
"Ah ndak begitu juga sih." timpal Kak Ahmad.
"Kalau ndak demikian apa ?" tanya kak Hartono sejurus dengan perasaan yang terpupuk di hatinya bahwa ia sebenarnya juga ingin mengenal adik kelasnya itu.
"Aku hanya ndak suka saja sama Koma dan Kina. Mereka terlalu mengumbar bucinnya di kampus. Mereka kelewatan udah jelas-jelas itu di OSPEK, kok masih saja dibawa sampai dunia nyata. Itu kan OSPEK hanya di OSPEK."
"Iya juga sih." jawab Kak Hartono menyetujui pernyataan temannya itu.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 sudah saatnya masuk kuliah Ilmu Tanah I. Kami segera beranjak meninggalkan perpustakaan. 'Ku lemparkan senyum untuk kak Ahmad di seberang bangku itu, tanda aku mengucapkan pamit mau masuk kelas.
Seorang Ahmad membalas senyumanku dan mengangguk. Kemudian aku, berlalu dari hadapannya. Sedang dia baru menata buku kuliahnya dan hendak beranjak meninggalkan ruang perpus juga untuk mengikuti kelas mata kuliah Kultur Jaringan III.
"Falya...?" Tintin Sartini membuka pembicaraan kita sambil berjalan menuju ruangan.
"Apa..."
"Kamu suka sama Kak Ahmad." berhenti sejenak seraya mengamati Tintin dan aku melotot dibuatnya. Sambil meneruskan jalan di gang terowongan kelas.
"Emang kenapa...???"
"Enggak kenapa-napa sih, Fal. Kita cuma mastiin kamu sedang baik-baik saja." serobot Dew dengan menatapku menggoda.
"Wah teman kita Falya, sedang baik-baik saja kok. Malah jauh lebih baik dan sangat buaikkkk sekali hatinya. Iya kan, Fal ?" timpal Aw yang juga menimpali sekaligus menjawab pertanyaan menggoda Tintin.
"Hahh...kalian sekongkol menyerang aku. Gak lucu ah. Males jawabnya."
"Ayo jawab...kita kepo nih..."cubit Dew ke pinggangku.
"Aduh...sakit, Dew." yang punya tangan hanya tersenyum dan membuat isyarat dua tangan telunjuk dan jari tengah di keningnya. Pernyataan "Maaf...".
"Hahhaha.... kalau aku enggak mau jawab." sambil aku berlalu cepat dua langkah dari mereka dan menuju ruang kelas yang sudah ada dosennya. Hihhh telat semenit ndak papa dosennya juga sedang menyiapkan materi yang akan beliau sampaikan.
Sepuluh menit duduk. Kak Ahmad lewat di depan Jendela kaca kelasku. Netranya menangkap aku duduk di bangku tengah diapit oleh teman-temanku.
Netra kita saling bertatapan dan senyumannya aduhai Masyaa Allah menembus ruang hatiku yang sedang kosong.
Tiba-tiba bayangan gelap menutup netraku seperti lima jari sebelah kiri seseorang. Yaachhh ini sih tangan kirinya si Aw. Hadeuhhh ngganggu pandangan mata aja nih anak.
"Aw, hufttttt....."
"Ini waktu kuliah matanya ke depan kak, bukan keluar. " bisik AW sambil tertawa cekikikan.
"Hmm...iya Bu dosen. Sambil memilih mengikuti arah tangan kirinya menempatkan ke depan dosen Sus memberikan materi.
" Kamu namanya Falya, ya." Hah serta Merta dosen Sus menanyai aku. Gelagapan jadinya aku kan.
"I...iya pak. Itu nama saya. Ada apa Pak, apa saya membuat kesalahan?" tanyaku kepada pak dosen sambil terbata-bata takut saya membuat kesalahan dari kejadian barusan.
"Oh tidak, saya hanya mau bertanya. Tanah di daerah Ngawi itu jenis tanah apa ?"
tweng tweng twengggggg......hihhh pak dosen. ini baru pertama masuk kuliah sudah ditanyai jenis tanah.
Bismillah semoga jawabannya benar, sempat berkunjung ke kantor desa dua bulan lalu untuk mengajukan beasiswa prestasi.
" Grumosol, pak."
"Baik, kalau jenis tanah di daerah Wonogiri apa ?" tunjuk Pak dosen ke arah Tintin yang berasal dari Jatisrono Wonogiri.
Alhamdulillah selamat....selamat dari pertanyaan dosen Sus. Tidak malu-maluin deh....