A3

A3
MELAWAN DEWA



Di parkiran sekolah,Calvin datang dengan motor besar yang keren.Hari ini ia tidak di antar oleh supirnya dan hanya menggunkan sepeda motor besar itu.Hal itu tidak lain untuk menarik perhatian Ariel.


Calvin melihat kerumunan murid di depan sekolah yang semuanya menghadap ke atas."Ada apa ini??"


Tanda tanya Calvin terjawab setelah ia juga ikut melihat ke atas."Hem,ada mau bunuh diri rupanya."


Calvin menenteng sebelah tali tasnya dan ikut bergabung ke kerumunan itu.Calvin lalu berdiri di samping Darren."Darren ini pasti karena ulahmu kan."Calvin bicara santai seperti itu seakan keadaan ini sudah biasa terjadi.


Darren menatap Calvin yang melirik dan hanya tersenyum licik.Seakan itu hanyalah hal biasa."Lihat saja,apa dia benar benar melompat.Gadis kampung itu sedang menuju ke lantai atap berusaha menenangkan si pecundang yang ingin mengakhiri hidupnya itu."


"Ariel maksudmu??"Calvin agak kaget setelah Darren juga menyebut nama Ariel.


Darren mengangguk.


Calvin lalu dengan serius menatap ke atas untuk menantikan hal yang akan terjadi.


Ariel sudah berhasil naik ke atap gedung sekolah itu.


Nafasnya masih terengah engah karena berlari menaiki puluhan anak tangga."Huh.....hah..."Ariel berusaha mengatur nafas."Syukurlah,aku belum terlambat."Ariel bicara demikian karena melihat gadis itu masih di atas dan belum menjatuhkan diri.


Ariel mulai berjalan mendekati gadis itu."Hei."


Suara Ariel membuat gadis itu berbalik.


"Ayo turun,di situ berbahaya."Ariel mencoba tenang agar gadis itu tidak panik.


"Jangan mendekat,atau aku akan lompat!!!"Gadis itu malah panik melihat Ariel.


Tapi Ariel tidak menyerah."Sudahlah,jangan seperti itu..Jangan membuat keributan yang akan merugikan dirimu sendiri."


"Apa yang kau tahu hah!!Apa kau kira masih bisa hidup dengan terus menerus menanggung malu setiap hari!!"Gadis itu malah semakin emosi dan tidak karuan.


"Kenapa kau harus seperti ini!!Mereka menindasmu karena kau lemah!!"Kau kira dengan kau bunuh diri akan berdampak bagi mereka!Setelah kau mati,mereka hanya akan mengingatmu sebagai pecundang!Bahkan setelah mati,kau juga hina dan tetap di rendahkan karena ulahmu sendiri.Hiduplah dengan baik dan terhormat.Apa kau tidak kasihan pada ibu yang melahirkanmu juga ayahmu yang banting tulang demi menyekolahkanmu?Kau adalah harapan bagi mereka!!Sadarlah!!!!"Ariel setengah membentak gadis itu karena geram pada kebodohan yang sedang di lakukannya.


Gadis itu lalu menangis.


Ariel menggunakan kesempatan itu untuk menariknya dan menjauhkannya dari tepian balkon.


Di bawah,Darren bicara dengan keras."Pertunjukan selesai.Ayo ke kelas.Bubar!!"Darren memberi perintah dan semuanya bubar.


Ariel masih di atas bersama gadis itu."Hei,sudah jangan menangis.Kau sudah berhasil membuat kehebohan.Pindahlah ke sekolah lain dan jangan berbuat bodoh lagi.Tidak ada gunanya kau tetap di sini.Di sini banyak orang orang yang tidak memiliki perasaan."Ariel kembali menasehati gadis itu agar tidak patah semangat sampai disini.


"I..iya,aku akan pindah.Aku sadar di sini aku tidak berarti.Sudah lama aku di atas sini,tapi tidak ada yang menolongku atau membujukku sejak tadi.


Hanya kau yang peduli padaku.Bahkan guru guru juga tidak iba padaku.Hal itu sangat menyakitkan."Gadis itu masih terpukul dengan apa yang menimpanya dan betapa nyawanya tidak berharga disini.


"Makanya,jangan bermain main dengan nyawamu yang berharga lagi.Mati itu tidak semudah lahir.Demi lahir kita harus membuat ibu kita kesakitan dan mempertaruhkan hidupnya tapi hal itu membuat ibu kita bahagia karena melihat kita hidup.Tapi bunuh diri hanya akan membuatmu sakit sendiri dan membuat ayah ibumu sedih."Ariel kembali menyadarkan gadis itu bahwa hidup sangatlah berharga.


Gadis itu menatap Ariel."Omonganmu sangat benar."Gadis itu mulai bisa tersenyum.


"Tentu saja,aku ini orang bijak.Kalau kau akan pindah sekolah,aku akan membantumu membalas sakit hatimu sedikit."Ariel juga ikut tersenyum dan senang karena berhasil menghiburnya.


"Eh??Bagaimana caranya??"Tanya gadis itu penuh tanda tanya.


Ariel tersenyum dan menarik tangan gadis itu membawanya entah kemana.


Rupa rupanya ke kelas A.Semua murid kelas A kaget melihat kedatangan Ariel dan gadis itu.


Ariel membawa gadis itu ke hadapan Darren.Ariel juga menggenggam sebuah roti di tangannya.


Darren memandang keduanya."Ada apa ini?Si gadis kampung dan si gadis bodoh yang tadi ingin bunuh diri datang rupanya."


"Iya,gadis yang ingin bunuh diri tadi ingin sedikit memberimu pelajaran."Ariel dengan wajah yang tidak tenang sudah gatal ingin membalas Darren.


"Apa???"Darren masih belum bisa menjangkau omongan Ariel.


Darren masih dalam posisi bingung.Ariel menyerahkan roti itu pada si gadis.Ariel lalu berdiri di belakang Darren dan memegang kedua tangan Darren."Hei,apa yang kau lakukan bodoh!!"


Ariel tidak peduli."Hei,cepat masukkan roti itu kemulutnya.Tempo hari dia mempermalukanku kan?


Darren meronta."Hei!!! Lepas."


Anehnya,tidak ada satupun yang menolong Darren.Apa karena selama ini mereka juga kesal pada Darren dan ingin memberikan pelajaran tapi tidak berani.


Tanpa pikir panjang,gadis itu segera menjejal roti itu ke mulut Darren.


"Rasakan!!!!!!"Gadis itu dengan gamblang memunculkan kebenciannya pada Darren.


Gadis itu benar benar meluapkan kemarahannya.Dan menjejal mulut Darren dengan roti secara penuh.


Sherly yang baru saja memasuki kelas yang tadi ke toilet langsung mendorong gadis itu."Apa yang kau lakukan hah!!!Berani sekali kau seperti itu pada Darren."


Seisi kelas terdiam.


Darren juga berhasil melepas diri dari Ariel.


"Cuihh."Darren memuntahkan semua roti di mulutnya dan berdiri.Ia lalu menata Ariel tajam."Aku akan membuat perhitungan denganmu!!Tunggu saja!!"


Tatapan Darren begitu menyeramkan dan penuh amarah.Ariel bahkan tidak pernah melihat Darren semarah itu.Ariel akui sekarang ia takut pada Darren.


Darren mengeluarkan ponselnya.Halo,Pak Zheng.Tolong hancurkan usaha milik siswi disekolahku yang bernama Lili Wen.Dia sudah berani kurang ajar padaku!!Hancurkan dia!!!"Bentak Darren dengan wajah yang sudah merah padam karena menampung amarah itu.


Gadis tadi langsung takut.Ia lalu berlutut dan memohon ampun pada Darren."Darren maafkan aku.Ini semua ide Ariel.Dia yang menghasutku.Dia juga yang memaksaku.Ampun Darren,jangan hancurkan keluargaku.Kami bukan keluarga hebat dan kaya."


Ariel menatap tidak percaya.Maksud hatinya yang ingin membalaskan dendam gadis itu malah seperti ini.Ariel lalu buka suara."Lili,apa maksudmu?Kenapa malah menyalahkanku?"


"Ini semua salahmu!!Kau yang tadi menghasutku untuk membalas Darren!Kau juga yang menghalangiku bunuh diri!!"Jika saja tadi kau tidak menggagalkanku maka Darren tidak akan seperti ini!Kau tahu!!Darren itu memiliki segalanya!Jika dia ingin menghancurkan sesorang maka akan semudah mematikan semut saja!!Kau tidak perlu sok hebat!!"Kau itu bukan apa apa di banding Darren!Sebaiknya jangan ikut campur lagi dengan urusanku!!"Gadis itu malah balik mencerca Ariel dengan sangat kejam.


Tanpa perlu Darren merendahkan Ariel,Ariel sudah di rendahkan sendiri oleh orang yang tadi di tolongnya.


Akhirnya Ariel sadar.'Benar,aku ini bukan siapa siapa.Kenapa aku sok hebat?Aku hanya menjadi hiburan untuk mereka.Mereka tidak menolong Darren karena tidak mau ikut terseret dalam masalah ini.Darren tetap tidak akan tersentuh.Hari ini,sikapku yang sok pahlawan malah hanya membuat keluarga dan hidup Lili hancur.'


Ariel lalu keluar dari kelas itu.Ia berjalan dengan langkah gontai.


Calvin yang khawatir lalu membuntuti Ariel keluar.


Jimmy dan Darren melihat ulah Calvin itu.


Jimmy menatap dingin.'Calvin,jangan membuat dirimu terlibat terlalun jauh.Atau Darren akan memberimu perhitungan.Jangan menghancurkan persahabatan kita karena sifat mata keranjangmu itu.Darren bisa saja salah paham karena kau mendekati musuhnya.'


Calvin meraih tangan Ariel yang berjalan di depannya."Ariel,tunggu."


Badan Ariel sangat lemah dengan tatapan kosong.


Calvin lalu membawanya pergi."Ikut aku."


BRUM....BRUMMM...


Dari atas,Darren melihat Calvin membawa pergi Ariel dengan motor besarnya itu.Darren menatap datar dan dingin.


Ariel dan Darren berhenti di sebuah taman yang sepi.


Ia dan Calvin bolos sekolah lalu duduk di bawah pohon besar yang rindang ditaman itu.


"Ariel,kau kenapa??"Tanya Calvin dengan nada halus.


"Tidak,aku hanya baru sadar kalau aku sok hebat di depan seorang dewa.Aku tidak memiliki daya apapun untuk melawannya."Ariel akhirnya mengakui kekuasaan mutlak Darren.


Calvin turut prihatin"Akhirnya kau tahu kan,sehebat apa Darren itu.Yang aku khawatirkan hanya mulai sekarang kau mungkin akan menjadi targetnya dan aku tidak bisa melindungimu."


"Aku takut Calvin..Aku takut."


Ariel yang sebelumnya kuat,lalu menangis di hadapan Calvin.Hal itu membuat Calvin cemas."Jangan menangis Ariel."


Calvin lalu memeluk Ariel.


Saat memluk Ariel,Calvin merasakan debaran yang aneh di dadanya.