
"BRUKK."Ibu Vivian juga menjatuhkan diri dan terduduk di lantai ubin rumah sakit itu.
"PUK PUK PUK."Ibu Vivian menepuk dadanya dengan kuat."Hatiku ini sangat terluka,sangat amat.Vivian lahir dari rahimku,aku besarkan dan aku limpahkan penuh cinta.Saat sekarang ia pergi,terlebih dengan kematian seperti ini,hatiku sangat terluka.Aku tidak memintanya membalas jasaku yang merawatnya.Aku juga tidak mengharap ia menjadi anak yang harus hebat dan membanggakan,yang aku ingin hanya Vivian bisa bahagia,menikah dengan pria yang mencintainya dan hidup panjang umur hingga tua kelak.Aku tidak menyangka umurku malah lebih panjang darinya.Aku,hanya sangat terluka dan tidak rela ia pergi.Aku...aku.."Ibu Vivian tidak sanggup melanjutkan omongannya yang beriringan dengan tangis di saat bersamaan itu.
Ariel yang tidak tega lalu memeluk ibu Vivian dengan sekali sergab.
"Bibi,maafkan aku bik.Maaf aku yang salah dan membuat ini semua terjadi.Ini memang salahku,andai dulu aku tidak berteman dengan Vivian,tidak akan seperti ini nasib Vivian bik.Maafkan aku."Ariel memeluk erat ibu Vivian sambil menangis.
Ibu Vivian pasrah di pelukan Ariel dan tidak menepisnya."Ini takdir Ariel,maafkan bibi.Walau Vivian sudah tidak ada tapi kami masih punya kau.Kau adalah puteri kami juga.Maafkan bibi yang tadi menyalahkanmu dan kasar padamu.Kau juga adalah anakku.Tidak seharusnya aku menyalahkanmu."
Ariel begitu terharu saat ia merasakan pelukan seorang wanita yang tidak keberatan menganggapnya anak walau ia tidak lahir dari rahim wanita itu.Walau ia sudah sangat bersalah namun ia tetap mendapat maaf dari ibu Vivian.
***
"Kau sudah baik baik saja?"Darren berbincang dengan Ariel di dalam mobil mewahnya.
Ariel menyeka air mata dengan kedua tangannya."Aku sudah baik baik saja,hanya saja aku masih teharu di tengah duka ini."
"SLAPP."Darren lekas meraih tubuh Ariel dan memeluk Ariel.
"Kenapa setiap kita bertemu selalu ada tragedi ya?Aku jadi bingung.Setiap kali juga kau yang selalu tidak beruntung."Darren merasa sedih.
"Karena saat ada banyak masalah dan derita di awal juga di tengah kita,maka sisanya hanya akhir penuh kebahagiaan.Biarlah kesulitan,kesusahan dan derita ini datang sebagai cobaan hingga nanti kita hanya perlu berbahagia."Ariel menenangkan Darren.
Darren merenggangkan pelukan itu dan menyatukan dahinya pada dahi Ariel."Apakah kita kembali lagi?Aku masih sangat mencintaimu?"
"Kau bercanda?Aku tidak yakin pria sehebat dirimu masih sendiri?Jangan jangan kau ingin menduakanku ya?"Ariel bercanda sambil tersenyum.
"Lebih baik aku mati daripada harus membuka hatiku kembali untuk orang lain."Darren menatap serius tanpa ada unsur bercanda sedikitpun.
"Darren,tapi kau tahu kan,terakhir kali bagaimana perpisahan kita dan bagaimana orang tuamu campur tangan."Ariel rupanya masih trauma pada kisah yang telah lalu.
Darren mengecup hangat dahi Ariel dengan bibirnya.Darren lalu memegang sebelah wajah Ariel dengan telapak tangan lebarnya.
"Kau tahu,alasanku menjadi hebat seperti sekarang dan bertahan hingga detik ini adalah demi dirimu.Dulu aku masih di anggap bocah ingusan,aku tidak punya apa apa tanpa harta orang tuaku.Aku juga bukan apa apa tanpa jabatan yang aku pegang sekarang.Aku pernah berada di titik terendahku saat meninggalkanmu,tapi sekarang aku kembali demi dirimu dan memperjuangkanmu sekali lagi.Bukan dengan tangan kosong,tapi dengan apa yang aku genggam sekarang ini."Darren menatap penuh keyakinan pasti.Sorot mata lurusnya juga ketegasan bicaranya yang penuh wibawa tidak di ragukan lagi.
Ariel ikut terhanyut dan serasa melihat masa depan cerahnya kembali saat di hadapkan dengan Darren yang seperti ini.
"Darren,jika ini hanya mimpi bisakah jangan bangunkan aku?Jika ini nyata,bisakah aku mencoba berani membayangkan masa depanku bersamamu?"Bibir Ariel mulai bergetar menahan tangis.
'Ya Tuhan,apakah dia memang jodohku?Sebenarnya aku takut dan ingin menghindarinya,namun hati dan mulutku tidak sejalan dengan apa yang aku inginkan.Jika memang sudah seperti ini jadinya,aku mohon berpihaklah pada kami.' Ariel juga melawan rasa takut dan traumanya.
"SLAPPP."Ariel memejamkan mata dan langsung menyambar bibir Darren.Menepemkannya lekat lekat dan penuh makna dalam.
Darren sempat kaget namun ia juga bahagia karena ini berarti Ariel telah menerimanya kembali.'Ariel,terima kasih.Kau telah memberiku kesempatan emas ini,mari kita bertempur bersama di medan perang cinta kita.Aku yakin kita akan menang saat bersatu di waktu yang berbeda ini.Aku akan buktikan hasil latihan dan perjuanganku untuk memenangkan cinta kita kembali.'
Malam yang syahdu saat Darren dan Ariel kembali bersama menjadi sepasang kekasih kembali.Jodoh yang walau terpisah tetap bersatu kembali.
***
Jimmy pulang larut malam untuk menenangkan Calvin yang sangat shock.Calvin sudah di temani asisten dan menejernya karena itu ia bisa pulang.
Calvin melihat ponselnya.Ia merasa aneh karena tidak biasanya barang satu pesan atau panggilan telepon dari Sherly tidak ada.
"Aneh,apa dia masih marah?Bahkan menanyakan kabar kematian Vivian juga tidak ada."Jimmy bicara sendiri di dalam mobilnya.
Jimmy lalu memutuskan ke rumah Sherly untuk mengecek keadaan Sherly.Sesampainya di sana,Jimmy masuk ke rumah Sherly dan menemukan ibu Sherly dengan ekspresi sulit di jelaskan.
"Bibi,ada apa?Dimana Sherly?"Tanya Calvin sopan.
"Jimmy,apa kalian bertengkar?"Itulah yang pertama kali ibu Sherly tanyakan saat pertanyaan Jimmy bahkan belum di jawabnya.
Jimmy mulai kalut,ia takut kalau kalau Sherly berbuat aneh."Iya,kami memang ada sedikit masalah bibi.Apa yang terjadi pada Sherly bik?"Jimmy mulai mendesak ingin tahu.
"Besok ia ingin kembali ke Paris lebih awal.Sherly juga sebenarnya memintaku tutup mulut agar kau jangan sampai tahu.Aku hanya khawatir karena Sherly kentara menutupi kesedihannya."Ibu Sherly hampir menangis menceritakan tentang puterinya.
"Tenang bibi,jangan sedih.Aku akan bicara dengannya dan minta maaf."Jimmy tidak enak dan merasa bersalah.
Jimmy lalu naik ke atas menuju kamar Sherly.
"Kreek."Pintu terbuka.
Sherly kaget saat yang masuk kekamarnya tanpa mengetuk pintu itu adalah Jimmy.
"Sherly."Panggil Jimmy lembut.
Sherly melebarkan senyum di bibirnya."Maaf aku tidak kerumah sakit,tapi besok aku akan ikut melayat.Tolomg bawa aku ya."Sherly memang sangat jelas menyembunyikan kesedihannya.Terlihat bagaimana kombinasi mata bengkak dan hidung merahnya yang sudah jelas sehabis menangis.