A3

A3
SENIMAN TERKENAL



"Dia kira siapa lawannya ini hah!!!"Ariel menepuk dada membanggakan dirinya sambil berjalan menuju kelas.


Saat masuk kelas,hanya ada Darren yang menunggui kelas itu tanpa murid lainnya.Ariel berjalan ke arah Darren dan duduk di bangkunya karena mereka sebangku.


Darren pura pura tidak memedulikan kedatangan Ariel dan berfokus ke buku bacaannya.Ariel juga tidak bicara apa apa dan memasukkan seragam olahraganya ke dalam tas.


"Bau keringat."Darren menyindir Ariel sambil menaruh jari telunjuknya di bawah hidung.


Ariel lalu menatap Darren."Aku ini baru habis olahraga tentu saja bau keringat."Jawab Ariel dengan ketus.


Darren meletakkan bukunya."Pakailah parfum!! Kau lihat aku,walau setelah berolahraga aku tetap harum karena parfumku di beli khusus di Paris dan hanya di buat 20 botol di seluruh dunia.Wanginya tahan lama dan tidak akan hilang walau kau mandi."Darren memamerkan parfumnya,mengeluarkannya dan menyemprotnya.


Tiba tiba...


"Semprotkan padaku juga."Ariel mendekatkan dirinya pada Darren dan mencondongkan badannya pada Darren.


Seketika Darren berhenti bernafas karena Ariel sangat dekat dengannya dan menghadapnya.


Karena gugup dan berdebar tidak karuan,Darren tidak sengaja malah menyemprotkan parfum itu ke mata Ariel.


"Argggghhh!!! Perih."Ariel langsung memejamkan matanya dan menjerit kesakitan.


"A....Bagaimana ini."Darren ikut panik.


"Cepat tiup mataku bodoh!!"Bentak Ariel yang lebih galak saat ini.


Darren yang panik malah menurut dan segera memegang mata Ariel lalu meniupnya.Saat sedang meniup itu mata Darren malah tertuju pada bibir Ariel yang membuatnya gugup dan kesulitan bernafas.


'Apa itu,kenapa bibirnya indah sekali? Apa bibirnya sekenyal yang terlihat? Apa bibirnya sudah pernah di cium oleh orang?'Darren semakin kacau dan tidak karuan.


Darren lalu menghentikan aksinya dan mendorong kepala Ariel karena salah tingkah.Darren segera mengalihkan pandangannya kedepan.


"Kenapa sih kau ini?"Ariel protes lagi dengan apa yang Darren lakukan.Untungnya matanya sudah tidak perih lagi.


Tanpa bicara,Darren mengeluarkan dompet dari tasnya dan memberi Ariel uang yang cukup banyak."Ini gajimu."Darren menyodorkan uang itu pada Ariel.


Mata Ariel hampir melompat keluar karena tidak percaya dengan uang yang Darren berikan sebagai gajihnya sebagai pesuruh itu.Ariel menerima uang itu dan matanya masih tidak berkedip."Sebanyak ini gajihku?"


"Itu bukan apa apa untukku."Darren meninggi dan menyombongkan diri."Karena itu,kau harus tetap menjadi pesuruhku dan selalu berada di sisiku apalagi saat ini kakiku sakit,kau harus ekstra membantuku."


"Iya Darren,aku akan setia padamu."Jawab Ariel yang masih memandangi gajih pertamanya itu.


Darren tertawa.'Tunggu saja sampai saatnya nanti,saat aku mempermalukanmu habis habisan dan melenyapkanmu dari sekolah ini.Kau kira orang orang yang berani menentangku bisa selamat dan aku biarkan? Bodoh sekali aku yang bisa bisanya berdebar melihatmu.'


Sherly sudah keluar dari ruang UKS dan berganti seragam.Dari jauh Jimmy melihat sosok Sherly,gadis dambaannya itu.Segera saja Jimmy berlari mengejar Sherly.


"Sherly."Sapa Jimmy di samping Sherly yang berjajar sejalan dengannya.


"Ada apa."Sahut Sherly dengan malas karena moodnya sedang kacau balau.


"Tadi kau kemana? Kenapa menghilang saat jam olahraga?"Tanya Jimmy antusias.


Sherly lalu menghentikan langkahnya dan menatap Jimmy."Kau!! Tolong berhenti terus menggangguku,aku tahu bagaimana perasaanmu padaku.Tapi kau tahu sendiri kan aku tidak bisa membalasnya.Aku sudah lelah!! Lelah terus kau kejar!! Kau tahu kan yang aku sukai hanya Darren!"Sherly menolak Jimmy lagi.Setelah memperingatkan Jimmy tadi.Sherly berlalu begitu saja tanpa menunggu apa jawaban yang akan di berikan Jimmy.


Jimmy menunduk dan tersenyum lemah."Lagi lagi aku mempermalukan diriku sendiri.Aku bukan apa apa dimatanya dan tidak lebih dipandang sebagai seorang penganggu."Jimmy merasa hancur di dalam hati.


"Sudah."Calvin tiba tiba datang dan menepuk pundak Jimmy.


"Kau lihat semuanya?"Jimmy menatap Calvin yang sekarang rasanya ia bahkan malu untuk berkaca dan melihat dirinya yang di tolak oleh gadis yang di sukainya itu.


"Tentu saja.Aku jelas melihat kau yang melongo saat di tolak oleh Sherly.A...pasti sakit dan malu sekali."Calvin mengolok Jimmy dan memegang jantungnya.


"Aaarhhh Lepaskan bodoh!! Aku bisa mati."Calvin berusaha melepas tangan Jimmy yang menjepit lehernya.Jimmy balas dendam karena di olok tadi.


***


Ariel terus tersenyum karena bahagia mendapat gaji dari Darren.Ia bahkan bersenandung sambil mencatat.


Darren menatap Ariel.'Recehan sekali,begitu saja senang.Uang yang aku berikan padamu hanya setara uang untuk membeli tissue toilet di rumahku tahu.Kalau kau tahu semua uang yang aku miliki mulutmu pasti akan berbusa.'


"Kenapa kau melihatku?"Ariel malah memergoki Darren yang menatapnya.


Darren terperanjak."Ehem,itu setelah mencatat punyamu catat juga untukku."Kilah Darren.


"Baiklah." Ariel mengangguk.


"Sssttttt."Calvin yang di seberang Ariel memanggil Ariel.


Ariel segera menoleh dan tersenyum."Ada apa?"Tanya Ariel dengan suara nyaris seperti berbisik.


"Nanti pulang sama sama,aku membawa motorku.Ayo jalan jalan lagi,aku akan traktir makan yang enak."Balas Calvin dengan suara berbisik juga.


Ariel langsung bersemangat."Baiklah,aku setuju."


Melihat Ariel dan Calvin akrab seperti itu Darren jadi panas dan Dongkol.'Apa apaan dua orang itu!! Apa mereka pacaran!!! Jalan jalan segala!!'


Darren yang kesal lalu mengambil buku dan mencatat sendiri.


"Sini,"Ariel berusaha mengambil buku Darren.


"Tidak."Darren menahan bukunya dengan wajah masam dan memilih mencatat sendiri.


"Dasar aneh,tadi katanya menyuruhku."Ariel tidak mau ambil pusing dan terus mencatat.


Ariel melihat Shinie yang duduk di depan menjadi korban rundungan baru di kelas ini.Ia di jauhi kawan kawannya dan di tatap sini.'Salahmu sendiri sudah menggangguku dan sekarang kau menuai sendiri benih yang kau tuai.'Ariel malas ikut campur urusan orang lagi setelah kejadian waktu itu yang menimpanya.Saat ia berusaha membantu dan malah di salahkan.Ariel belajar dari pengalaman dan memilih diam.


***


Kelas senirupa tiba.Semua murid kelas A ke ruang praktik seni.


Di kelas kesenian hari ini mereka akan belajar membuat tembikar dari tanah liat.Dalam hal ini Jimmy tentu saja unggul dan sangat percaya diri.


Jimmy mulai membuat karya seninya karena seni adalah keahlian dan bakat alami Jimmy.


"Lihat karya Jimmy bagus sekali."Puji salah seorang murid yang melihat tembikar yang di buat Jimmy.


Jimmy tersenyum dan membanggakan diri dengan wajah song angkuhnya.Kali ini,ia jelas lebih unggul dari Darren.Sesuatu yang pantas di banggakan.Saat Jimmy melirik Sherly.


Sherly sedang berusaha dan hasilnya tidak buruk.'Dia memang serba bisa dalam segala hal.' Puji Jimmy dalam hati pada Sherly yang walau telah merobek perasaannya tadi.


"Waahhh,punya Ariel lebih keren dari milik Jimmy."Seru Eva sahabat Sherly.


Semua mata lalu tertuju pada Ariel setelah seruan itu.


Jimmy yang yang berfokus sekarang."Bagaimana bisa?"Jimmy kehilangan kata katanya saat melihat talenta lain Ariel yang tidak di sangkanya.


Ariel yang membuat tembikar itu tampak telaten dan mahir.Ariel lalu memandang sekelilingnya.Ia tahu sekarang ia menjadi pusat perhatian sekarang."Ini bukan apa apa,dulu di sekolahku yang lama kami juga ada pelajaran seperti ini walaupun sekolah desa.Temanku bahkan ada yang lebih mahir,itu semua karena guru senirupa kami dulu adalah tuan Wang LeeHom."Tukas Ariel.


Jimmy lalu berdiri dari tempatnya duduk."Wang LeeHom katamu? Bukankah dia seniman tembikar terkenal yang bertahun tahun telah menghilang itu? Jadi dia menghilang dan pindah ke desamu?"Jimmy lalu tertarik setelah mendengar nama seniman terkenal yang di sebut Ariel tadi.


"Tepat sekali,itulah dia.Dia lelah dengan ketenaran dan mencari ketenangan.Karena itulah dia pindah ke desa.Nyatanya materi yang berlimpah juga tidak membuatnya bahagia."Sahut Ariel santai.