A. N. S

A. N. S
Pesertanya Melebihi Quota



Seneng deh rasanya, akhirnya bisa seminar awal. Yeayyyy....hatiku bersorak riang gembira. Seminar awal kilat tidak sekedar mimpi. Tapi di ujung jari. Impian nyata tercapai karena suami yang pandai. Thank's yaaaa sudah jadi pendamping hidup dan pendamping skripsiku. Allah menciptakan kamu bukan untuk jadi kakak kelasku tapi untuk kakak skripsiku.


Butway nih temen-temen yang di dunia nyata kalau ditaksir sama cowok kakak kelas ngajakin nikah hayukkkk gasss aja apalagi yang sefakultas. Jaminan skripsi kilat dan lulus cepat deh..... Eh nih kenapa Mak author malah pormosi yakkk... Yukk ah lanjut ke cerita....


......................


"Sudah siyap sayang untuk seminar hari ini ?" mas Ahmad memecah nervousku yang sedari tadi menata bahan bahan yang digunakan untuk seminar awal nanti.


Memang sudah sejak tadi malam belajar cuma dikit dan nyakmittt lebih banyak terima orderan dari konsumen. Hihihi....biasalah namanya marketing.


"Ya begitulah mas."


"Soalnya dari kemarin aku lihat kamu belajarnya sama konsumen benih kamu enggak di materi seminar kamu. Bener kamu sudah siap, sayang ?"


"In Syaa Allah, mas. Kok nanyanya gitu ya, menyangsikan kesungguhanku memahami materi ?"


"Enggak, gitu. Dari kemarin siang kamu kan sibuk ngobrol sama distributor toko pertanian dari mana saja itu. Saking asyiknya suami sendiri duduk disampingmu aja kamu gak refleks !"


"Ohhh ....maaf mas. Hehehehe....jadi ceritanya cemburunya tumbuh lagi nih...!"


"Ya pegel dik, kamu acuhin. Malah ngobrol sama laki-laki lain."


"Astaghfirullah iya deh iya maaf. Nanti kalau terima telfon pas Ndak ada mas ya, boleh ?" godaku.


"hhhhmmmm.....!!!" rengkuhan halus tangannya mendarat ke kepalaku.


"Kamu nervous enggak, sayang ? Yang datang ke Seminarmu pasti anak-anak selevelku. Kayak Koma, Eko gondrong dan cungkring. Kamu siyap menghadapi lawan yang telah kamu jatuhkan dulu ?"


"Siyap, In Syaa Allah siyap mas. Kan ada Mas Ahmad. Kalau aku tidak bisa menjawab, Mas Ahmad yang harus bantuin. Awas kalau enggak. Senapan Laras panjang akan menghunusmu sampai rumah nanti....!!!!"


Mas Ahmad tambah mengeratkan pelukannya yang belum sempat ia lepaskan tadi.


"Kamu tuh bener-bener istri yang suka nyenengin suami ya...!"


"Enggak juga. Tergantung juga Ding." aku segera memasukkan transparansi materi dari bab satu hingga tiga dan membawa literatur pemerkuat judul skripsiku.


"Aku sayang sama kamu, Fal. Semoga lancar ya seminarnya!"


"Nanti ikut masuk ke ruangan kan mas ?"


"Kalau aku ikut seminarmu kamu nanti grogi malahan. Gimana..."


"Yaaach....ya Ndak mungkin lah. Falya Lo mas. Tiap hari ngadepin orang banyak. Apalagi kok cuma suami. Pastinya aku malu. Tapi ikut ya,,,please. Takutnya entar kalau ada Koma. Ya...???" rengekku.


"Iya,,,iya istriku sayang. Ayo berangkat jangan lupa baca doa sebelum berangkat. Pamit Bapak Ibuk sama dulu, mas tungguin kamu di depan. Sambil menyiapkan sepeda."


"Baik, juragan."


"Hemmm....Falya...Falya...lihat aja entar malam...!" sambil aku berlari menuju ke arah dapur dan pamit Ibuk dan bapak mertua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari masih pagi masih syahdu untuk menaiki roda dua bersama dia. Masih dingin merambat di pori-pori tangan. Beruntung kamu punya tubuh gendut. Dia tanganku bisa merengkuh pinggangmu dan mengurangi rasa dingin perjalanan menuju Solo ini.


Sesampai di kampus Pertanian. Bener dugaan suami, ada teman-teman angkatan tua sedang berkumpul di area pintu masuk. Mereka terlihat terlalu antusias mengikuti seminarku.


"Makasih, mas."


"Hai Mad....wah...kayak pengantin baru aja kalian. Kemana-mana gandengan."ejek Koma.


"Kayak truk gandeng aja, Mas !"tambah pacarnya yang kecentilan itu.


"Sudah Ndak usah didengerin, disenyumin aja." bisiknya kembali.


Mas Ahmad hanya melempar senyum ke arah mereka ganks nya Koma dan Toko mas jalan. Hihihi...entahlah aku lupa namamu pacarnya Kak Koma.


Mas Ahmad menggandengku dan mengantarku ke kantor TU. Kemudian mengurus tempat untuk seminar. Mengajakku untuk menemui dua dosen pembimbing. Setelah selesai baru naik ke atas mempersiapkan tempat seminar, mulai membawa OHP. Mas Ahmad yang menyiapkan. Masyaa Allah sampai segitunya.


"Tanganmu dingin. Kamu canggung, kamu gemetar ya, istriku sayang ?"


"Hahh...apaan sih mas." sambil mas Ahmad mendekatkan senyumnya di wajahku.


"Masak seorang marketing handal, Ketemu sama Koma dan pacarnya saja Mati Kutu ?"


"Hahhhh kamu meledekku, mas !"ku cubit perutnya kencang-kencang hingga dia mengaduh perlahan.


"Aduh, sakit Fal."


"Ya mas sih ngejekin melulu."


"Daripada kamu sepaneng."


"Yaa Allah kalian mesra banget di kampus." Potong mbak Wahyu. Temannya mas Ahmad selevel yang juga datang untuk mengikuti seminarku. Yaa Allah ini banyak amat yang jadi peserta seminarku bisa-bisa Ndak muat nih ruangannya.


"Eh Wahyu, kamu datang juga."


"Iya dong, mau lihat adik kelasku. Yang dulu jadi mahasiswi terpandai saat penelitian di kelas pemuliaan tanaman yang aku asisten i." jawab mbak Wahyu.


"Terima kasih ya sudah datang dan jadi peserta seminar istriku." sambil mas Ahmad merengkuh pinggangku untuk dekat dengannya.


"Iya, sama-sama. Aku tinggal dulu ya. Dah lanjut bermesraannya." sambil meninggalkan kami berdua.


"Hei Fal...sudah siyap belum ini. Pesertamu banyak banget Fal. Ngeri lihatnya... !" Tintin, AW, Dewi, Betta, Gendut datang hampir bersamaan. Entah dari pintu mana mereka keluar.


Mas Ahmad kemudian meninggalkanku bersama teman-temanku, ia ikutan nimbrung di temannya angkatan lama. Ada kak Hastudy, kak Suryo dan lain-lain.


"In Syaa Allah siyap."


"Kamu sudah belajar?" tanya Tintin


"Ya begitulah.."


"Eh kamu tau, Fal. Yang datang ke Seminarmu itu rata-rata kakak kelas dulu yang kamu bantai." informasi dari Betta


"Iya benar, Falya. Tuh ada Koma dan genks nya !" timpal Dewi.


"Gak papa ya, Fal. Ada Mas Ahmad yang mendukungmu. Hidup Mas Ahmad!" teriak AW.


"Apaan sih kamu, W." senyum malu-malu kucing aku dibuatnya. Untung saja yang jadi bahan pembicaraan gak denger. Sambil ku lirik dia dimana. Dan dia melambaikan tangan kanannya ke arahku dari lantai bawah sana.