
Darren dan Ariel sudah mendarat dengan sempurna di Macau.Ariel dan Darren disambut hangat begitu keluar dari pesawat.
Tidak lupa kalung bunga juga di sematkan di leher Ariel dan Darren.Darren malah usil dan mengalungkan miliknya pada leher Ariel.
"Hei!!Leherku tidak nampak!"Seru Ariel setengah berbisik.
"Hahahaha."Darren tertawa."Kau seperti badut."Darren lalu berjalan lebih cepat setelah mengerjai Ariel.
Ariel memajukan bibirnya yang mendumel setelah di kerjai Darren.
Ariel takjub saat berada di lobi hotel milik Darren.Hotel terbesar dengan fasilitas lengkap di kota itu.Di bangunan hotel itu juga ada kasino dan pusat perbelanjaan.Bahkan ada pantai buatan yang sangat luas dan lapangan golf juga.Pusat kebungaran dan kolam renang di setiap lantai tidak luput juga pastinya.
"Darren,bagaimana kau bisa memiliki ini semua dengan tubuh kecilmu?Dimana kau dan keluargamu bisa mendapatkan uang untuk membuat semua ini?"Ariel masih melihat sekeliling saat berjalan di belakang Darren.
"Dari saham,pajak,dan aset kami yang sudah menghasilkan.Ini semua jerih payah ayah dan ibuku,aku hanya meneruskannya saja.Aku harus terus meneruskannya karena banyak pegawai yang menggantungkan harapan dan lapangan kerja disini.Kelak dampingilah aku dalam memimpin ini semua.Kau tahu kan,ini tidak mudah dan aku harus merelakan masa mudaku."
"Kau kelihatan bersinar dengan banyak cahaya di belakangmu sekarang."Olok Ariel karena geli pria congkak dan egois kesayangannya ini bisa bicara dewasa.
"Kau ini,kau tahu ada berapa banyak gadis gadis dan wanita di luaran sana yang menggodaku!!Aku terus memalingkan wajah hanya demi kau saja tahu."Darren bertolak pinggang bicara dengan Ariel.
"Apa kau ingin pamer?Kau tahu sendiri bagaimana 2 sahabatmu juga tergila gila padaku tapi aku tidak menerima mereka selama kau pergi."Balas Ariel tidak mau kalah.
"Eisshhh,gadis ini."Darren mendesis pada kekasih comelnya ini.
"GRABBB."Darren tiba tiba saja memikul tubuh Ariel di bahunya dan membawanya pergi.
"Hei!!Apa yang kau lakukan!!Turunkan aku!!"Ariel meronta pada ulah Darren.
"PUKK."Darren menepuk bemper belakang Ariel hingga berbunyi."Sudah,diam saja atau kau akan membuatku terlambat menghadiri rapat.Apa ada pasangan kekasih yang selalu bertengkar seperti kita?Hanya ini cara agar kau tidak membuatku berdebat denganku lagi."Darren tersenyum puas.
"Kau ini,selalu saja semaunya.Apa aku seperti beras dalam karung sampai kau harus memikulku begini?"Ariel juga lalu geli sendiri dan tersenyum pada ulah Darren.
***
Di ruang rapat,Ariel takjub melihat Darren yang berwibawa dengan wawasan luas mengenai bisnisnya.'Dulu dia begitu semaunya dan ceroboh.Dia juga hanya mengandalkan kekuasaannya.Tapi sekarang dia bisa membuktikan dirinya pantas dan layak.'
Di sela itu,Darren sempat sempatnya mengedipkan sebelah matanya pada Ariel.Di tambah lemparan senyum penuh pesona oleh Darren.
Lengkap sudah untuk membuat hati Ariel meleleh seperti bubur.Ariel terlihat kagok dan tiba tiba merasa haus.Ariel lekas menyesap segelas air putih di hadapannya.
'Aku mendapatkanmu sayang.' Darren tahu jelas jika Ariel sudah terkena panah asmaranya.
***
"Suamiku,kenapa di saat seperti ini kau malah sakit dan tidak berguna?Kau tahu,anak kita berulah dan mendekati gadis kampung itu lagi.Apa yang harus aku lakukan!Kita hanya punya satu putera dan ia juga yang mewarisi semuanya kelak,tapi Darren malah memilih wanita sembarangan.Bagaimana kalau gadis itu hamil dan mengklaim jika ia mengandung anak Darren!!Apa kita harus mengakui cucu dari kalangan rendah!Itu juga yang akan menjadi senjatanya untuk menahan Darren dan melawan kita."Ibu Darren marah didepan ayah Darren yang sudah tidak berdaya di kursi roda.Separuh tubuhnya sudah di gerogoti oleh penyakit stroke,ia bahkan sudah tidak bisa bicara dengan mulut miring itu.Lidahnya sudah kelu dan tidak bisa berdaya melalukan apapun tanpa bantuan seseorang.
Ibu Darren sangat khawatir kalau sampai hal yang ditakutkannya terjadi.Kalau sampai Ariel hamil dan membuat Darren harus mengakuinya.Apalagi kalau sampai Ariel harus benar benar menikah dengan Darren.
Namun ibu Darren memikirkan sebuah ide picik."Jika Darren menghamili gadis lain yang merupakan pilihanku,maka anaknya akan menjadi senjata balikku untuk mendepak Ariel sekaligus menyatukan Darren dengan wanita yang sepadan."
Ibu Darren seperti sudah terlintas sebuah ide cemerlang.
***
Darren lalu membawa Ariel ke sebuah taman berbunga yang indah.
"Hei,anak muda tolong fotokan kami."Darren meminta seseorang untuk memfoto ia dan Ariel di sebuah kursi taman itu.
"Kenapa kau norak sekali!Kita kan bisa selfie saja."Ariel mencubit didekat pinggang Darren.
Darren santai saja."Biar kelihatan seperti liburan tahu."
"Aku kira ini adalah perjalanan bisnis."Tambah Ariel.
"Tidak,ini adalah bulan madu sebelum menikah kita.Bisa saja kita menghasilkan sesuatu disini yang membuat kita harus menikah."Darren menganggkat kedua alisnya.
"Cekrek."Darren dan Ariel berpose mesra berdua di kursi taman itu.
Malam harinya Darren mengajak Ariel makan malam di sebuah restoran Italia.
"Darren,kenapa disini sepi sekali?Apa makanannya tidak enak atau harganya sangat mahal?"Tanya Ariel saat melihat hanya mereka tamu di restoran itu.
"Tidak,bukan keduanya.Aku sudah menyewa restoran ini hanya untuk kita dan tidak menerima tamu lagi selain kita sampai tengah malam nanti."Sahut Darren santai sambil menyantap gulungan pasta di garpunya.
Ariel hampir tersedak mendengarnya."Berapa kalipun kau mengejutkanku dengan kekayaanmu,kau selalu berhasil membuat aku takjub.Aku rasa uang memang tidak ada harganya untukmu."
"Baguslah kalau kau sadar,hanya cintaku untukmu yang tidak bisa di beli dengan apapun."
Ariel tersipu malu dengan gombalan sejuta umat dari Darren."Habiskan saja pasta di piringmu."
Darren mengambil tissue dan menyapu bibir Ariel yang sedikit belepotan saos spagetti itu.
Ariel juga ikut tersenyum.
Setelah makan malam,Darren membawa Ariel ke dermaga dan membawa Ariel berlayar dengan sebuah kapal mewah miliknya.
Ariel dan Darren berada di depan kapal itu,Darren membuka jaketnya dan memasangkannya pada Ariel untuk menutup bahu Ariel dari dress yang tidak bertali di pakai Ariel itu.
Darren lalu memeluk Ariel dari belakang dan melihatnya indahnya pemandangan gemerlap lampu di pinggiran kota bersama Ariel.
"Darren,kau selalu menunjukkan padaku betapa indahnya dunia ini.Tapi aku belum bisa memberikan apapun untukmu."
Darren lalu membalikkan badan Ariel.Darren meraih kedua tangan Ariel dan menghangatkan dengan nafasnya agar tangan Ariel yang dingin menjadi hangat.
"Aku hanya ingin kau seperti ini,biarlah aku yang memberi dan kau hanya perlu menerima.Itulah arti kebersamaan kita,saling memberi dan menerima.Kau membiarkan aku menerima sebanyak mungkin cintamu dan itu sudah cukup bagiku."Darren tersenyum manis dengan lesung pipi kanannya.
Ariel tersentuh,Ariel lalu mengecup bibir Darren hangat.
"Muach."Ariel menghadiahkan kecupan itu untuk Darren.
Darren lalu membisiki sesuatu di telinga Ariel.
Wajah Ariel langsung merah mendengar apa yang Darren bisikkan.