A. N. S

A. N. S
It's Too Long



Hari pertama aku menikah dengan kak Ahmad. Canggung juga sih menyatukan dua orang yang berbeda karakter dalam satu ikatan janji suci pernikahan.


Antara biasanya hidup seorang diri kini harus hidup satu kamar berdua dengan laki-laki yang sudah sah jadi suamiku. Dulu tidur bebas lepas sama guling, sekarang tempat tidur dibagi dua.


Dulu mau tidur gak beraturan bebas lepas mau posisi jengking miring tengkurap biasa ajah. La sekarang harus ditata tidurnya lebih sopan. Kalau ketauan ngorok malu kan.


Antara haru, malu dan canggung. Mulai harus bisa mengalah gak boleh egois. Pulang kuliah dijemput sudah tidak kos lagi. Kalau biasanya sepulang kuliah langsung tidur ini beda lagi ceritanya.


...----------------...


Aku sudah menunggu Mas Ahmad di kamarku sejak tadi. Ia baru masuk ke kamar karena masih menunggu teman-temannya pamit dari rumahku. Aku capek mengikuti prosesi pernikahan yang sakral tadi pakai adat Jawa.


Diantarkannya aku ke kamar dulu, begitu sangat perhatian banget. Sangat care ternyata. Masyaa Allah. Tidak salah Allah memilihkan jodoh untuk aku seperti Mas Ahmad ini.


"Kamu di kamar aja dulu Ndak papa. Capek banget kamu kelihatannya dari tadi pagi sampai jam 13.00 belum istirahat. Aku menemui teman-teman dulu. Tunggu aku disini ya, sayang. Kamu cantik banget." hhmmm...aku mengangguk sambil tersenyum. Makin deg degan aja nih jantung berdebar tak hentinya aku menghela napas.


"Assalamu'alaikum, sayang lagi ngapain nih. Sudah siyap jadi istriku ?" sapa lembut Kak Ahmad masuk dalam kamar pengantin. Hehehe kamar yang biasa aku buat tidur. Yang pengantinnya antara aku dan Mas Ahmad.


"Wa'alaikumussalam warrohmatullah, mas. Kalau aku bilang belum siyap, gimana ?"


"Ya ndak papa, mas tunggu siyapnya kamu."


"Ndak marah, mas."


"Enggak, tapi asalkan aku boleh nyium kamu."


"Iya boleh. Tapi yang itu aku belum siyap. Maaf, bukan aku menolak mas. Sebenarnya aku juga takut dosa menolak suami. Tapi..aku..." belum selesai ngomong Mas Ahmad yang sudah menghalalkan aku segera mencium pipi dan keningku. Astaghfirullah aku kaget, nih orang ganas banget. Hiii jadi semakin belum siyap aja.


"Kenapa...belum siyap."


"Aku belum mau progam hamil, mas. Maaf ya..." mas Ahmad kembali tersenyum melunakkan hatiku. Kok enggak marah ya, sabar bener nih orang. Biasanya kata laki-laki di luar sana kalau enggak dapat dari istri dia merasa marah. Alhamdulillah Kak Ahmad enggak ya.


" Masih kuliah semester 6, masih ada tugas negara disamping tugas MPR yang Ndak boleh ditolak. Sebenarnya."


"Hiiiiiiiiiiiii hi hiii... Malah belajar PPKN."


"Tugas kamu nanti mas yang ngerjain. Seperti tugas makalah dan presentasi dari Dosen Lis. Kamu skripsi dan penanaman crop buat penelitian. Itu tugasku. Tugas istri hanya bantuin aku."


"Ya...itu termasuk di dalamnya. Boleh gak aku tawar..."


"Nawar apa...aku Ndak jualan loooo dik."


"Kita nglakuin itu nanti pas selesai sidang pendadaranku. Hehhee...." sambil aku menggoda kak Ahmad.


"It's too longgggg...... Dan luammmaaa.... Puasa noooo aku jadinya.... Apa kita boboknya sendiri aja...."


"Lhohh kok malah jadi pisah ranjang sih.... Ya aku maunya boboknya ada yang nina bobokin aku. Mijitin aku. Ada yang melukin gitu. Kan aku tipe orang susah tidur." sambil aku menggantungkan baju pengantin dan mahkota hingga baju adatnya. Terasa berat dan capek pakai baju adat.


Dan begitulah.........


......................


Enaknya lagi aku bikin makalah enggak pusing lagi. Makalah yang sudah ada literaturnya lengkap. Kak Ahmad yang ngerjain. Aku tinggal tidur sudah selesai. Besoknya aku pahami sebentar sudah jadi deh. Semoga presentasinya lancar.


Hari ini tepat hari aku ditagih Pak Lis makalahku. Kak Ahmad membangunkan aku untuk sholat tahajud jama'ah.


"Dik, Ayo bangun. Waktunya tahajud. Makalah kamu sudah selesai tuh. Nanti kamu pelajarin ulang kamu pahami biar lancar presentasinya."


"Iya, mas. Makasih banyak, ya. Aku mandi dulu."


Aku beranjak menuju kamar mandi di dalam kamar itu. Selepas itu wudlu dan sholat tahajud jama'ah bersama mas Ahmad. Begitulah hari-hariku bersama Mas Ahmad. Pernikahan yang sudah terjalin selama lebih Dua Minggu. Hingga aku diboyong ke rumahnya dengan diantar rombongan tetangga dan teman-teman.