
Kelas 3 SMA ini terasa begitu suram untuk Ariel dan sahabat sahabatnya.
Ariel yang di tinggal Darren juga bibinya yang meninggal.Vivian yang tetap masih bertahan dengan cinta sepihak pada Calvin.Calvin yang belum bisa melupakan Ariel.
Sherly yang kecelakaan karena menyelamatkan Jimmy.Sherly tetap hidup namun kakinya sudah lumpuh dan harus memakai kursi roda sepanjang hidupnya.Jimmy mau tidak mau berpura pura suka dan cinta pada Sherly lagi sebagai balasan untuk Sherly yang menyelamatkan hidupnya dan harus mendapatkan kelumpuhan karena pengorbanan demi menyelamatkan nyawanya.
Sherly senang,walau kakinya tidak bisa lagi melangkah.Tapi Jimmy selalu berada di sisinya dan memberi kasih sayang padanya.Kini Sherly tahu,semakin besar kita berkorban maka semakin banyak imbalan besar yang akan kita dapatkan walau kita juga harus kehilangan sesuatu yang berharga di saat bersamaan.
Darren yang berada di Amerika sangat merindukan sahabat sahabatnya juga Ariel tentunya.Darren menjadi pria dingin dan tidak mau dekat dengan siapapun disana.Ia sangat pendiam.Bahkan tidak mau berteman.
Orang tuanya tetap keras dan membiarkan Darren tumbuh seperti itu.
Dalam benak orang tua Darren,lebih baik Darren tidak punya siapa siapa lagi dan tidak berteman di banding menjerumuskannya pada hal yang tidak baik karena berkaca dengan pengalaman saat di Taiwan dulu.
Masa masa sulit semua terjadi di kelas 3 ini.Semua membawa luka masing masing.
Hingga waktu berjalan tanpa terasa dan kini kisah ini berlanjut pada mereka yang sudah dewasa.4 tahun telah berlalu,Semuanya sudah menempuh jalan masing masing setelah kelulusan dari SMA dan memilih jalan mereka masing masing untuk masa depan mereka.
Ariel dan Vivian tidak melanjutkan kuliah karena otak mereka mungkin sudah lelah berpikir dan malas untuk belajar lagi.Mereka memilih meringankan beban orang tua dengan memulai usaha sendiri.
Dari hasil tabungan pribadi Ariel,Vivian dan Ariel bekerja sama membuka usaha dan menjalankannya bersama.Mereka membuka restoran nasi box beraneka rasa.
Usaha mereka cukup laris dan menghasilkan karena bantuan promosi dari Calvin.Calvin sesuai dengan bakat dan keahliannya sudah menjadi seorang superstar sekarang.Ia seorang mahasiswa jurusan seni peran sekaligus berprofesi sebagai aktor.Sejak kelulusannya dari SMa,Calvin sudah di lirik dan di perebutkan banyak rumah produksi.Imej playboy Calvin juga masih sangat melekat.Sudah bukan rahasia ia sering terlibat skandal dengan wanita wanita baik di kalangan artis maupun non artis.Tapi Calvin santai saja.Ia memang pujaan wanita kemanapun ia melangkah.Namun sampai sekarang cintanya pada Ariel masih tidak terbalas.Vivian juga sampai sekarang masih memendam perasaan pada Calvin.
"Hai para gadis,aktor tampan kalian sudah datang."Calvin membuka kaca matanya dan menyelipkannya di tengah bajunya.
"Calvin."Ariel yang mengelap meja di restorannya kelihatan senang melihat kedatangan Calvin.Asal tahu saja,Ariel juga masih belum membuka hatinya untuk siapapun hingga saat ini.
"Hari ini,siapa lagi yang harus aku beri tanda tangan?"Calvin duduk di sebuah kursi yang mejanya Ariel lap tadi.
"Emmm,sebentar lagi jam pulang sekolah.Kau harus senam jari dan bersiap siap menandatangani banyak permintaan penggemarmu."
"Baiklah,suatu kehormatan bagiku menjadi ambassador restoran ini."Calvin tersenyum melihat fotonya di kaca depan restoran Ariel.
"Apa benar kau tidak mau di bayar Calvin? Aku merasa tidak enak dengan kau yang cuma cuma dan sukarela membantu kami.Aku bisa membayarmu sedikit kalau kau mau."Ariel merasa tidak nyaman dengan Calvin yang selalu membantunya mempromosikan dagangannya tapi tidak pernah meminta imblan.
"No..no..no."Calvin melambaikan jari telunjuknya."Aku senang bisa membantu.Hitung hitung untuk ladang pahalaku yang sering kali menyakiti hati wanita.Anggap saja ini perbuatan amal untuk menebus dosaku."
"Dasar."Ariel tersenyum dengan wajah yang semakin cantik,tubuh yang semakin matang saat dewasa.
"Ariel,aku antar pesanan dulu ya."Vivian juga keluar dengan rambut bob sebahu bersiap mengantar pesanan untuk makan siang.
Vivian dan Calvin hanya tersenyum untuk saling menyapa.
"Duduklah,ada yang mau aku bicarakan."Utara Calvin dengan wajah serius namun dengan nada santai.
Ariel menurut dan duduk di kursi tidak jauh dari Calvin dan masih di meja yang sama."Ada apa Calvin?"Ariel mulai mulai serius dan menatap Calvin.
"Tidak ada yang serius.Sherly dan Jimmy akan pulang ke Taiwan hari ini karena sedang libur semester.Kita bisa berkumpul lagi untuk bernostalgia."
"Baguslah."Ariel senang mendengar kabar kepulangan Jimmy dan Sherly ke Taiwan yang jarang terjadi.
Setelah lulus SMA,Sherly dan Jimmy sama sama melanjutkan kuliah di Paris dengan jurusan seni.Seperti yang di ketahui,Sherly sudah lumpuh dan kini hidup harus menggunakan kursi roda.Jimmy dengan setia mendampinginya dan pura pura mencintainya sebagai balas budai atas pengorbanan dan sudah menyelamatkan hidupnya.Jimmy terus hidup dalam kepalsuan perasaan demi Sherly.Tapi ia juga tidak tega untuk meninggalkan atau memutuskan Sherly.Sudah cukup Sherly kehilangan kakinya dan Jimmy tidak mau Sherly kehilangan keceriaannya lagi.Ia juga tidak tahu sampai kapan akan mendampingi Sherly.
Di bandara,Jimmy sedang mendorong Sherly yang duduk di kursi roda.Orang tuanya nampak antusias saat melihat kedatangan anak anak mereka.
Di sisi yang tidak jauh,Ariel,Calvin dan Vivian juga menyempatkan datang ke bandara menyambut kedatangan keduanya.
Jimmy sangat senang melihat semua yang datang menyambutnya.Apalagi melihat Ariel.'Aku senang bisa melihatmu.Kau semakin cantik,kau bahkan lebih cantik dari bunga bunga yang menyambut kedatanganku ini.' Sekian tahun berlalu,hati Jimmy tetap hanya berlabuh untuk Ariel seorang.
"Hei sahabatku,kau harus bangga di sambut oleh seorang aktor tenar sepertiku."Calvin membanyol saat Jimmy sudah dekat.
"Apa aku memang harus bangga dan meminta foto bersama sekalian minta kau menandatangani bajuku?"Jimmy juga geli pada sahabat karibnya yang masih gila seperti dulu.
"GRABBB."Calvin memeluk Jimmy lebih dulu.
Keduanya saling merindukan satu sama lain walau tanpa kata kata.
Ariel dan Vivian menghampiri Sherly dan berlutut.
"Aku sangat merindukan kalian."Sherly merangkul Ariel dan Vivian bersamaan.
"Aku juga,tapi kau pasti senang bisa melihat bule tampan tiap hari."Ariel menggoda Vivian.
"Anggap saja itu bonus untuk cuci mata."Sherly juga melanjurkan candaan itu.
"Curang,aku juga mau."Vivian juga ikut bergabung.
Semuanya melepas rindu dengan berkumpul kembali.Banyak cerita tertunda yang mereka kumpulkan untuk di bicarakan saat bertemu.Mengingat masa masa sekolah dulu yang penuh canda,tawa,tangis,kecewa dan berbagai hal hingga bisa membuat mereka menjadi sahabat.