
Suasana jalanan sedikit rame karena jam kantor. Kadang di lampu lalu lintas terlihat anak muda ngamen sambil nggodain. Saat melintas di jalan raya, aku belum bisa relaks dan mendekapkan kedua tanganku di pinggangnya untuk berpegangan.
Masih belum bisa dan belum terbiasa. Entah kapan terbiasanya. Masih ada rasa malu. Padahal pernikahan kami sudah berlalu dua Minggu lebih. Harusnya aku sudah bisa beradaptasi dan menganggap dia bukan orang lain lagi.
Terkadang masih mesranya belum terlihat. Masih dingin seperti mas Ahmad mengenalku pertama kali.
Tiba-tiba ada tragedi, mas Ahmad oper rem mendadak karena menghindari sepeda ibu-ibu yang melintas ngawur di jalan raya depannya.
Dan tak bisa berpikir lama, refleks aku menggelayutkan kedua tanganku di pinggangnya dan telapak tangan kanan dan kiriku bertemu di perut depannya. Kak Ahmad lalu merasa ada yang mendekap perutnya.
Ia lirik sebentar tanganku yang bersedekap di perut depannya. Ia tersenyum bahagia seraya membalas dengan dekapan tangan kirinya. Lalu tangan kirinya segera memegangi setir sepedanya kembali, agar tidak oleng.
"Wah...nanti malam aku dapat apa, ya... Seperti ini juga boleh." spontan tangan kananku mencubit perut belakangnya. Dan ia meringis merasa kesakitan dengan cubitanku.
"Aduh sakit sayang. Duh nanti mesti lebam gosong kebiru-biruan perutku."
"Itu tanda sayang, mas. Dariku untuk suamiku tercinta."sambil aku meringis di boncengannya.
Mas Ahmad tersenyum dan ia berpikir, ia sudah bisa memeluk hati istrinya itu.
Perjalanan Klaten Solo tidak begitu jauh. Alhamdulillah sampai di Kampus pukul 08.15. Kebanyakan masih di kelas semua. Untung aku tidak ada kuliah di jam pertama.
"Alhamdulillah sudah sampai. Turun enggak ya ini. Apa masih mau ku bonceng dengan posisi seperti ini ? Biar teman-teman kamu lihat atau gebetanmu dulu yang ada di fakultas teknik merasa kehilangan ceweknya, karena sudah aku nikahi ?" goda Mas Ahmad yang menggodaku lagi. Pinter juga nih orang berkelakar. Pintar melucu dan pintar bercanda.
Jujur aku semakin cinta sama ini orang, tapi bete buat mengakuinya.
"Itu anak teknik, tuh tuh lihat. Lihatin kita yang sedang bermesraan. Eh ada Agus teknik Sipil tuh, di basecamp mapalanya." goda mas Ahmad untuk ke sekian kali berkelakar.
Ia mengelus dada dan beristighfar di hatinya. Mungkin ia harus benar-benar menjaga istrinya. Gadis tomboy yang sudah jadi kesayangannya tapi masih banyak cowok-cowok yang melirik istrinya. Bikin kesal aja batinnya. Cincin sudah melingkar di jari manis, masih saja Ndak kelihatan ta kalau ia istriku.
"Awas ya nanti sampai rumah aku marahin kamu !" benaknya berkata untuk memarahi istrinya. Tapi kasihan masa mudanya sudah ku nikahin. Ia ikhlas. Masak iya aku harus terlalu protektif. Over protektif. Aku terlalu cemburu dengan laki-laki yang dekat dengan istriku katanya dalam hati.
" Sayang,,,"
"Apa mas ?" sambil menata tugas makalah itu tadi. Aku menatap Mas Ahmad yang gelisah.
"Mas kenapa gelisah ?" sambil ku pegang tangan kanannya. "Apa sakit ya ?" aku keheranan. Tadi baik-baik saja kenapa tiba-tiba gelisah.
"Mas, takut kehilangan kamu !!"
"Yaa Allah mas, sampai segitunya. Buang jauh-jauh pikiran itu. Kan mas sudah nikahin aku, sudah ada cincin melingkar di jari manis ini. Apa iya aku meninggalkanmu. Ada-ada saja mas Ahmad ini."
"Oiya aku tau, Mas Ahmad terlalu posesif sama aku dan terlalu cemburu sama aku."
"Aku sayang sama kamu, melebihi apapun juga." Terangnya.
"Iya mas, Aku paham dan aku juga tau. Aku bisa jaga kepercayaan yang mas Ahmad berikan ke aku. Dah ahhh mau masuk kampus mas. Mau Konsul dosen Lis."
"Temenin enggak ? Atau aku menunggu di perpustakaan aja ya."
"Temenin mas..." sambil merajuk akunya. "Pastinya aku di gojlokin sama dosen-dosen."
" Ya udah, yuk. Kita masuk."