak menyangka,kalian yang dulu aku benci malah menjadi teman baikku sekarang."Ariel memandang Calvin dan Jimmy bergantian.
Jimmy dan Calvin ikut tersenyum namun tidak lama.Jimmy mendapat telepon dari supir Darren.Setelah berbicara beberapa saat,raut wajah Jimmy mulai tegang membuat Ariel dan Calvin ikut panik.
Telepon itu di matikan."Darren tersesat di desa ini."Jimmy akhirnya mengeluarkan pernyataan yang membuat rautnya khawatir tadi.
Rupa rupanya,supir Darren panik karena Darren hilang kabar dan tidak bisa ditemui.Supir Darren putus asa dan takut di marahi akhirnya memutuskan meminta bantuan Calvin dan Jimmy yang ada disini sebagai solusinya.
"Bagaimana bisa?"Calvin bertanya lagi pada Jimmy yang juga mewakili pertanyaan Ariel.
"Dia memang membuntuti kita karena kita tidak mau memihaknya semalam.Dia pasti mencari tahu alasan kenapa kita tidak lagi setuju dan menurut padanya."Sahut Jimmy.
Ariel lalu merasa bersalah."Jadi ini semua karena aku? Persahabatan kalian jadi berantakan."Ariel berkecil hati.
"Tidak" Jawab Calvin dan Jimmy serentak pada Ariel.
"Tentu saja tidak,kami memang sering berselisih paham dan bukan kali ini saja."Kilah Calvin agar Ariel tidak merasa bersalah.
"Iya,itu benar.Para pria memang sering berselisih paham."Jimmy ikut membenarkan omongan Calvin.
Ariel tersenyum.'Kalian benar benar sangat baik padaku.Aku sangat senang bisa berada di antara pria baik seperti kalian.'
"Baiklah,ayo kita cari teman kalian yang congkak itu sebelum petang datang karena akan susah mencarinya jika sudah gelap.Apalagi di desaku ini sering mati lampu."Ariel kembali bersemangat membuat Calvin dan Jimmy tenang kembali.
Ariel dan Jimmy berpencar dengan Calvin dan Jimmy.Ia memilih sendiri karena sudah hafal dengan desa ini sedangkan Calvin dan Jimmy tetap bersama agar tidak tersesat.Ketiganya sepakat akan bertemu di sini lagi nanti,tempat mereka pertama bertemu.
Ariel mulai menyusuri jalan didesanya kesana kemari.Darren yang tersesat malah terjebak ke ujung desa dan tidak tahu arah untuk kembali.
Hari juga mulai petang dan langit nampak mendung.Di tambah lagi jadwal pemadaman di desa Ariel.Sehingga semuanya menjadi gelap gulita sekarang.
Darren ketakutan apalagi suara lolongan anjing yang semakin kuat itu.Membuat Darren semakin tersudut ketakutan.Darren yang sudah menjauh dari pemukiman warga malah tidak jauh lagi sudah berhadapan dengan hutan rimba di desa itu.
Darren sudah ketakutan setengah mati."Dimana aku?? Apa aku akan mati disini juga?? Apa hanya sampai disini umurku??"Darren ketakutan dan hampir menangis.
Saat itu juga seseorang menepuk pundaknya."Aaaaaaaaaa"Darren memejamkan mata karena mengira itu adalah ulah orang jahat yang berniat buruk padanya.
"Ini aku,Ariel"Ariel mulai mengungkapkan dirinya.
Mendengar suara Ariel,Darren lalu berbalik dan "SLAAPPPPPP" Darren lekas memeluk Ariel karena ia amat snagat ketakutan sekarang ini.
Darren memeluk Ariel erat dan Ariel juga perlahan menaikkan tangannya dan memeluk Darren.
"Kau sudah aman Darren,aku sudah menemukanmu dan bersamammu."Ariel mengelus punggung Darren lembut dan menenangkannya.
"Aku kira aku akan mati disini.Aku kira aku tidak akan selamat."Darren bicara dengan nada suara yang bergetar saking ketakutannya.Darren memeluk Ariel dengan kuat seakan tidak ingin melepasnya.