
Ariel tidak menyangka jika Darren juga bisa setakut ini walau sangat berkuasa.'Kau juga manusia rupanya,aku kira kau orang yang tidak pernah gentar dalam menghadapi sesuatu karena kau memiliki segalanya.Tapi ternyata kau juga bisa seperti ini saat tidak ada siapapun di sisimu.'
Darren sudah cukup tenang dan melepas pelukannya."Jangan sampai...."
"Iya iya,aku tidak akan memberitahu siapapun jika kau sangat ketakutan dan menyedihkan seperti sekarang."Ariel menyambung omongan Darren yang ia sudah tahu kelanjutannya.
Ariel tersenyum pada Darren."Sudah,ayo kita ke tempat teman temanmu,mereka sangat mencemaskanmu.Tadi supirmulah yang memberi tahu Jimmy dan sekarang kau bisa selamat."Terang Ariel bagaimana ia bisa tahu jika Darren tersesat disini.
"Jadi aku sudah ketahuan membuntuti kalian??!!!!"Darren kelabakan karena menahan malu.
"E em."Ariel mengangguk pertanda benar.
"Mau di pajang dimana wajahku? Calvin dan Jimmy pasti akan mengolokku."Darren sangat lemah seakan tubuhnya tidak lagi bertulang dan sangat lunglai.
Ariel hanya semakin geli melihat Darren yang kehilangan taring seperti itu.
Saat Ariel sudah mengabari Jimmy dan Calvin jika ia sudah menemukan Darren.Keduanya bergegas menjumpai Ariel.Saat sudah melihat Darren yang dalam keadaan sehat dan selamat,Calvin dan Jimmy langsung memeluk Darren erat.
"Syukurlah kau selamat Darren."Calvin berkata di balik punggung Darren.
"Harusnya kau bilang pada kami jika ingin ikut.Tapi untunglah kau baik baik saja."Jimmy juga ikut mengkhawatirkan Darren.
Darren terdiam.'Tidak ada satupun dari mereka yang mengolokku,semuanya mengkhawatirkanku dan mencemaskanku.Aku benar benar beruntung memiliki sahabat seperti mereka.Walau aku sering egois dan menganggap mereka bawahanku tapi mereka tetap selalu berada disisiku.
Darren akhirnya ikut pulang dengan mobil Jimmy bersama yang lainnya.
Hari ini Darren belajar lagi tentang arti sahabat dan tidak menganggap semua yang ada di dunia ini bisa di ukur dengan uang atau materi.Sejahat apapun dia,sahabatnya tetap mencemaskannya saat dalam bahaya.
Juga sesuatu yang baru tersangkut di hatinya saat memandang Ariel.Wanita yang selalu menyelamat kannya.Jika hanya sekali mungkin saja itu kebetulan,tapi jika sudah berturut turut seperti ini maka ini bisa di sebut takdir.
***
Esok harinya sekolah di mulai seperti biasa.Di jalan saat menuju sekolah,Ariel mengejar Vivian yang ada di depannya.
"Hei!!!!"Ariel menepuk pundak Vivian.
Vivian menoleh dan menatap Ariel lemah."Ariel.."Vivian hanya tersenyum lemah.
"Kau kenapa Vivian?"Ariel lalu bertanya karena melihat Vivian yang seperti itu.
"Ariel,aku rasa aku tidak punya kesempatan lagi.Waktu itu saat aku pergi dengan Calvin dia sudah menolakku bahkan sebelum aku menyatakan perasaan padanya.Dia juga bilang dia sudah memiliki wanita yang ia sukai."Vivian yang terbawa suasana lalu menutup wajahnya dengan tangan karena menangis untuk kesekian kalinya.
Ariel hanya bisa terdiam.'Apa ini salahku? Aku sudah membuat Calvin harus membatalkan kencan dengan Vivian.Tapi soal gadis yang sudah Calvin sukai,aku tidak tahu menahu soal hal itu.Aku juga tidak bisa egois dan memaksa Calvin untuk menerima Vivian lebih jauh.Sedangkan ia sudah mau pergi dengan Vivian saja aku sudah bersyukur.Semoga Vivian bisa menemukan yang lebih baik lagi.
Ariel hanya bisa menyemangati Vivian.Tapi bagaimana jika kelak Vivian tahu jika wanita idaman Calvin adalah Ariel??
Lain lagi di kelas A.Sherly mengibas ngibas rambut barunya yang baru di tata dan di potong di salon ternama.
Sherly bahkan memakai riasan,murid murid pria hampir semuanya memuja dewi sekolah itu.Bahkan sampai ada yang mimisan.Sherly mulai memasuki kelas dan berharap menarik perhatian Jimmy.Sherly sangat percaya diri terhadap respon para pria yang klepek klepek melihatnya.
Tapi saat masuk kelas,walau seisi kelas riuh dan heboh.Sherly harus terima,ketika Jimmy hanya memandangnya sekilas dan tidak terpesona.
'Brengsek!!! Dia tetap tidak terpesona padaku!!!' Sherly duduk di bangkunya dengan marah.
"Sherly.,"
Suara Jimmy dari belakang mengagetkannya.' Sudah kuduga,mana mungkin dia tidak terpesona padaku.' Sherly salah mengira jika Jimmy mulai dekat dekat dengannya lagi.Sherly lalu berbalik penuh percaya diri sambil mengibaskan rambut."Ada apa?" Sherly menatap Jimmy dan memamerkan riasannya.
Sherly semakin meradang karena Jimmy ternyata hanya seperti itu dan bukan memuji penampilannya.
Sherly semakin kesal dan hanya diam menahan api yang membara di hatinya.
Berbeda saat Ariel masuk.
"ARIEL." Calvin dan Jimmy langsung menyapa Ariel dan sangat antusias.
Darren juga yang sedang belajar melirik Ariel walau sebentar,sorot mata Darren seperti sudah memudarkan kebenciannya pada Ariel.
Sherly menatap Ariel baik baik..'Miskin,tidak tahu malu dan tidak punya standar khusus.Lalu apa yang membuat A3 berpaling padanya? Apa aku harus jadi gadis hutan seperti dia?!!!'Sherly merutuk dalam hati dan iri pada Ariel.
"Hai semua."Ariel menyapa Calvin dan Jimmy.
Ariel juga menatap Darren."Kau baik baik saja?"
"Em."Darren hanya menyahut dengan berdehem.
"Bukumu terbalik."Ariel berbisik pelan di telinga Darren agar Darren tidak malu.
Karena di bisiki Ariel tentang kebodohannya.Darren lalu salah tingkah dan menutup buku yang di bacanya terbalik itu.
'Memalukan sekali aku ini!! Darren menahan segudang malu karena ulahnya sendiri.
Ariel tersenyum ringan pada ulah Darren yang memang sering aneh aneh.Saat itu,pulpen Darren malah berguling jatuh ke tengah tengah bangkunya dan Darren.
Darren ingin mengambilnya dan Ariel juga terfikir hal yang sama.Keduanya menuntuk dan meraih pulpen itu bersamaan.Tangan Ariel malah memegang tangan Darren karena Darren lebih dulu memegang pulpen itu.
Darren dan Ariel sama sama gugup.Ariel mengalah dan bangun lebih dulu.Perasaan Ariel seperti panas dingin.
Darren yang sudah mendapat pulpennya juga gugup.Seperti biasa,penyakit jantungnya kambuh lagi.
Ariel dan Darren diam tanpa bahasa karena gugup.
"Ariel,nanti jam olahraga ayo bermain bulu tangkis saja denganku."Calvin memutar kebelakang menghadap Ariel.
"Oh iya,boleh saja."Jawab Ariel kaku dan gugup karena masih tergiangan kejadiannya dengan Darren tadi.
Jimmy ikut berbalik dan iri."Bermain yang lain saja,yang bisa di mainkan bersama."
"Main tenis saja,ajak Darren juga.Satu tim bisa dua orang."Usul Ariel agar Darren tidak merasa di kucilkan lagi.
"Kau fikir kau siapa berhak menentukan.Aku adalah ketua A3,kau membuatku terlihat menyedihkan.Ingat,kau itu cuma pesuruhku jadi jangan berlagak! Kenapa juga aku harus mengajakmu dan membiarkanmu ada di sisi A3."Darren malah mengeluarkan mulut pedasnya karena tidak mau kelihatan sudah lulu oleh Ariel.
Ariel lalu berkecil hati dan tersenyum terpaksa."Iya juga,aku kan bukan siapa siapa.Aku kira kita sudah berteman."
Darren lalu merasa bersalah pada ucapannya tadi,karena Ariel tiba tiba diam.'Kenapa mulutku ini suka sekali berkata semaunya pada Ariel.Kenapa juga aku sangat berlebihan dan tidak bisa mengkondisikan diri setiap berada di dekatnya.'
Jimmy dan Calvin juga sebenarnya ingin protes pada mulut pedas Darren itu.
"Sudah,nanti pulang sekolah ayo kita keluar.Aku akan mentraktirmu makan."Seru Calvin.
Ariel langsung tersenyum lebar."Kau benar benar tahu bagaimana menghiburku."Ariel sudah bisa ceria lagi hanya dengan di rayu dengan makanan.