
Ariel dan Darren berbaring di kamar masing masing setelah menikmati kencan yang menyenangkan hari itu.
Ariel kedatangan seseorang yang mengetuk pintunya malam malam begini dan alangkah terkejutnya Ariel karena yang datang adalah orang orang dari toko furniture dan elektronik.
"Kenapa pak? Aku dan bibiku sepertinya tidak memesan inu semua,apa bapak tidak salah alamat?"
Ariel dan bibinya keheranan melihat orang orang itu yang sudah bersiap membawa apa yang mereka antar untuk di bawa masuk kedalam.
"Ini rumah Ariel lin kan? Alamatnya cocok dengan yang tuan Darren cantumkan."Seru pria pengantar itu.
"Darren? Jadi ini semua dari dia?"Akhirnya Ariel tahu siapa pengirim ini semua yang tidak lain adalah pacarnya.
Ariel mempersilahkan orang orang itu membawa masuk barang yang memang di tujukan untuknya.Tapi sekarang,Ariel harus terlibat pembicaraan dengan bibinya.
"Ariel,ada apa dengan semua ini? Darren?? Bukankah dia anak konglomerat yang satu sekolah denganmu itu?" Bibi Ariel mulai menginterogasi Ariel.
Ariel malu malu dan canggung."Bibi,sebenarnya aku dan Darren pacaran."
"Apa!!!!" Bibi Ariel sampai berteriak keras.
"Sssttttttt,diam bibi."Ariel menaruh jari telunjuknya di mulut agar bibinya tidak heboh dan berteriak seperti tadi.
"Ariel,kau sudah berani rupanya ya.Ah...ternyata keponakanku ini sudah dewasa rupanya.Kau yang dulu sering menangis karena merengek ingin mainan sekarang malah sudah pandai berpacaran.Entah sejak kapan kau sudah tumbuh sebesar ini? Bibi tidak pernah memerhatikanmu dengan benar karena sibuk bekerja."Bibi Ariel mengelus kepala keponakannya itu dan terharu melihat Ariel yang sudah tumbuh dewasa di hadapannya sekarang.
Mata Ariel juga ikut berkaca dan terharu pada perhatian bibinya yang sudah seperti orang tuanya."Bibi,jangan bicara seperti itu.Bibi kan selalu bekerja keras dan semua itu demi bisa menghidupiku.Bibi bahkan mengesampingkan urusan pendamping hidup karena terlalu sibuk membanting tulang dan mencari uang untuk biaya sekolahku.Bibi adalah orang yang paling aku sayang dan cintai,apalagi setelah orang tuaku tidak ada.Hanya bibilah yang aku punya dan bisa aku sebut keluarga." Ariel tidak kuasa menahan air matanya lalu memeluk bibinya erat.
****
"Apa kau sudah terima hadiah hadiah dariku?"Darren menelepon Ariel setelahnya.
"Hei,kau pikir aku mau membuka toko mebel dan elektronik di rumah! Kau tahu kan rumahku ini hanya sebesar kamarmu!! Mau aku taruh dimana semua ini Darren!! Rumahku semakin sempit."Ariel bahagia tapi tetap saja mengeluh.
"Haruskah aku belikan kau rumah yang lebih besar??"
"TIDAAKKKKKKK!!!!" Ariel berteriak keras hingga membuat telinga Darren peka.
Darren tersenyum lebar karena berhasil membuat pacarnya itu pani kelabakan.
Selesai berteleponan tadi,Ariel memandang perabotan baru rumahnya yang sudah di belikan Darren.Ariel bertolak pinggang."Apa ini yang membuat para wanita mengejar pria konglomerat? Bahkan rumah petak ini bisa berisikan barang barang mewah dan berat dalam semalam.Darren benar benar seperti Jin Aladin yang bisa membuat semua ini nyata."Ariel juga geli sendiri pada ulah pacarnya.
Karena itu sebagai ucapan terima kasih,Ariel bangun pagi pagi sekali dan membuatkan Darren nasi goreng dengan sosis dan telur sebagai topingnya.
Wajah Ariel tersenyum sumringah memandang hasilnya mengubek dapur pagi pagi buta.Ariel menutup tempat bekal itu dan menaruhnya ke dalam tas dengan hati hati lalu berangkat ke sekolah.
***
Vivian sudah susah payah melupakan Calvin namun bayangan Calvin masih saja menghantuinya.Sekarang saat menendang kerikil di jalanan sambil berangkat sekolah tidak jauh dari pandangannya ,Vivian melihat Calvin yang seperti menunggu seseorang di dekat gang.
'Calvin? Kenapa dia menunggu di gang itu? Bukankah itu gang pintas yang bisa menuju rumah Ariel?' Vivian bergumam sambil memandang Calvin dan memperlambat langkahnya.
Tidak lama,semuanya terjawab saat...
Vivian lekas menyembunyikan diri di balik semak semak.'Ternyata dia mau menjemput Ariel.Ariel benar benar beruntung.Sekarang Calvin bahkan tidak pernah main perempuan atau gonta ganti pacar setelah mengenal Ariel.' Vivian tetap sedih walau sudah mencoba merelakan perasaanya pada Calvin yang nyatanya tidak semudah itu.
"Kau kenapa bisa disini?" Ariel bertanya pada Calvin yang sudah ada tidak jauh dari gang rumahnya.
"Sudah jelas kan,aku ingin mengajakmu pergi bersama.Ayo naik."Ujar Calvin menatap bahagia Ariel pagi itu.
"Syukurlah sekarang kau sudah bisa tersenyum."Ariel senang karena Calvin tidak lagi terpuruk seperti waktu itu.
"Sekarang ibuku tidak akan di pukuli lagi,dan pak tua itu hanya seperti tawanan di penjara yang tidak bisa kemana mana.Taringnya sudah berguna lagi sekarang."Calvin bisa bahagia seperti sekarang karena ia tidak perlu sedih melihat ibunya yang dulu sering di sakiti ayahnya atau berdebat dengan ayahnya tanpa bisa melawan.Kini,era ayah Calvin sudah tidak lagi berjaya.
Ariel menerima tawaran tumpangan dari Calvin.Tapi saat di jalan,Darren yang juga pergi sekolah melihat Ariel dari dalam mobilnya yang sedang di bonceng oleh Darren."Lihat!!! Hebat sekali!! Aku yang pacarnya harus sembunyi sembunyi tapi ia dengan pria lain sangat terang terangan."Darren mengawali pagi dengan kekesalannya.Darren terus berada di belakang Ariel.
Setelah itu,mobil Darren mulai memepeti motor Calvin dan Darren membuka kaca mobilnya saat mereka sudah sejajar.
"Hei kalian!!"Darren menyapa Ariel dan Calvin dari dalam mobil.
Calvin menoleh sebentar dan tersenyum lalu fokus ke depan kembali karena harus fokus berkendara.
Ariel masih menatap Darren.'Dia pasti sedang cemburu sekarang.' Ariel tersenyum melihat Darren yang seperti anak kecil itu.Ariel lalu diam diam memberi kiss bye untuk Darren.
Darren membelalak lebar dan berdebar.Rasanya kiss bye yang Ariel berikan terbang sempurna mengenai bibirnya.Hal itu cukup untuk meredakan amarah Darren.
***
Di sekolah,Eva memutuskan pindah tempat duduk yang semula dengan Sherly.Ia masih melancarkan perang dingin dengan Sherly karena masih sangat terluka dan makan hati karena kata kata Sherly hari itu.
Sherly masuk ke kelas dan aneh melihat Eva yang masih marah juga tidak duduk di sampingnya lagi.'Gadis itu!!! Sampai kapan dia mau marah padaku!!!! Kenapa dia jadi berani begitu!! Baiklah,lihat saja!! Sampai kapan kau akan seperti itu! Kau tidak akan bisa menemukan teman yang lebih baik dan sempurna dariku!' Sherly juga gengsi untuk minta maaf dan hanya membiarkan Eva begitu saja.
'Tidak akan ada yang mau berteman dengan gadis yang luar biasa angkuh sepertimu Sherly!! Kau akan tahu seberapa hebatnya aku selama ini karena bisa tahan denganmu.Jika itu orang lain,3 hari saja menjadi temanmu,mungkin orang itu akan membencimu dan tidak mau lagi berteman denganmu.' Eva juga tidak mau tunduk lagi seperti kacung Sherly dulu.Kini ia ingin membebaskan diri dari mantan sahabatnya itu.
Darren sudah masuk ke kelas.Ariel sudah lebih dulu sampai dan duduk di bangkunya.
"Darren.."Eva menyapa Darren dengan berani pertanda ia serius dengan omongannya.
Darren hanya memandang sekilas.Darren melihat ke arah Ariel setelah itu.
Ariel agak seperti suatu ekspresi yang tidak bisa di ungkapkan maknanya.
Darren duduk di bangkunya.Ariel menulis di buku kosong dan menyodorkannya ke Darren agar membacanya.
Darren melirik dan membacanya yang bertuliskan.
"Di laci meja."
Darren lekas mengecek laci mejanya dan meraih sesuatu.Darren menunduk kebawah dan melihat apa benda itu yang ternyata kotak bekal.'Manis sekali,pacarku membuatkanku bekal ini.Dia pasti sudah bersusah payah.'
Darren tersenyum dan menulis di kertas kosong juga."Terima kasih."
Ariel ikut senang karen respon baik Darren.