A3

A3
PERTEMUAN DAN PERPISAHAN



Darren kaget saat ternyata gadis yang ia selamatkan adalah Ariel.Ia benar benar tidak menyangka sama sekali.


Tadinya saat melintas,ia melihat karyawannya yang kurang ajar pada perempuan.Darren hendak menumpas orang orang rendahan yang berani main kasar dengan perempuan padahal dirinya adalah seorang pria.


Namun takdir malah mempertemukannya dengan wanita yang selama ini sangat ia rindukan.


"Tes."Air mata Ariel tiba tiba rembes dan menitik menatap Darren yang ada di hadapannya sekarang dengan tampilan yang berbeda.


Sekarang Darren bukan lagi siswa congkak dan angkuh dengan seragam sekolah.Tapi seorang pria matang dan dewasa dengan setelah jas dan dasi yang berwibawa juga menawan.Rahangya tegas,matanya sendu namun tajam.Hati Ariel seketika meremuk mengingat betapa ia sangat merindukan sosok yang ada di hadapannya ini setiap harinya.


Darren juga senang bercampur pilu melihat Ariel.Sekarang Ariel sudah dewasa dengan rambut panjang tebal dan hitam,tangan Ariel nampak kasar karena bekerja keras.Ariel juga memakai seragam restorannya.Darren prihatin telah membuat nasib Ariel seperti sekarang ini.


Namun,Darren juga sudah tidak kuat untuk menumpahkan rindunya.


"GRAPPPP."Darren lalu menarik tangan Ariel dan membawanya pergi.


"Pak."Sekretaris pria Darren nampak memanggil Darren yang pergi begitu saja dan meninggalkannya padahal jadwal di perusahaan hari ini sedang padat.Darren bahkan tidak menggubris panggilannya dan hanya fokus dengan wajah serius menggandeng Ariel.


Darren membawa Ariel masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai paling atas.Didalam lift walau tanpa bicara,Darren tetap menggandeng tangan Ariel dengan erat.


Hingga pintu lift itu terbuka dan sampailah mereka menuju bangunan atap perusahaan itu dengan sedikit berjalan dan hanya berdua di atas sana.


"GRABB."Darren langsung memeluk Ariel.


"Aku sangat merindukanmu Ariel."Tercetuslah kalimat pertama itu setelah sekian tahun tidak bertemu.


Ariel yang di peluk Darren meneteskan air mata dan masih tidak percaya dengan pertemuan ini."Apa,ini mimpi?"Suara Ariel dengan berat keluar sambil menahan tangisnya yang di senggol sedikit saja bisa tumpah.


Darren sedih mendengar perkataan Ariel barusan."Ini aku bodoh.Darren,si paling angkuh dan somobong ketua dari A3.Apa kau sudah lupa padaku setelah sekian tahun tidak bertemu."Darren mencoba bercanda.


Ariel tersenyum bahagia dan balas memeluk Darren karena sudah bisa memastikan kalau yang sekarang bersamanya memang Darren yang ia rindukan selama ini."Kau jadi lebih tinggi,lebih tampan,dan sekarang kau juga pria hebat."Ariel berusaha keras berbicara walau saat ini,inginnya ia adalah menangis haru.


Ariel bisa mencium lekat lekat harum parfum di jas Darren.


Darren juga mengharu biru bertemu kekasih lamanya hingga matanya berlinang air mata.


Darren lalu melepas pelukan itu dan memegang wajah Ariel.Darren menatap mata Ariel yang berbinar bagai bintang kejora.


Ariel masih terdiam pasrah.Hingga Darren semakin mencondongkan wajahnya dan membenamkan bibirnya pada bibir Ariel.


Ariel memejamkan mata sambil menitikkan air mata bahagia bersamaan.Kerinduannnya akhirnya terbayar dengan cara yang tidak terduga.


***


Di restoran milik Ariel,baik Vivian dan Calvin masih berada di sana.Calvin tidak bisa keluar karena massa yang semakin banyak dan padat.


Beberapa penggemarnya bahkan mulai bertingkah anarkis.


"Tenanglah Vivian,aku akan mengatasinya.Jangan takut."Calvin melihat ke arah Vivian yang kaget sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Iya Calvin,sebaiknya kau jangan keluar dulu dan tetaplah disini."


Calvin mengikuti saran Vivian lalu memanggil bala bantuan tambahan.Calvin ingin pengawalan di tempatnya berada di perketat.


Tapi Vivian melihat sesuatu yang berbahaya saat Calvin sedang bertelfonan sekarang.


Seorang gadis memegang batu besar dan menatap marah pada Calvin.Sepertinya,gadis itu adalah penggemar fanatik Calvin yang sangat tidak terima dengan berita yang menimpa Calvin.Apalagi,Calvin sampai turun tangan dan membela Ariel terang terangan.


Gadis itu semakin dekat dan membuladkan tekadnya dengan batu yang sepertinya ia bidik ke arah Calvin.


Lalu...."BRAKKKKKKK."


Gadis itu benar benar melempar batu di tangannya ke arah Calvin yang sedang bertelfonan.


Calvin sama sekali tidak tahu dan tidak menyadari dengan bahaya yang mengancamnya di depan mata.


Secepat kilat,Vivian menghadang batu itu mengenai Calvin.


"CALVIN AWASSS!!!!"Vivian berteriak sekencang mungkin.


Calvin menoleh ke depan dan melihat batu besar sudah melayang dan mendekat ke arahnya.


"BRUKKKK."Batu itu malah melenceng dari target utamanya dan mengenai kepala belakang Vivian yang memang ingin melindungi Calvin.


"Vivian."Calvin menjadi kaku seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.Calvin lalu menahan tubuh Vivian.Saat ia memegang belakang kepala Vivian,ada sesuatu yang membasahi tangannya.Calvin lalu menarik sebentar tangannya dan shock saat melihat darah segar dari kepala Vivian membasahi tangannya.


Gadis pelaku pelemparan itu sudah di tangkap dan diamankan.


Calvin lalu terduduk bersama Vivian.Ia membaringkan Vivian di pahanya.


"Sabar ya Vivian,aku akan menelepon ambulance.Sebentar lagi kau akan di bawa ke rumah sakit dan selamat."Calvin dengan kondisi masih bergetar ketakutan mencoba menenangkan Vivian yang sudah sekarat dan hampir tidak sadarkan diri.


"Tidak apa apa Calvin,aku hanya sedikit sakit."Vivian masih mencoba tersenyum walau perasaannya berkata lain.'Aku rasa aku akan segera mati,pandanganku terasa berbeda dan semuanya me njadi putih.Luka di belakang kepalaku juga sangat sakit.'


Calvin menahan tangis,panik dan ketakutan di saat yang bersamaan."Tidak,jangan tersenyum padaku sekarang.Itu malah terlihat sangat menakutkan untukku.Kau seolah ingin berpamitan denganku.Bersabarlah aku mohon,kau akan selamat dan baik baik saja."Calvin akhirnya runtuh dengan bicara sambil menangis tersedu.


"Tidak,jangan menangis untukku.Aku tidak ingin kau sedih.Aku menyelamatkanmu karena ingin kau tetap hidup dan bahagia.Aku ikhlas kalau ini adalah takdir untukku.Jika memang hidupku yang tidak berharga ini bisa berguna dan menyelamatkanmu,aku yakin aku bisa tenang dan di tempatkan di Surga."Vivian masih berusaha bicara walau pandangannya sudah kabur dan matanya ingin tertutup karena berat sekali.


Vivian lalu mendapat kilas balik bagaimana ia menyukai Calvin selama ini,bagaimana ia juga beberapa kali menyelamatkan Calvin dari bahaya,Vivian juga mengingat kedua orang tuanya dan teman temannya seakan saat ini adalah perpisahannya dengan orang orang terkasihnya.


Vivian sadar,jika ajalnya mungkin sudah tidak lama lagi.Sekarang pendengarannya kedap dan tidak bisa mendengara apapun.Semuanya penuh keheningan hingga matanya juga perlahan menutup di atas paha Calvin.Ia pergi meninggalkan dunia ini di depan orang yang ia cinta selama hidupnya.


"TIDAK!!!!!!!"Teriak Calvin keras saat melihat mata Vivian tertutup dan tangannya tergeletak juga tubuhnya yang sudah tidak berdaya lagi.