
Aku segera ambil wudlu di tempat wudlu perempuan, sedang mas Ahmad di tempat jama'ah. Masih terbersit marah yang tadi, tapi ku hempas dulu. Ini mau ibadah, aku tidak mau mengotori ibadahku berkalang dosa.
Setelah wudlu lalu masuk masjid menunaikan sholat dhuhur jama'ah di dekat fakultas ekonomi. Kampus adiknya mas Ahmad. Ku lihat Mas Ahmad ketemu adik ipar. Mengucap salam dan mencium tangan kakaknya. Setelah selesai sholat jama'ah, aku melipat mukena dan merapikan kerudung serta membenahi sedikit dandananku yang luntur sejak pagi tadi berangkat dari rumah. Biar tambah wangi aku pakai roll on dan parfum minimalis. Ku poles wajahku dengan bedak dan pakai lipstik tipis. Alhamdulillah sudah seger badanku. Agar enak dilihat. Hehehe. ...
Keluar masjid sudah pakai kaos kaki tinggal pakai sepatu. Pingin main ke kos Beta. Diijinin enggak ya. Coba deh aku minta ijin. Di depan teras masjid aku sudah ditunggu mas Ahmad. Duduk disampingnya pakai sepatu.
"Masyaa Allah cantik dan wanginya istriku ini. Bikin mau nyium dikit. Dikit aja ya, boleh ?" Sambil mendekatkan wajahnya ke pipiku. Aku menarik wajahku sambil membenarkan sepatu ketsku.
"Masih marah..." Tanya mas Ahmad.
"Mas, aku minta izin boleh. Mau ke kos Beta. Mas Ahmad boleh pulang. Aku tak tidur di kos Beta. Lagian besok masih ke kampus."
"Hah....enggak boleh. Aku Ndak ngijinin. Ayo pulang." Jawabnya tanpa ada basa-basi gimana gitu. Ya udah aku ndak bisa mengelak. Dan ndak bisa membantah. Perintah suami harus ditaati. Aku mengikutinya dari belakang. Halah entahlah jadi males gini mood ku.
"Ahmad ...kamu kok di kampus. Ada urusan apa ?" Teriak dosen Ongko ketika hendak menuju mobil beliau. Yang ditanya segera menghampiri dosen terbaik itu sambil menjabat tangan beliau dan memeluk beliau. Akrab banget sama para dosen. Iya lah...dia kan asisten dosen teraktif untuk semua mata kuliah. Keren Masyaa Allah. Pasti dikenal oleh semua dosen.
"Nganterin istri mengajukan skripsi, Pak."
"Mana istrimu, lhohhh istrimu itu Falya." Beliau melirik aku dan menjabat tanganku. Kaget heran dan bertanya-tanya beliau. "Ini beneran istrimu, Mad ?"
"Iya, pak. Kita sudah menikah." Sambil meraih tangan kananku dan menggandengnya.
"Selamat ya, Maaf Bapak Ndak tau."
"Iya, pak. Ndak papa. Minta doa restunya saja, Pak."
"O iya pastilah itu. Semoga langgeng ya."
"Aamiin yaa robbal'alamin" kemudian Pak Ongko masuk ke mobil beliau dan melaju.
Aku digandeng Mas Ahmad menuju parkiran sepeda kita. Iya pakaikan jaket untukku setelah itu memakai jaketnya. Iya pakaikan helmku. Dan menyuruhnya menunggu di depan sana.
"Ayo naik. Kita pulang. Atau kemana ?" tanyanya mencoba membuka pintu bicara.
"Enggak kemana-mana, langsung pulang aja !"
"Enggak pegangan lagi...tangannya."
"Enggak di posisi darurat." Jawabku singkat dan ia tersenyum pingin menggelitikin aku. Saking gemesnya.
"Apa lihat-lihat sambil tersenyum?"
"Enggak. Lihatin istri sendiri aja ndak boleh. Ya sudah aku lihatin cewek lewat aja. Mereka lebih cantik."
"Masak. Beneran ...coba deh entar...!" Hemmm tak marahin entar sampai rumah. Aku kembali diam. Gak mood banget. Pingin marah pingin ngomel pingin menjerit. Kebiasaan lama. Biasanya kalau kayak gini. Aku terus diajakin jalan-jalan sama Gendut dan ditraktir mie Gajah. Hiii enaknya .... Tapi gak seromantis dulu padahal bukan pacar dulu. Cuma teman Deket.
Sekarang udah Ndak boleh boncengan sama Koko Gendut. Yang ada ini Gendut beda orang. Kak Ahmad. Nggak seromantis Gendut yang Koko. Hihihi... Wah dosa nih aku masih memendam rasa ke lelaki lain.
"Ayo makan dulu kita, lapar. Terakhir makan kamu siapin tadi pagi." Hah aku bangun dari lamunanku. Kok dia tau ini tempat favoritku. Mie Gajah Gajahan. Apa dia bener bisa baca pikiranku. Huft.... Jadi malu.
"Iya."
"Duduk sini aja ya. Kayaknya panas didalam. Disini saja bisa lihatin kemana-mana." Sambil menggeserkan kursi buat aku duduk.
Benar-benar dia memperlakukan aku istimewa. Dan dia sampai tau, bangku yang sering aku duduki ketika jalan sama Gendut.
" Ini mas, mienya. Minumnya cuma es teh aja ya 2 gelas." Terang mas nya yang nyuguhin dua mangkok mie itu.
"Looo mbaknya yang sering kesini itu, ya. Kok mas nya yang Gendut itu ndak diajak mbak ?" Hiyahhhh mati kutu deh akuhhh...
"Sering kesini sama Gendut." Tanya mas Ahmad.
"Iya."
"Ayo dimakan, apa perlu disuapin ?" Mas Ahmad Ndak menghiraukan perasaannya mungkin saat ini ia menutup rapat kecemburuannya. Hingga dia memberanikan diri untuk berdamai dengan keadaan.
"Iya, mas. Terima kasih. "
" Beneran, minta disuapin. Hehehe...?"
"Terima kasih sudah diajakin kesini. Ndak perlu disuapin kayak anak bayi saja."
"Kamu ibunya anak bayiku. Calon maksudnya.."
"Hahhh....enggak mau. Itu urusan belakangan. Aku nggak mau hamil dulu." Hooohh muntab deh esmosiku.
"Iya,,,iya ayo dimakan. Jangan berantem disini. Malu dilihatin orang." Kemudian aku makan walaupun ada rasa malu makan berhadapan dengan suami sendiri. Alhamdulillah akhirnya habis juga. Alhamdulillah kenyang.
"Kelihatannya lapar bener nih istriku." Ledeknya.
"Iya lapar banget, pingin juga memakan kamu, mas." Jawab ketusku.
"Iya, sabar. Tunggu sampai rumah ya, sayang. Hehehe.... Tau gini aku dulu segera nembak kamu nikahin kamu di semester awal."
"Mulai lagi membuka cerita lama. Sudah deh stop jealous...!!!!" sambil aku mencibir.