
Vivian membawa kabar duka yang mengejutkan.Ia sempat di larikan ke rumah sakit namun tidak terselamatkan.Calvin masih bergetar melihat dari kejauhan saat tubuh tak bernyawa Vivian sedang di tangisi oleh orang tuanya juga Ariel.
"GRAB."Darren ternyata ikut hadir di situ karena datang bersama Ariel begitu mendapat kabar buruk yang menimpa Vivian.Darren menepuk pundak Calvin.
"Kuatlah Calvin."Darren di perjumpaan pertamanya setelah sekian lama tidak bertemu dengan sahabatnya itu malah di pertemukan dalam kondisi seperti ini dan bahkan tergolong buruk.
Calvin masih shock berat dan bahkan tidak berani melihat jasad Vivian yang terbujur kaku."Ini salahku,semuanya salahku.Aku selalu membuatnya terluka dan menanti selama hidup.Aku tidak pernah menerimanya atau mencoba mengerti perasaannya.Tapi ia terus berbuat baik untukku dan berkorban untukku.Aku menyesal!!Aku menyesal!!Andai aku lebih baik padanya dan bisa menyenangkan hatinya.Aku hanya bisa menerima dan Vivian hanya bisa memberi.Aku adalah manusia yang buruk."Calvin lalu merosot dan terududuk di ubin dingin lantai rumah sakit itu.
Darren iku prihatin.Darren juga tidak bisa melakukan apa apa.Hanya bisa memberi kehadirannya yang mungkin tidak bisa membantu beban batinnya namun membuat Calvin tidak sendirian.
"Calvin,Darren."Jimmy tidak lama datang menyusul setelahnya.
Jimmy ikut berjongkok melihat Calvin yang terpuruk.Namun ia juga tidak lupa menyapa sahabat lama yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Darren."Jimmy menepuk pundak Darren.
Darren memberi senyum tipisnya."Apa kabar,sudah lama ya."Seru Darren yang cukup emosional saat A3 bersatu kembali walau dalam situasi yang tidak baik.
"Aku baik baik saja,kita harus bicara banyak nanti."Jimmy juga senang dengan perjumpaan dengan sahabat kentalnya semasa SMA itu.
Calvin masih menangis dengan suasana hati yang kacau.Kehadiran dua sahabatnya tetap tidak bisa menghiburnya karena kepergian Vivian.
***
"Vivian!!!!VIVIAN!!"Ibu Vivian menjerit histeris memanggil nama anaknya yang sudah tak bernyawa di ranjang pasien."BANGUN NAK!!!BANGUNNN!!!Bagaiamana bisa kau pergi sebelum ibumu!!Harusnya ayah dan ibumu yang pergi lebih dulu dan bukannya kau.Ibu tidak rela,ibu tidak rela."Ibu Vivian memeluk jasad Vivian berurai air mata.
Ariel juga ikut menangis dan hanya berujar keluh kesah dalam hati.'Ini semua salahku,tapi kenapa malah kau yang kena batunya Vivian.Andai saja skandal itu tidak terjadi.Ini semua tidak akan terjadi.Maafkan aku Vivian,aku tidak tahu bagaimana harus menebus dosaku padamu yang selalu baik padaku.Andai saja nyawaku bisa di tukar untukmu,aku rela Vivian.Tapi sekarang kau malah tidak membuka matamu lagi.Aku akan di hantui rasa bersalah seumur hidup.Inikah caramu menyiksaku dan memberi pelajaran padaku?Aku lebih senang jika kau bangun dan memukulku atau menghajarku seperti apapun akan aku terima tapi kenapa caramu malah seperti ini.Seakan luka tidak berdarah yang kau torehkan padaku.' Ariel juga sangat terpukul berat sebagai sahabat Vivian.Ia telah membuat Vivian pergi untuk selamanya dengan kematian yang tidak seharusnya seperti itu caranya untuk orang baik.
Baru beberapa saat yang lalu ia menemukan kebahagiaan saat bertemu Darren kembali,namun nasib baiknya malah terbalik dengan apa yang di dapatkan Vivian.
Kini kebahagiaan Ariel sudah sirna dan hanya berkabung duka.Jika saja memang bisa memutar waktu,ia tidak akan meninggalkan restoran itu juga memutar kembali kejadian di malam hari saat Calvin menciumnya.Ia akan menghindar dan tidak akan membiarkan Calvin menciumnya hingga semua ini tidak harus terjadi.
Tapi Vivian sudah tidak akan bisa bangun lagi sekalipun ia panggil jutaan kali.Kini Ariel harus kehilangan sahabat dekatnya saat kekasihnya kembali.
***
Sherly juga masih dalam kesedihan karena perselisihanya dengan Jimmy kemarin.Sherly sudah menerima kabar duka Vivian namun masih enggan untuk keluar.
Cinta yang tidak ada perkembangan dan hanya jalan di tempat.Perasaan palsu,senyum terpaksa,sentuhan yang di buat buat juga kasih yang di rekayasa.
Sherly duduk di kursi rodanya sambil memandang keluar jendela.
'Apa aku harus menyusul Vivian saja dan pergi bersamanya? Jika aku pergi sekarang mungkin aku punya teman dan tidak harus sendirian.Toh aku dan Vivian sama sama pecundang cinta.Kami hidup mengemis cinta dan kasih sayang dari pria yang tidak mencintai kami.Tapi kami terus menguras perasaan kami untuk mereka.Tapi aku masih tidak sanggup jika harus tidak melihatnya esok hari.Kakiku sudah lumpuh,jika hatiku juga lumpuh maka aku hanyalah raga tak berjiwa.' Di situasi ini,Sherly juga mulai mengkhawatirkan.
Tidak ada yang tahu isi pikirannya dan apa yang akan ia lakukan.
Ariel di rumah sakit juga mendapat serangan baru.
"BRUKKK."Ibu Vivian mendorong Ariel ke lantai rumah sakit itu.
"Kau pembawa sial!!!Karena kami memungut dan memeliharamu kau membuat puteri kami mati!!!Dia mati di restoranmu!!Harusnya kau saja yang mati!!Bukan anakku!!Dia masih punya orang tua yang mencintainya!!Tapi kenapa bukan nyawa sebatang kara sepertimu yang di ambil!Jika menolongmu hanya membuat aku kehilangan puteriku satu satunya,maka aku tidak akan pernah menolongmu!!Aku menyesal berbelas kasihan pada orang sepertimu!!Kau yang menyebabkan petaka ini!!Enyah kau!!"Ibu Vivian histeri bukan main.
Ariel hanya terduduk sambil menangis."Maaf bibi,maafkan aku."Ariel tidak menyangkal tuduhan pembawa sial yang di capa padanya itu.
Darren menyaksikan hal itu tidak bisa tinggal diam.
"Jimmy,tolong tenangkan Calvin.Ariel biar aku yang urus."Darren lalu bangun setelah mempercayakan Calvin pada Jimmy.
Jimmy mengangguk dan menyerahkan urusan itu pada Darren walau ia tetap memantau juga dari jauh.
"Ariel."Darren mendekat dan duduk di samping Ariel.Darren memegang kedua pundak Ariel dan berusaha membuat Ariel berdiri.
"Tidak Darren,biarkan aku seperti ini.Ini salahku."Ariel masih duduk dilantai dingin itu penuh penyesalan.
"Kau mau dekat dekat dengan gadis pembawa sial itu!!Kau tidak takut akan berakhir seperti puteriku itu!"Ibu Vivian masih emosi sambil bicara pada Darren.
"CUKUP!!"Bentak Darren dengan nada tinggi."Kau sudah keterlaluan pada Ariel!!Apa dia yang melempari anakmu batu!!Apa Ariel yang menyuruh ia menolong Calvin!!Semua itu kemauan anakmu dan takdir anakmu!!Dia yang memilih menolong Calvin dari lemparan batu itu!!Kau menyalahkan Ariel sebagai pembawa sial????Lalu kenapa baru sekarang Ariel membawa kesialan setelah selama ini baik baik saja.Kau hanya mencari pembenaran untuk diri sendiri dan mencari kambing hitam untuk kemarahanmu!!Sekalipun kau mencerca Ariel,anakmu tidak akan bangun lagi!!!Sebagai orang dewasa kau sudah keterlaluan dengan omonganmu!"Darren sangat marah besar pada ibu Vivian.
Ariel memandang wajah Darren yang sekuat tenaga membelanya.
Ibu Vivian juga akhirnya menangis tumpah dan di rangkul oleh suaminya.Ibu Vivian sadar jika ia telah kelewatan pada Ariel yang sudah sangat baik pada keluarganya.