A. N. S

A. N. S
Paranoid



Pagi hari nan cerah. Bunga cabai yang bergelantungan sudah memunculkan buahnya yang keriting ya itulah cabai keriting. Kalau munculnya kecil pedas itu cabai rawit. Beda gen dong.


Aku sudah siyap mengambil data untuk pengamatan tanaman sampel. Ibuk, Bapak dan Mas Ahmad, sengaja hari ini berhenti aktivitas ngantor dan pekerjaan rumah untuk membantu memetik hasil panen buah cabai pengamatan ke sekian untuk disetorkan ke perusahaan. Alhamdulillah hasilnya Masyaa Allah lumayan banyak mungkin kalau dijual ini pas harganya melejit melambung dan mahal di pasaran, bisa-bisa jadi kaya mendadak.


Kalau yang tanaman sampel tidak boleh diganggu gugat, tetap milikku yang hasilnya nanti jadi modal utamaku untuk penanaman trial selanjutnya. Deal deh.... Alhamdulillah.


Seneng rasanya dari sekian pengamatan hasilnya bagus, baik hasil selfing, persilangan ataupun tanaman yang bukan tanaman sample. Hasil cabainya semuanya bagus, merah mengkilat, tanaman bebas hama walau ada yang kena hama pada tanaman yang dijadikan sampel pengujian.


Hasil pengamatan yang membentuk kurva sesuai dengan jalur yang diamati akhirnya menghasilkan data statistik perancangan percobaan. Karena mas Ahmad sudah pengalaman masalah penghitungan data rancob alias perancangan percobaan, Alhamdulillah pengerjaan mudah tanpa aku harus memasukkan angka data untuk dimake up jadi data valid yang biasanya mahasiswa lain pakai jasa orang lain dalam pengerjaannya.


"Capek enggak, mas ? Lihatin data yang seabreg gitu ?"


"Enggak, sudah biasa sayang. " Jawabnya dengan tersenyum.


"Kalau aku udah mual, mas. Berasa pusing tujuh keliling mana di lahan dah panasnya membakar kulit. Nih kulitku jadi belang. Ihh enggak banget sih...!"


"Ya namanya skripsi emang gitu dong. Mana ada skripsi kulitnya jadi Putih. Tau gitu dulu kamu ambil ekonomi aja !" Sambil mas Ahmad memasukkan angka di program Excel. Aku juga ikut mendikte angka-angka yang telah teramati kemarin.


"Looi belum tau ya, mas. Dulu aku ketrima di perawat Umes sana. Kalau aku lanjut disana pastinya aku nggak kamu lamar. Nggak jadi istrimu seperti sekarang. Enggak harus nemenin kamu setiap malam !"


"Hah...benar kah ?"


"Iya. Coba tanya mas Mario."


"Kenapa Ndak dilanjut ? "


"Pingsan lihat darah orang kecelakaan."


"Hahahahhahhaahaaaaa......" Mas Ahmad senyum lebar dan sambil mengejek. Hiiihhh ketawanya aku nggak suka. Kelihatan banget ngece.com.


"87, 85 udah jangan ketawa, salah ketik, aku scores."


"Hahahaha, iya iya. Masak cewek tomboy takut darah. Beneran Ndak yang ku dengar ?"


"Ya sudahlah baca sendiri angkanya."


Coba pikir dehhh kalau kamu parno sama yang namanya darah segar mengalir bercucuran di dahi orang, apa aku harus melambaikan bendera setengah tiang, sambil berteriak WOIII AKU MENYERAH GITU....


Maluin kucing aja, malu setengah mati di ejek kayak gini.. dah pokoknya. Mana aku tuh sama darah pingsannya bisa sampai sehari. Mau dibaui pakai minyak kayu putih pun gak mempan.


"Alhamdulillah sudah selesai. Tinggal membaca hasil penelitian dan mencari literatur yang kuat untuk memperkuat pembahasan skripsimu, sayang."


"Alhamdulillah, makasih banyak Mas. Bisa mengirit ongkos make up in data. Cukup ke suami sendiri, ongkos make up datanya bisa buat jajanku."


"Iya sama-sama, sayang. Jajan....mu....!!!"


"Hehehehe....peace....jangan sewot dong. Aku Jajan pakai uangku sendiri, bukan jatah nafkahmu kalau gitu."


"Ingat, dik. Skripsinya belum tuntas. Masih butuh uang buat mengcopy enam skripsi, bensin pulang pergi ke sana sini, bayar wisuda, dan lain-lain. Berhemat dulu, ya. Gajinya mas habis gimana ?"


"Maaf...maaf... kelepasan ngomong. Epek gak pernah keluar jajan. Perlu diperhatikan istri juga manusia. Apalagi yang masih skripsi kebawa hawa di lahan mana gak pernah jajan. Wajib tuh disenengin istrinya, mas ! "


"Di sawah kan Ndak ada yang jual jajan, dik. Alhamdulillahnya...."


"Ihhh.... nyebelin."


"Dihemat...."


"Iya,...." Lihat saja besok kalau konsultasi dosen... Kebetulan posisi kampus dekat sama Alfamart. Aku puas-puasin deh jajan. Sudah sebulan enggak kota-kota ya manfaatin deh buat nyenengin hati sendiri.


"Kalau sudah selesai mau dibayarin pakai apa nih ?"


"Lhoh ehhh...kok gitu, mas ?"


"Make up data pakai jasa orang lain itu lima ratus ribu rupiah !!!" Ku lirik suami kecentilan ini...huft pakai bayar lagi.


"Kenapa Ndak bilang dari awal ?"