A3

A3
TERHARU



Ariel ke rumah Sherly tanpa sepengetahuan Darren.Ariel juga membawa serta Vivian untuk menemaninya.


Sampailah mereka berdua sudah di depan pintu gerbang rumah megah Sherly.


"Ariel,kau yakin akan kesini? Sherly pasti akan mengusir kita saat bau kita sudah tercium olehnya dan bahkan belum menunjukkan wajah."Vivian menghentikan langkah sebentar dan memberitahu prediksi yang sudah ia perkirakan.


"Drama sekali,kalau di usir ya sudah.Kita tinggal pergi."Ariel yang sekeras batu itu tetap tidak peduli dan meneruskan langkahnya.


Vivian yang sudah terlanjur datang jauh jauh kesini,tentu tidak etis jika putar balik dan pulang sekarang.Mau tidak mau ia tetap membuntuti Ariel dan berharap tidak ada anjing galak milik Sherly di dalam sana yang akan mengusir mereka.


Ariel dan Sherly di persilahkan masuk dan diminta menunggu sementara salah satu asisten rumah tangga sedang memberi tahu Sherly kekamarnya.


"Tok..Tok..Tok.."Pelayan itu mengetuk pintu kamar Sherly."Nona,ada temanmu yang berkunjung."Pelayan itu memberi tahu lebih dulu.


Sherly mendengar jelas apa yang di katakan pelayannya itu."Apa itu Jimmy? Dia pasti merasa bersalah dan khawatir."Sherly lekas bangun dan membuka pintu kamar lalu berlari keluar menduga yang datang adalah Jimmy.


Wajah Sherly sudah sumringah bahagia,sampai senyuman itu sirna saat melihat wajah Ariel dan Vivian yang ada di ruang tamunya.


"Sttt..Ariel,itu Sherly."Vivian memberi tahu Ariel soal Sherly yang sudah ada di belakang mereka.


Ariel menoleh kebelakang."Sherly.."Ariel melempar senyumnya itu pada Shery.


'Ariel benar benar muka tembok,ia mendatangi rumah musuhnya seperti mendatangi rumah sahabat dekatnya.'Itulah yang terlintas di benak Vivian.Vivian sudah siap siap melihat ambang pintu kalau kalau akan di usir sebentar lagi.


"Kenapa kau kemari!"Seperti biasa,Sherly bertanya dengan ketus.


"Aku hanya ingin menjengukmu,katanya kau sakit.Jimmy juga tidak masuk sekolah hari ini."Ariel sudah biasa dengan nada bicara Sherly.


'Pasti dia tidak masuk karena berduaan di rumah dengan Yixing!!! Menyebalkan.' Sherly marah dalam hati dan membahas Jimmy.


"Kau tahu kan aku tidak suka denganmu!! Kenapa juga kau kesini!!"Sherly melampiaskan marahnya pada Ariel.


"Kita kan teman sekelas,apa tidak boleh aku menjengukmu?"Ariel lalu berdiri sambil menatap Sherly.


"Kau?? Temanku? Lelucon apa itu? hahahhahaha.Asal kau tahu ya,kita itu bagaikan langit dan bumi.Jarak dan perbedaan kita sangat jauh."Sherly menyanggah omongan Ariel.


"Kau ini!! Kita ini sama sama manusia!! Bukan langit dan bumi.Kau itu bukan dewi di langit sana.Ungkapanmu tidak cocok!! Kau itu apa tidak lelah dan sedih kesepian terus?Maksudku,sahabatmu sudah tidak ada.Jimmy juga tidak suka padamu.Kalau kau begini terus,kau akan terlihat menyedihkan.Buat apa kau punya semuanya tapi tidak punya teman.Saat kau sendirian kau hanya kelihatan bodoh tahu."Ariel mencoba mendekati Sherly dengan caranya.


"Bukan urusanmu!! Ini semua juga salahmu!!!"Sherly marah dengan sindiran tadi.


"Baik,salahkan saja semua orang semaumu!! Kau selalu benar!! Kau cocok tinggal di langit sana yang sepi dan sendiri.Aku yang di bumi tidak akan sanggup sepertimu.Berteman saja kau dengan alien yang sama anehnya denganmu."Ariel juga ikut protes dan marah.


Ariel lalu menghampiri Sherly dan memberikan sesuatu."Ini!!! Catatan di sekolah hari ini,aku yakin tidak akan ada yang mau meminjamimu kalau bukan aku! Dan ini juga,ini adalah hasil ulangan harian kita kemarin."Ariel meminjami Sherly buku catatan dan lembaran hasil ulangan harian di sekolah waktu itu.


Sherly menerimanya dan terharu.'Dia peduli padaku? Dia paham dengan sifatku? Dia membuatku malu dengan cara ini?' Sherly dengan mata yang berkaca menahan haru.


"Ayo Vivian,kita pulang.Kita tidak di usir tapi kita yang memilih pulang."Ariel tersenyum pada Vivian dan mematahkan ramalan Vivian jika mereka akan di usir.


"Baiklah,ayo."Vivian ikut ceria melihat Ariel yang selalu girang.


"Tunggu!!!"Sherly menahan langkah Ariel yang hendak pergi.


Ariel dan Vivian menoleh bersamaan pada Sherly.


"Di meja makanku banyak makanan yang tidak di makan dan sayang untuk di buang,kalian pasti belum makan!! Makanlah dulu."Sherly masih canggung dan menawarkan Ariel dan Vivian untuk ikut makan bersamanya walau dengan tata bahasa yang aneh.


Ariel tersenyum,Vivian juga sama halnya.


"Baiklah,aku juga sudah lapar.Berdebat denganmu membuat jam makan siangku harus tertunda.Kau memang harus bertanggung jawab."Ariel menerima tawaran itu.


Vivian ikut saja membuntuti.Vivian kagum dengan Ariel yang hebat dalam hal meluluhkan hati seseorang walau hati itu awalnya sekeras batu.


***


Yixing masih di bawa ke rumah sakit.Jimmy sangat resah dan merasa bersalah.Setelah senggang,ia mengabari Darren,Ariel dan Calvin soal kejadian ini.


Setelah mendapat kabar itu,malam harinya baik,Darren,Ariel dan Calvin berbondong bondong datang ke rumah sakit.


Saat datang,Jimmy masih duduk di kursi tunggu di depan kamar Yixing di rawat.


"Jimmy,"Ariel memanggil Jimmy.


Jimmy menoleh dan melihat Darren,Calvin dan Ariel yang sudah datang.


"Teman teman."Jimmy berdiri dengan wajah sedih.


"Kau tidak apa apa? Jangan panik lagi."Alih alih menanyakan Yixing,Ariel lebih dulu memeriksa keadaan Jimmy yang shock berat.


'Dia mencemaskanku dan menanyakan keadaanku lebih dulu walau disini Yixing adalah korbannya.Ia tidak memandangku sebagai pelaku dan peduli pada diriku yang menjadi korban secara tidak langsung.' Jimmy menatap kagum pada Ariel yang sehebat itu memahaminya.


"Aku tidak baik baik saja,tapi karena kalian berada di sini.Aku sudah lebih baik."Jimmy menjawab lemah.


"Kau harus kuat Jimmy."Calvin menepuk pundak Jimmy.


"Katakan saja kalau kau butuh sesuatu atau bantuan lain."Darren juga peduli pada Jimmy.


"Apa kalian ingin membuatku menangis karena terharu disini? Aku akan malu sekali."Jimmy tersenyum sambil memecet pertengahan di antara matanya karena menahan tangis terharu.


"Jimmy,sudahlah.Inilah gunanya teman.Kau tidak sendiri."Ariel ikut menyemangati Jimmy.


"Benar,kami percaya padamu.Kau harus bangkit,salahmu sendiri tampan dan membuat Yixing cinta mati padamu."Agaknya omongan Darren itu tidak cukup tepat sekarang.


"Darren!!! Kau ini!!! Kenapa malah menyalahkannya!!! Harusnya kau sortir dulu kata katamu!!!"Ariel marah pada Darren yang sembarangan bicara.


"Membawamu itu benar benar harus berbekal lakban!! Kau dan mulut besarmu!!"Calvin juga memprotes Darren.


"Kalian!!! Kenapa menyudutkanku juga sekarang."Darren malah menjadi bahan bullyan sekarang.


Tapi berkat keriuhan itu,Jimmy bisa tertawa lepas dan bercanda lagi sekarang.Ia memiliki teman teman hebat yang selalu menghiburnya.


***


Calvin akan menemani Jimmy sampai pagi.Darren dan Ariel pulang bersama sama.Sebelum pulang keduanya berjalan jalan bersama di sekitaran rumah sakit.


"Tadi,pulang sekolah aku mampir ketempat Sherly.Aku berhasil membuat ia menjadi temanku sepertinya."Ariel membanggakan prestasinya.


"Itulah keahlian pacarku.Kau pasti iba pada Sherly dan meluluhkannya.Kau bahkan bisa membuat aku jatuh cinta."Darren memandang Ariel.


Ariel lalu menggandeng lengan Darren dan menyandarkan kepalanya juga di sana."Hati manusia itu semuanya sama.Mereka bisa tersentuh dan terharu karena hal sentimentil.Aku hanya ingin membuat hati hati yang dingin itu menjadi hangat dan sebagaimana seharusnya."


Darren lalu menghetikan langkah.Ariel memandang dengan wajah tanda tanyanya.


"Muach."Darren mengecup sebentar bibir Ariel."Hadiah untuk pencapaianmu hari ini."Darren memberi senyum tampannya.


Ariel terasenyum dan balas mendaratkan sebuah kecupan di pipi Darren.


Keduanya tersenyum dan menikmati jalan jalan malam itu.


Yixing masih terkulai lemah dan menyadari perbuatan bodohnya yang membuat Jimmy disalahkan atas semua ini.