
Jimmy yang awalnya benci pada Ariel lalu dekat dan membahas banyak hal tentang guru besar yang mengajari Ariel itu.Jimmy sangat tertarik dan semangat membahasnya bersama karena seniman yang juga guru Ariel tadi adalah panutan sekaligus idolanya.
Sherly yang melihat dari jauh malah kelihatan dongkol melihat kedekatan keduanya.'Katanya hanya suka padaku dan benci pada gadis kampung itu.Tapi semudah itu dia berpindah dan tidak mengejarku lagi.Dasar tidak punya pendirian.' Untuk pertama kalinya Sherly merasa iri dan marah karena perhatian Jimmy tidak lagi tertuju padanya dan malah pada gadis yang ia benci.
Calvin dan Darren juga ikut kesal melihat tingkah Jimmy yang banyak omong dan memepeti Ariel.
"Apa itu? Jelas jelas dia benci pada Ariel dan mengejekku waktu itu.Tapi lihat dia sekarang,sedang menjilat ludahnya sendiri."Calvin mulai kesal pada ulah Jimmy yang mendekati gadis pujaan hatinya.
"Tidak cukup Calvin,sekarang orang yang aku kira masih bisa sejalan denganku juga berpindah haluan.Kacau!!! Apa hebatnya dan spesialnya gadis kampung itu sampai bisa mengalihkan perhatian Calvin dan Jimmy.Hanya aku yang tersisa waras dan masih tidak terpengaruh disini."Darren juga tidak kalah memendam kesal melihat Jimmy yang sudah masuk ke perangkap Ariel.
"Bagaimana guru besar itu mengajar kalian di kelas? Aku lihat karyamu memang halus dan berbobot."Jimmy terus merundung Ariel dengan pertanyaan.
"Tidak ada yang khusus,dia hanya meminta kami bebas dan lepas.Di desa sana,kami membuat tembikar di luar ruangan.Kau akan takjub,desa kami sangat indah.Di belakang sekolah juga ada hutan tropis yang hijau dan asri."Ariel membanggakan sekolahnya dulu.
"Jadi guru besar masih mengajar di sana?"Tanya Jimmy lagi.
"Iya,dia masih disana."Sahut Ariel penuh keyakinan.
"Ayo kesana,aku ingin sekali bertemu dengannya."Jimmy sangat menggebu gebu.
"Boleh saja."Jawab Ariel santai.
"Aku juga ikut!!!"Calvin berdiri dan tidak bisa membiarkan Jimmy hanya pergi dengan Ariel.
Jimmy menatap Calvin."Mengganggu saja."
Ariel tersenyum melihat kedua pria itu.Tapi di sini,Darren sudah semakin kesal dan Sherly juga marah tanpa sebab jelas.Ariel benar benar mengalihkan Jimmy dari dirinya.
"Jimmy,ayahku akan mengadakan konser lagi hari minggu besok.Kau mau aku berikan tiket?"Sherly tiba tiba menyambar.
"Tidak,lain kali saja."Jawab Jimmy singkat dan lanjut bicara dengan Ariel.
Sherly tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.'Apa?? Dia menolak tawaranku!! Bukankan biasanya dia mengemis padaku apapun itu!!! Menyebalkan!!!!! Dia sudah termakan gadis kampung itu juga rupanya seperti Calvin.'Sherly sebal sendiri jadinya.
"Tapi Calvin,bagaimana dengan janjimu dengan Vivian itu?"Ariel bicara empat mata dengan Calvin di luar kelas.
"Tenang saja,aku akan membatalkannya saat kami bertemu langsung."Calvin menenangkan Ariel.
"Tidak bisa ya kau pergi saja dengannya?"Ariel seperti memohon dengan raut sungkan.
Calvin menggeleng."Aku akan tetap ikut,aku tidak tenang membiarkanmu pergi berdua saja dengan Jimmy.Dia itu serigala berbulu domba."Terang Calvin ketus.
Ariel hanya tertawa geli."Baiklah baiklah,terserah kau saja."
****
Acara saling memanas ini berlanjut saat di kantin kelas A.Jimmy terus saja bicara dengan Ariel tanpa menganggap kehadiran Calvin dan Darren.
Darren yang sudah seperti gunung meletus itu lalu kesal dan meledak.
PRAKKKKKK.
Darren menghentakkan meja dengan kuat.Membuat Jimmy terdiam dan Calvin yang hendak menyuapkan nasi kemulutnya malah nasi itu jatuh dan berhamburan.
"Bisa diam tidak!! Kalian merusak selera makanku!."Darren jelas memberi peringatan itu pada Jimmy dan Ariel.
Ariel malah memandang Darren aneh."Darren,maaf."Ariel lalu memetik nasi di pinggiran bibir Darren."Ada nasi di tepian mulutmu."Ariel lalu bahkan memasukkan butiran nasi itu ke muluntnya.
"Shock...dug dug dug dug."Darren lagi lagi senam jantung dan lebih kuat dari biasanya.
Calvin iri dan kesal."Apa dia sengaja menyisakan nasi di bibirnya itu!!"
"Kau juga,makanlah dulu baru bicara."Ariel mengambil tissue dan mengelap mulut Jimmy yang tepiannya terkena saos tomat itu.
Jimmy gugup dan sesak nafas.
Calvin semakin membatin.'Ada apa dengan mereka berdua??!! Kenapa mereka seperti sengaja mencari perhatian Ariel.Apa aku harus menumpahkan nasi ke wajahku agar Ariel memperlakukanku sama seperti mereka.'
"Baiklah."Calvin langsung senang saat Ariel memerhatikannya dan tersenyum padanya tanpa memerhatikan yang lain.
Ketiga anggota A3 langsung senyap dan terdiam,hanya karena seorang Ariel.Wanita yang dulu mereka benci dan ingin mereka singkirkan.
Sherly yang terus memerhatikan A3 sejak tadi menekan keras sendoknya ke piring."Dasar bodoh!!! Mau saja di perlakukan seperti itu oleh gadis kampung itu."
"Kau iri padanya?"Tanya Eva yang ada di sebelahnya.
"Aku!!!" Sherly menunjuk dirinya."Iri pada wanita yang bahkan tidak sekelas dan selevel denganku!!! Bualan macam apa itu."Sangkal Sherly berlebihan.
'Padahal memang kelihatan sepert itu.' Seru Eva dalam hati.
Selesai makan.
"Hei pesuruh,bantu aku mengambil buku di perpustakaan.Banyak buku yang harus angkut."Darren sudah mulai memberi perintah lagi.Sebenarnya itu karena Darren risih dan Jimmy dan Calvin yang sepertinya sudah menyukai Ariel.
"Baiklah."Ariel berdiri lalu mengikuti Darren dari belakang.
Di perpustakaan Darren mengambil banyak buku dan menupukkannya di tangan Ariel.
"Berat tahu!! Jangan banyak banyak Darren."Protes Ariel yang mulai keberatan karena membawa banyak buku.
Darren tersenyum."Rasakan."Darren senang mengerjai Ariel.
"Hufttt."Ariel hanya bisa menahan kesal.Karena banyak tumpukan buku di tangannya,Ariel tidak melihat tali septunya sudah terburai,karena itu ia salah langkah dan menginjak tali sepatunya sendiri lalu.
"Aaahhhhh."Ariel hampir tersandung saat itu Darren berbalik karena mendengar suara Ariel.
"BRUKKKKK."Buku di tangan Ariel bertebaran dan berserakan di lantai.Yang lebih parah...Ariel yang juga ikut jatuh dan bahkan menimpa Darren.
Ariel yang jatuh di atas Darren tepat saat itu menimpa bibir Darren dengan bibirnya.
Darren dan Ariel sama sama kaget dan terbelalak.
'Bagaimana ini? Kenapa malah seperti ini!!!' Ariel gugup sendiri dalam hati lalu mencoba bangun senormal mungkin dan duduk.
"Maaf."Ariel dengan wajah tidak enak berkata seperti itu dan duduk di sebelah Darren sambil memunguti buku yang Darren ambil tadi.
Darren juga ikut bangun dan kaku.'Jadi seperti itu rasanya bibir wanita? Dan tadi itu ciuman pertamaku.'
Darren lalu bangun dan meninggalkan Ariel tanpa bicara sepatah katapun.Tidak ada yang bisa ia bicarakan saat ini karena tidak ada satupun yang bisa keluar dari otak dan mulutnya untuk di katakan.
Darren melangkah keluar dari ruangan perpustakaan sambil memegang jantungnya yang berdebar kuat itu.
"Tidak,aku harus pulang dan meminta dokter untuk memeriksaku.Harus!!"Darren masih kaku seperti robot dan terus berjalan.Ia tidak melanjutkan pelajaran dan memilih pulang kerumah.
Ariel melihat bangku Darren yang kosong di sebelahnya.'Kemana dia?? Kenapa lalu menghilang?' Ariel yang juga masih terganggu pada hal tadi memegang bibirnya dan mengingat lagi saat bibirnya bertemu bibir Darren tadi.Wajah Ariel seketika memerah dan panas.
Di rumahnya,Darren sedang di periksa oleh dokter keluarganya.
"Dokter,bagaimana keadaanku??"Tanya Darren sambil berbaring kaku di ranjang tempat tidurnya.
"Tidak ada yang salah denganmu,kau baik baik saja."Jawab dokter yang sudah mengabdi bertahun tahun pada keluarga Darren itu.
"Tidak,tidak mungkin."Sangkal Darren."Jantungku berdebar tidak karuan dan aku sesak nafas.Pasti ada sesuatu yang terjadi padaku."Terang Darren tentang apa yang di rasakannya.
Dokter itu lalu tertawa."Kalau dari gejala yang kau sebutkan,sepertinya aku tahu apa yang kau idap sekarang."
"Apa dokter? Apa itu penyakit langka??"Tanya Darren tegang sambil menatap dokter itu.
"Itu gejala umum saat kau jatuh cinta."Sahut dokter itu sambil mengemas alat dokternya dan meninggalkan kamar Darren.Membiarkan Darren menyadari apa yang di rasakannya.
"Tidak,tidak mungkin!! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada gadis itu!!!!"Darren menyangkal dan membenamkan wajahnya di bantal.