A. N. S

A. N. S
Masa Kuliah Itu Juga Indah



"Heihhh....anak culun gak tau diri main nyelonong aja kamu !" Bentak Koma.


"Lhoh....emang ada yang salah dengan perkataanku. Kak ngaca dong,,,siapa juga kak yang punya perasaan ke kak Koma. Kak Koma hanya salah persepsi kak. Mohon maaf, itu surat cinta bukan saya yang buat. Teman kos saya yang buat, kak. Aku cuma kakak suruh baca aja kan." terangku.


"Tapi kan, kamu cinta kan sama Koma setelah itu ?" jawab Kina hingga menyengir bibir sebelah kanannya.


"Enggak kak. Sama sekali endak. Saya kuliah disini cuma pingin cari ilmu, kak. Tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian. Kalau toh, saya tersandung batu kalian, ya maaf." terangku.


"Yang bener ya, kelihatan sekali kamu sangat suka pada Koma." Kina masih menyudutkanku. Kelihatan tuh anak cinta mati banget nih sama pacarnya.


"Sudahlah, Kina. Orang sudah dijawab gitu. Masih nyengir aja." terang kak Ahmad sambil tertawa dan membetulkan ranselnya di pundak kanannya. Dengan maju dua langkah hingga mendekati tempatku berdiri.


"Ahmad, kamu suka ya sama nih anak."


"Aku hanya tidak ingin menyaksikan kebengisan kamu pada adik kelas yang kamu tuduh menyukai pacar kamu ini. Kalau menurut aku, dia lebih baik dari kamu. Kepribadian dan Sikapnya ke orang lain."


"Alah ngomong aja deh kamu suka sama tuh anak ?" Tunjuk Kina menandakan ketidaksukaannya padaku. Kontan saja seluruh isi ruangan menatap tajam ke arahku.


Mereka berbisik-bisik dan bertanya-tanya memastikan, benar ini aku yang membaca surat cinta yang paling romantis untuk Koma dikala OSPEK kemarin. Hahhhh....jadi terkenal dan piral deh. Akhirnya netijen tau keberadaanku siapa. Haduuuhhhhhh.....aku malu setengah mati.


"Hehehe....kamunya kelewat bucin, Kin. Bucinmu itu yang membuat kamu seperti itu. Hahh kelewatan kamu." sambil berlalu dari tempat kita berdiri, Kak Ahmad menghambur duduk di bangku temannya, namanya kak Hartono. Kemudian Kak Hartono tersenyum pada Kak Ahmad.


Dan sesekali mereka berganti memutar pandangan ke arahku. Mungkin mereka tanda tanya kali ya....hehehehe...


"Ahmad, kamu beneran suka sama tuh anak." tanya pelannya Kak Hartono ke kak Ahmad.


"Iya, sangat suka dengan kepribadian, sikapnya dan aqidahnya." sambil melirik ke arah tempat aku duduk, dan tatapannya tertangkap basah dengan netraku. Dia segera memalingkan mukanya ke arah Kak Hartono. Aku jadi malu, sembari digerecokin teman-teman.


Rasanya tidak hanya masa SMA saja yang paling indah. Secara Aku baru putus dari pacarku di SMA. Karena kita tidak satu kota lagi sedang ia memilih bekerja di kota ayahnya tinggal di Pasuruan. Dan ku katakan pada masa laluku, Bye Masa Lalu.


Rasanya menjatuhkan pilihan di kota Solo itu sangat indah, jauh lebih indah dari masa SMA dulu. Bismillah semoga aku lancar kuliahnya hingga nanti wisuda empat tahun lagi.... Hahaha masih lama doanya sudah terselipkan sekarang. Aamiin...


"Kenapa memangnya, Har."


"Oh tidak, aku hanya merasa penasaran saja. Seperti baru mengenalimu saja. Seorang Ahmad sedang jatuh cinta dengan adik kelas dan itu tak biasa."


"Tak biasanya, kenapa ?"


"Tidak pernah kan, seorang Ahmad menyamperi gadis seorang diri, malahan sering ketemu sama tuh gadis, mencari info ketika OSPEK dan hari ini ku tau seorang Ahmad membela di depan bucinnya kampus Pertanian. Haaaahahhaaaaaa." kata Hartana sambil tertawa lebar selebar daun pisang....